Amanahrakyat's Blog

Just another WordPress.com site

Mengenal CSIS, Lembaga Pendukung di belakang ‘Salam Gigit Jari 2’

Hasil gambar untuk sofyan wanandi, harry chan silalahi

“But, maybe Benny’s biggest nemesis was Soeharto son-in-law, Prabowo Subianto.”

(Jusuf Wanandi, Shades of Grey, hal. 240)

“Saya menganggap lawan utama Benny adalah Prabowo Subianto, menantu Presiden Soeharto.”

(Jusuf Wanandi, Menyibak Tabir Orde Baru, hal. 327)

Dari hasil debat kemarin rakyat Indonesia bisa menyaksikan bahwa Jusuf Kalla adalah pihak yang mendominasi dan menguasai materi debat sedangkan Jokowi tampak seperti anak kecil yang dalam setiap ada kesulitan selalu mencari perlindungan ke orang tuanya. Sudah sah dan meyakinkan bahwa Jokowi adalah boneka, tapi boneka siapa? Melihat komposisi pendukung Jokowi rata-rata pendukung Benny Moerdani seperti Luhut Panjaitan; AM Hendropriyono, Fahmi Idris, Tempo, The Jakarta Post, dll maka tidak ada kesangsian bahwa Jokowi adalah produk CSIS, yang mana ketika masih hidup, Benny Moerdani adalah anggotanya.

Siapa CSIS dan bagaimana sepak terjangnya sudah sering dibahas mulai dari awal pembentukan sampai tersingkir dari Orde baru sampai ketahuan berniat melakukan revolusi untuk menjatuhkan Presiden Soeharto. Tulisan ini berniat membahas sedikit mengenai organisasi rahasia di belakang Jokowi ini.

Hasil gambar untuk sofyan wanandi, harry chan silalahi

Embrio CSIS adalah KAP-Gestapu yang melawan PKI pasca G30S/PKI, dan menariknya dalam salah satu dokumen CIA yang berstatus declassified atau dikeluarkan dari status rahasia sehingga bisa diakses publik diketahui bahwa CIA menyalurkan dana sebesar Rp. 50juta kepada KAP-Gestapu sebagai dana perang melawan PKI. Rp. 50juta untuk ukuran sekarang tentu tidak berarti banyak namun untuk ukuran zaman itu sangat besar, sebagai perbandingan, uang pensiun Bung Hatta sebagai wakil presiden saja perbulannya hanya Rp. 115.000,00/bulan (selengkapnya lihat Surat Bung Hatta kepada Soekarno tanggal 1 Desember 1965).

Yang menarik bukan hanya jumlahnya yang besar, tetapi juga alasan CIA menyalurkan dana perang kepada KAP-Gestapu dan bukan kepada TNI yang juga berjuang melawan PKI, melalui Pangkostrad Mayjend Soekarno misalnya. Kita baru mengerti alasannya ketika mengetahui bahwa pemimpin KAP-Gestapu yaitu Sofjan Wanandi; Jusuf Wanandi; Harry Tjan Silalahi adalah murid Pater Beek, agen CIA di Indonesia yang menerima tugas untuk mempersiapkan kelompok perlawanan terhadap komunis. Selanjutnyanya sejarah mencatat anak-anak KAP-Gestapu berkenalan dengan intel paling unik di Indonesia, Ali Moertopo.

Setelah PKI dikalahkan, anak-anak Kap-Gestapu tersebut bersama Ali Moertopo dan Soedjono Hoermardani membentuk lembaga pemikir (think-tank) yang sekarang dikenal dengan singkatannya saja, CSIS. Pendirian CSIS tentu tidak lepas dari tangan Pater Beek namun untuk alasan yang dapat dimengerti nama Pater Beek tidak pernah muncul secara resmi sampai mantan muridnya George Junus Aditjondro membuka rahasia keterlibatan agen CIA dalam pendirian CSIS.

Dalam perjalanannya nama CSIS sering dicatat berdekatan dengan berbagai kerusuhan dan vandalisme negeri ini, misalnya massa tidak dikenal yang menunggangi aksi mahasiswa pada 15 Januari 1974 adalah massa Guppi yang dilatih oleh Ali Moertopo di gedung CSIS dengan tujuan mendiskriditkan saingannya, Jenderal Soemitro. Nah, ketika dikonfrontir tentu CSIS membantah mereka terlibat Malari 1974 dan sampai saat ini kubu CSIS dan Jenderal Soemitro terus saling tuding tentang siapa yang bersalah dalam Malari.

Sebagaimana dikutip dari Majalah Gatra edisi 31 Januari 1998 sekali lagi tudingan CSIS terlibat tindak teror dan intimidati terjadi kembali tepat 24 tahun plus 3 hari setelah Malari atau tanggal 18 Januari 1998 ketika terjadi ada bom yang salah rakit meledak di Tanah Abang Jakarta, dan penyisiran oleh aparat keamanan di lokasi menemukan dua dokumen yang kembali mengkaitkan personil CSIS dengan teror-teror bom yang melanda Jakarta saat itu, yaitu berupa email dan dokumen notulen rapat di Leuwiliang, Bogor, 14 Januari 1998.

Bunyi email tersebut adalah sebagai berikut:

“Kawan-kawan yang baik! Dana yang diurus oleh Hendardi belum diterima, sehingga kita belum bisa bergerak. Kemarin saya dapat berita dari Alex [Widya Siregar] bahwa Sofjan Wanandi dari Prasetya Mulya akan membantu kita dalam dana, di samping itu bantuan moril dari luar negeri akan diurus oleh Jusuf Wanandi dari CSIS. Jadi kita tidak perlu tergantung kepada dana yang diurus oleh Hendardi untuk gerakan kita selanjutnya.”

Sedangkan dokumen notulen berisi pertemuan orang-orang yang mengaku sebagai “kelompok pro demokrasi” yang berlangsung di Leuwiliang, Bogor, 14 Januari 1998 yang dihadiri oleh 19 aktivis mewakili 9 organisasi terdiri dari kelompok senior dan kelompok junior yang merencanakan revolusi di Indonesia. Adapun yang dimaksud sebagai kelompok senior adalah:

Pertama, CSIS yang bertugas membuat analisis dan menyusun konsep perencanaan aktivitas ke depan.

Hasil gambar untuk lb moerdani luhut

Kedua, kekuatan militer yang diwakili oleh Benny Moerdani.

Hasil gambar untuk sofyan wanandi, harry chan silalahi

Ketiga, kekuatan massa yang pro Megawati Soekarnoputri.

Keempat, kekuatan ekonomi yang dalam hal ini diwakili oleh Sofjan Wanandi dan Yusuf Wanandi.

Sebagaimana dicatat oleh Bill Tarrant dalam bukunya Reporting Indonesia dan Jusuf Wanandi dalam buku Shades of Grey, karena penemuan dokumen tersebut Jusuf dan Sofjan Wanandi sempat dipanggil oleh Zacky Anwar Makarim di Gundur dan di sana Jusuf Wanandi menyatakan bahwa ketika diintrogasi petugas dia menantang bahwa karena dialah Soeharto bisa menjadi presiden kemudian bercerita bagaimana Soeharto menjadi presiden karena dirinya dan kawan-kawannya (Lihat Shades of Grey halaman 274 – 275).

Salah satu pembelaan diri Jusuf Wanandi terkait dokumen Tanah Tinggi tersebut adalah “seseorang” menaruh dokumen dan email untuk memfitnah mereka. Saya berpikir malang sekali nasib mereka, dituduh dalang Malari dan sekarang dituduh mendanai kaum radikal yang bermaksud mengadakan revolusi di Indonesia. Tentu saja mereka bisa saja malang atau memang memiliki hobi menjadi konspirator atau dalang kekacauan di negeri ini. Tapi masa sih mereka sejahat itu, apalagi bila melihat Jusuf, Sofjan dan Harry Tjan memiliki perawakan seperti kakek-kakek ramah.

Hasil gambar untuk sofyan wanandi

Baru-baru ini Jusuf Wanandi menerbitkan buku otobiografi yang ditulisnya sendiri dalam bahasa Inggris dan terbitan Equinox, tapi ada juga edisi bahasa Indonesia terbitan Kompas, dan saya membeli keduanya. Buku tersebut memuat beberapa cerita tentang Prabowo Subianto dan sebagaimana umumnya tulisan orang yang dekat dengan Benny Moerdani, maka Jusuf Wanandi juga menulis tentang Prabowo secara sangat negatif, seolah tidak ada baiknya, seolah semuanya buruk. Inti tulisan klik Benny Moerdani memiliki satu tema pokok yaitu: Prabowo bukan manusia, melainkan setan iblis dedemit jahanam berkulit manusia.

Beruntung baru-baru ini saya menemukan Majalah Media Dakwah edisi Februari 1998 yang memberitakan buka puasa bersama tanggal 23 Januari 1998 di Markas Komando Kopassus Cijantung yang dihadiri ribuan Umat Muslim dan berbagai tokoh lintas kalangan, antara lain: Pangdam Jaya Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin, Ketua MUI KH. Hasan Basri, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Dr Anwar Haryono SH, Ketua BKSPPI KH Cholil Ridwan, Ketua Dewan Pimpinan KISDI KH Abdul Rasyid Abdullah Syafii, Sekretaris Umum Muhammadiyah Dr Watik Pratiknya, Sekretaris Umum Dewan Dakwah Hussein Umar, Ir. AM Luthfie (Forum Ukhuwah Islamiyah), Pengurus PBNU Dr Said Agil Munawwar, KH Ma’ruf Amin, Pangdam Tanjungpura Mayjen Muchdi Pr, Kasdam Jaya Brigjen Sudi Silalahi, Kaskostrad Mayjen TNI Ismet Yuzairi, Mayjen TNI Cholid Ghozali, KH Asep Mausul (Tasikmalaya), KH Abdul Wahid Sahari (Pandeglang), KH Shihabudin (Kotabumi Lampung), Wapemred Majalah Ummat M Syafii Anwar dan Redpel Media Indonesia Bambang Harymurti, Ketua SPSI Bomer Pasaribu, MSc, Dr Laode Kamaluddin, Dr Din Syamsuddin, Dr Jimly Ashiddiqie, Dr Didin Damanhuri, Chairul Umam dan H Rhoma Irama mewakili kalangan seniman.

Bila dilihat dari daftar nama yang hadir, sebenarnya acara di atas biasa saja, sama seperti acara buka bersama yang sering dilakukan beberapa tahun terakhir di Indonesia, tapi memang saat itu peristiwa ini sangat menggemparkan sebab untuk pertama kalinya Kopassus yang sempat dianggap menyeramkan oleh Umat Islam membuka pintu markasnya dan menunjukan sisi kemanusiawian mereka. Mau tahu bagaimana Jusuf Wanandi menggambarkan peristiwa ini?

“…I was thinking, this could go horribly wrong, because you don’t know, once you started using preman, what they would do next. And of course that is exactly what happened two years later, when Prabowo used extrimists to oppose the students. At that time, he had a buka puasa (breaking of the fast) at his place, while he was still commander of Kopassus. Up to 3.000 people came, all of them from the extreme right.”

(Jusuf Wanandi, Shades of Grey hal. 272)

Untuk memastikan pemahaman saya benar, maka saya melakukan komparasi dengan terjemahan di edisi bahasa Indonesianya:

“…Saya merasa situasi ini akan berkembang lebih buruk karena dengan menggunakan preman, tak terbayang apa lagi yang dapat mereka perbuat. Kekhawatiran saya menjadi kenyataan dua tahun kemudian ketika Prabowo mengerahkan kelompok ekstrimis untuk menghadapi mahasiswa. Ketika itu, sebagai Komandan Kopassus, ia [Prabowo] mengadakan acara buka puasa di rumahnya yang dihadiri oleh hampir 3.000 orang yang terdiri dari kelompok garis keras kanan.”

(Jusuf Wanandi, Menyibak Tabir Orde Baru, hal. 376)

Wow, mengerikan sekali acara buka puasa yang diadakan Prabowo bila membaca bagaimana Jusuf Wanandi memakai istilah “preman”, “ekstrimis” dan “kelompok garis keras kanan” dalam satu paragraf untuk menggambarkan acara buka puasa di Markas Komandan Kopassus tersebut, trifecta! Dengan kata lain Prabowo mengadakan acara buka puasa dengan preman, ekstrimis, kelompok garis keras kanan, di markas Kopassus yang terkenal sebagai pasukan “penculik aktivis” lagi! Siapa tidak ngeri? Saya saja menggigil ketakutan sampai meriang.

Namun begitu, bila kita mencermati nama-nama yang hadir di acara tersebut, rasanya aneh apabila Sjafrie Sjamsoeddin, KH. Hasan Basri, Dr Said Agil Munawwar, KH Ma’ruf Amin, Sudi Silalahi, Bambang Harymurti, Bomer Pasaribu, MSc, Dr Laode Kamaluddin, Dr Din Syamsuddin, Dr Jimly Ashiddiqie, dan H Rhoma Irama dikategorikan sebagai preman, ekstrimis dan kelompok garis keras kanan sesuai deskripsi Jusuf Wanandi bahwa: “all of them from the extreme right” dan “yang terdiri dari kelompok garis keras kanan,” berarti tanpa terkecuali, semua yang hadir di acara Prabowo adalah ekstrimis sayap kanan.

Sekali lagi tanggapan sinis dan minir penuh kebencian dari teman-teman Benny Moerdani terhadap apapun yang dilakukan oleh Prabowo sangat wajar karena Prabowo adalah lawan utama Benny Moerdani, tentu sebagai teman baiknya, Jusuf Wanandi wajib membela teman baiknya. Kendati demikian apa yang ditulis Jusuf Wanandi tentang acara buka puasa yang diadakan Prabowo tentu terhitung fitnah, sebab menceritakan hal yang tidak pernah ada seolah-olah menjadi ada secara negatif dengan tujuan menghantam, mendiskriditkan dan mencemarkan nama baik yang menjadi objek cerita, dalam hal ini Prabowo.

Yang mau saya katakan dengan fitnah di atas adalah ternyata Jusuf Wanandi memiliki kemampuan untuk berdusta dengan wajah tetap lurus dan tanpa merasa berdosa. Pertanyaannya tentu bila Jusuf Wanandi bisa berbohong sekedar untuk mendiskriditkan Prabowo dengan sikap memusuhi, maka kebohongan macam apalagi yang pernah dilakukan Jusuf Wanandi dan teman-temannya di CSIS? Mengenai tidak terlibat dalam Malari’74? Atau tidak terlibat dalam gerakan revolusi 1998? Atau tidak ada hubungan dengan capres boneka bernama Joko Widodo?

Mengapa CSIS dan kelompok Benny Moerdani menciptakan capres boneka bernama Joko Widodo? Karena mereka semua masih mendendam atas tindakan Prabowo yang menghalangi usaha mereka untuk mengurangi pengaruh Islam atau melakukan proses deislamisasi di Indonesia, sehingga sekarang mereka berupaya menghalangi keinginan Prabowo menjadi presiden sekalipun harus mengorbankan Indonesia dengan menempatkan capres tipe “ndak mikir” seperti Jokowi.

(dari berbagai sumber)

November 4, 2016 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Orang-Orang Fundamentalis Katolik di Lingkaran Jokowi

Hasil gambar untuk Jacob Soetoyo

Tentu banyak yang terperangah ketika Jacob Soetoyo bisa mempertemukan beberapa duta besar negara-negara ‘hiu’ dengan Jokowi dan Megawati. Siapa sebenarnya Jacob Soetoyo?
Jacob memang lebih dikenal sebagai pengusaha. Tapi, dalam konteks menjadi fasilitator pertemuan Jokowi-Mega dengan para duta besar tersebut, tentu kapasitasnya sebagai bagian dari CSIS [Centre for Strategic and International Studies]. Sudah banyak yang tahu bahwa CSIS merupakan lembaga pemikir Orde Baru yang memberikan masukan strategi ekonomi dan politik pada Soeharto. Tapi, yang belum banyak diketahaui adalah hubungan CSIS dengan organisasi fundamentalis Katolik bernama Kasebul [kaderisasi sebulan] yang didirikan oleh Pater Beek, SJ. Tentang apa dan bagaimana Kasebul itu, silakan baca tulisan saya di sini: http://tikusmerah.com/?p=1056

Hasil gambar untuk megawati dan jokowi
Pada awalnya, Kasebul didirikan untuk memerangi komunisme. Setelah komunisme [PKI] dihancurkan oleh Soeharto, tujuan Kasebul beralih melawan dominasi Islam. Pater Beek, seorang rohoniawan Jesuit kelahiran Belanda, melihat bahwa setelah komunis tumpas ada lesser evil [setan kecil], yaitu: Islam. Untuk menghancurkan setan kecil tersebut, Pater Beek menganjurkan kaum fundamentalis Katolik dalam Kasebul bekersama sama dengan Angkatan Darat.
Selain itu, guna menghadapi ancaman Islam perlu dibentuk lembaga pemikir yang bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah. Maka kemudian dibentuklah CSIS. Pater Beek mempunyai pemikiran sebagaimana diungkapkan Ricard Tanter:
“Visi [Pater] Beek pibadi atas peran Gereja, Gereja harus berperan dalam mengatur negara kemudian mengalokasikan orang-orang yang tepat untuk bekerja di dalam dan melalui negara.”[1]
Atas visi tersebut maka tugas dibebankan pada CSIS. Lembaga ini menurut Daniel Dhakidae merupakan penggabungan antara politisi dan cendekiawan Katolik dengan Angkatan Darat. Lembaga inilah yang kemudian memasok dan menjaga agar Orde Baru menerapkan negara organik versi gereja pra konsili Vatikan II.[2]
Siapa sosok yang berperan dalam pendirian CSIS? Sosok tersebut adalah Ali Moertopo. Selama ini dikenal sebagai kepercayaan Soeharto, tapi kedekatannya dengan Pater Beek belum banyak terungkap  Ali pertamakali bekerjasama dengan Pater Beek dalam operasi pembebasan Irian Barat. Berdasarkan catatan Ken Comboy, saat itu tugas Ali sebagai perwira intelijen.[3] Pada saat yang bersamaan, Pater Beek juga berada di Irian Barat. Ia menyamar sebagai guru. Tugas sebenarnya dari Pater Beek adalah menjaga agar proses pembebasan Irian Barat tetap menguntungkan kepentingan Amerika. Tugas ini berhasil. Sebagaimana kita ketahui, sampai saat ini Freeport masih menguasai tambang emas di Papua.
Setelah CSIS berhasil dibentuk oleh Ali Moertopo, tugas pelaksa harian diserahkan pada 3 kader Kasebul: Jusuf dan Sofian Wanandi serta Harry Tjan Silalahi. Menurut Mujiburrahman, Jusuf dan Sofian Wanandi merupakan kader utama Kasebul yang dididik Pater Beek. Sewaktu mahasiswa dan pergolakan politik tahun 1965, keduanya menjadi bagian penting dari PMKRI [Pergerakan Mahasiswa Katolik Indonesia]. Sedangkan Harry Tjan Silalahi kader Kasebul yang ditempatkan di Partai Katolik sebagai sekretaris jenderal.[4] Tiga orang inilah yang hingga sekarang menahkodai CSIS. Lewat lembaga inilah kebijakan anti Islam dijalankan.
Pater Beek memang piawai dalam usaha menghancurkan Islam. Ia tidak hanya memakai orang Katolik seperti Jusuf Wanandi dan Harry Tjan untuk melakukannya, tapi juga memakai orang Islam sendiri. Ali Moertopo, misalnya, ia tumbuh dari keluarga santri, tetapi lewat CSIS dan Operasi Khususnya justru mengobok-obok Islam. Sebut nama lain seperti Daoed Joesoef. Ia seorang muslim asal Sumatera Timur, tapi berhasil digunakan oleh Pater Beek untuk membuat kebijakan yang merugikan umat Islam. Sewaktu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, ia melarang sekolah libur pada hari Ramadhan dan siswi yang beragama Islam dilarang menggunakan jilbab.
Bahkan tidak hanya itu. Kader Pater Beek dalam Kasebul juga dilatih menyusup dengan pindah agama menjadi Islam. Sebut saja Ajianto Dwi Nugroho. Sewaktu masih mahasiswa di Fisipol UGM ia berpacaran dengan mahasiswa IKIP Yogyakarta [sekarang UNY] yang berjilbab. Sekarang ia menikah dengan janda beranak satu yang beragama Islam. Dan, Ajianto saat ini mempunyai KTP yang mencantumkan agamanya adalah Islam. Ajianto merupakan kader Kasebul generasi baru yang masuk dalam lingkaran jasmev pada era Pilkada DKI untuk memenangkan Jokowi. Sekarang ia bergabung dalam lingkaran PartaiSocmed dengan target menjadikan Jokowi sebagai presiden. Itulah kehebatan kader-kader Kasebul dalam menjalankan misinya.
Nah, kenapa tiba-tiba Jacob Soetoyo muncul? Tentu saja ini berkaitan dengan persaingan para cukong di lingkaran Jokowi sendiri. Sudah banyak diketahui, James Riyadi telah mendukung Jokowi sejak awal. Selain dikenal sebagai pengusaha papan atas, yang belum banyak diketahui, ia adalah pemeluk fundamentalis Kristen. Ia dikenal sebagai pemeluk Kristen Evangelis. Di Amerika, aliran ini dikenal radikal dan fundamentalis. Salah satu pengikutnya adalah adalah keluarga Bush. Sikap anti Islamnya sudah mendarah daging. Ketika menjadi presiden, George W. Bush memerintahkan pasukannya untuk membantai ratusan ribu umat Islam di Afghanistan dan Irak.  Inilah yang dianggap sebagai ancaman oleh fundementalis Katolik dalam lingkaran CSIS. Apalagi James Riyadi secara atraktif lewat familinya, Taher, mendatangkan Bill Gates ke Indonesia dengan tujuan agar seolah-olah Jokowi mendapatkan dukungan dari pengusaha papan atas Amerika Serikat.
Sudah menjadi rahasia umum, walaupun sama-sama memusuhi Islam, antara fundamentalis Katolik dan fundamentalis Kristen terjadi permusuhan yang sengit [pandangan mereka yang Islamphobia tentu saja tak mewakili pandangan mayoritas umat Nasrani di Indonesia yang sebagian besar menghargai toleransi]. Melihat manuver James Riyadi yang sudah dianggap kelewatan, maka turun tangalah Jacob mewakili lingkaran CSIS. Rupanya James melupakan bahwa ada dua jaringan di Indonesia yang mempunyai hubungan kuat dengan Amerika Serikat: CSIS dan PSI [Partai Sosialis Indonesia]. Jaringan CSIS pun unjuk taring. Tidak tangung-tangung mereka mengumpulkan duta besar dari negara berpengaruh antara lain: Amerika Serikat, China dan Vatikan. Begitu kuatnya pengaruh CSIS sampai-sampai duta-duta besar tersebut mau berkumpul di rumah Jacob yang tidak dikenal sebelumnya. Saking berpengaruhnya pula, Megawati, seorang mantan Presiden RI, bersedia mengikuti skenario CSIS. Di sinilah perang di antara cukong-cukong pendukung Jokowi antara faksi James Riyadi [Kristen] dengan faksi Jacob/CSIS/kasebul [Katolik] mulai ditabuh. Mereka semua melihat bahwa Jokowi akan menang Pilpres sehingga masing-masing perlu menanamkan pengaruh sejak awal.
Manuver CSIS lewat Jakob ini tentu membuat resah kubu James Riyadi. Pasca pertemuan tersebut media dalam kendali James Riyadi mulai mengungkit-ungkit peranan CSIS sebagai lembaga yang pada era Soeharto ikut mengebiri PDI. Megawati diingatkan tentang fakta itu. Tujuan akhirnya tentu saja agar Mega dan Jokowi menjauh dari CSIS sehingga James Riyadi bisa dominan lagi. Tapi jangan sampai dilupakan bahwa kubu CSIS/Jusuf Wanandi mempunyai koran The Jakarta Post, sebuah koran berbahasa Inggris yang cukup berwibawa, yang bisa melakukan serangan balik. Kita tahu sendiri, sekali memberitakan bahwa Puan mengusir Jokowi dari rumah Megawati, peta politik di internal PDIP berubah dratis. Puan tiba-tiba hilang, Megawati seperti tak memikirkan lagi koalisi, dan Jokowi seperti anak kehilangan induk, ke sana-kemari mencari teman koalisi.
Tapi, jangan dilupakan faksi Partai Sosialis Indonesia [PSI]. Partai yang didirikan Sutan Sjahrir pada era Seokarno ini memang sudah tak ada, tapi kadernya sampai saat ini masih bergentanyangan. Tokoh-tokoh PSI seperti Goenawan Mohamad terang-terangan sudah mendukung Jokowi. Ia menggunakan jaringan-jaringan yang dimilikinya seperti Jaringan Islam Liberal [JIL], Tempo grup sampai orang-orang Kiri yang berhasil dikadernya seperti Coen Husein Pontoh dan Margiyono—dulu anggota PRD yang kemudian murtad dengan mendirikan Perhimpunan Demokratik Sosialis [PDS]; PDS ini pendiriannya tidak bisa dilepaskan dari sosok Goenawan Mohamad; pendeklarasian organisasi ini dilakukan di Teater Utan Kayu [TUK]—yang sekarang melakukan manipulasi-manipulasi terhadap ajaran Marxisme agar bisa dijadikan dalih untuk mendukung Jokowi. Semua itu satu komando untuk mendukung Jokowi.
Selain Goenawan, ada faksi PSI yang dikomandoi oleh Jakob Oetama dengan kelompok Kompas-nya. Mereka mempunyai media nasional yang sudah sejak lama telah menggoreng Jokowi lewat pemberitaan-pemberitaannya.  Sebagai sesama Katolik, Kompas grup tentu bisa bekerjasama dengan kubu CSIS. Mereka sama-sama pernah dididik oleh Pater Beek. Bahu membahu antara keduanya tentu saja akan menghasilkan kekuatan yang besar dengan jaringan media yang sudah mengakar kuat.
Dari lingkaran PSI lainnya ada Yamin. Ia salah satu yang membidani kelahiran Seknas Jokowi. Sewaktu mahasiswa pada tahun 80-an, ia aktif di kelompok kiri Rode yang berada di Yogyakarta. Ia dekat dekat dengan tokoh PSI Yogyakarta, Imam Yudhotomo. Yamin disokong aktivis kiri era 80-an, Hilmar Farid. Ia dulu pernah terlibat dalam masa-masa pembentukan PRD. Mantan istrinya, Gusti Agung Putri Astrid, merupakan kader Kasebul yang banyak terlibat dengan aksi-aksi sosial pada era 90-an; ia sekarang menjadi caleg PDIP dari dapil Bali. Peran Hilmar adalah sebagai perumus strategi yang perlu diambil Seknas Jokowi menghadapi Pilpres.
Faksi PSI lainnya ada Fajroel Rachman. Ia dulu dikenal sebagai aktivis mahasiswa ITB.  Ia dekat dengan tokoh PSI zaman Orde Lama, Soebadio Sastrosastomo. Kelompok Fajroel ini sebetulnya yang paling lemah karena tidak mempunyai koneksi apa-apa. Makanya ia hanya bergerak di media sosial saja dengan mengandalkan jumlah follower di akun twitternya.
Di antara faksi-faksi PSI tersebut, yang mempunyai hubungan kuat dengan Amerika Serikat adalah faksi Goenawan Mohamad. Sebagaimana ditulis oleh Wijaya Herlambang, Goenawan adalah agen CIA yang sudah dipekerjakan sejak akhir era Soekarno. Begitu kuatnya hubungan Goenawan dengan Amerika bisa dilihat ketika ia kalah dalam sengketa dengan pengusaha Tomy Winata, Dubes AS turun langsung untuk “mendamaikan” kasus tersebut agar tidak berlarut-larut. Goenawan pula yang dulu ikut memuluskan langkah Boediono menjadi wakil presiden. Sebetulnya ia ingin mendorong Sri Mulyani maju, tapi partai SRI tidak lolos. Goenawan dan Sri Mulyani memang dekat. Ketika Sri Mulyani diserang Ical dalam kasus Bank Century sampai akhirnya ia mundur sebagai Menkeu, Goenawan amat marah sampai-sampai mengembalikan Bakrie Award yang pernah diterimanya.
Silahkan mengobrak-abrik semua analisa politik, tetap saja penyokong utama Jokowi ada tiga itu: fundamentalis Katolik [CSIS/Kasebul], fundamentalis Kristen [James Riyadi dkk], dan faksi PSI [Goenawan Mohamad dkk]. Nah, mengapa mereka turun bersama-sama mendukung Jokowi?
Bangkitnya Islam politik tentu saja dianggap sebagai ancaman. Sepanjang Pemilu Orde Baru, perolehan suara partai Islam dalam Pemilu 2014 adalah yang terbesar. Suara PKB, PAN, PKS, PPP dan PBB bila digabungkan mengungguli partai-partai yang lain. Tentu saja yang dianggap yang paling berbahaya adalah PKS. Sebelum Pemilu, PKS sudah dikesankan oleh berbagai lembaga survei [termasuk CSIS] tidak akan lolos ke Senayan. Senyatanya mereka masih memperoleh suara 7 persen—yang bisa jadi jumlah kursinya bisa menduduki peringkat ke empat di Senayan.
PKS dikenal dengan kader-kadernya dari kalangan kelas menengah. Kader-kader mereka selain militan juga tidak anti terhadap pendidikan Barat. Bayak kadernya yang kuliah di Amerika Serikat, Inggris dan Eropa. Walaupun berpikiran modern, mereka dikenal taat menjalankan ajaran Islam, baik yang wajib maupun sunnah. Mereka juga dikenal melek teknologi, berbeda dengan dengan Taliban, misalnya. Inilah yang menakutkan bagi tiga pendukung Jokowi di atas kalau sampai PKS menjadi partai yang berkuasa. Oleh sebab itu, oleh kalangan PSI, baik faksi Goenawan Mohamad maupun faksi Fajroel, PKS yang menjadi sasaran serangan. Silakan amati sendiri serangan-serangan mereka terhadap PKS di media sosial. Kadang kala serangan terhadap PKS juga dilancarkan lingkaran Kasebul di lingkaran PartaiSocmed. Gampang saja, kalau ada serangan kepada PKS, lihat saja latar belakangnya, pasti akan berkaitan dengan tiga komponen di atas: fundamentalis Katolik dan Kristen, serta PSI [ dan orang-orang Kiri yang diperalat tiga penyekong Jokowi tersebut]
Agar tak menyatu, partai yang berideologi Islam dibuat bimbang. Para pengamat sudah mulai bekerja dengan berbagai argumentasi bahwa poros partai-partai Islam sulit untuk diwujudkan. Terutama PKS yang akan dijadikan target kebimbangan ini. Mereka tak begitu khawatir dengan PKB, misalnya. Sosok Muhaimin Iskandar sudah dikenal sebagai orang pragmatis. Gus Dur saja ia khianati, apalagi umat Islam. PAN dan PPP juga hampir serupa. Sementara PBB suaranya tak signifikan. Tinggal PKS yang sulit dikendalikan. Apalagi sampai saat ini PKS tak mau membicarakan koalisi.
Kalau PKS nantinya akan mendukung Prabowo, maka akan diserang habis-habisan sebagai partai yang menyokong pelanggar HAM berat. Ini merupakan sasaran tembak yang empuk bagi kalangan PSI untuk menyerang PKS. Semisal PKS mendukung Ical, maka akan dihantam sebagai partai yang mendukung partai warisan Orde Baru: Golkar. Sementara itu, bila PKS akan membentuk poros partai Islam, akan diadu domba dengan sesama partai Islam. Maka diarahkan PKS untuk mendukung Jokowi. Dukungan ini penting untuk memperlihatkan bahwa Jokowi yang didukung Amerika lewat tiga tangannya tadi mendapatkan legitimasi dari partai Islam yang ideologis, yaitu PKS. Maka oponi pun diarahkan dengan berbagai argumentasi agar PKS merapat ke Jokowi. Bila jebakan ini berhasil menjerat PKS sehingga kemudian mendukung Jokowi dan tak berhasil membangun poros sendiri, maka hanya satu kata:wassalam. Satu benteng itu telah runtuh.
Sebagai penutup, dari semua uraian di atas, Jokowi sebetulnya tidak lebih hanyalah boneka bunraku. Boneka tersebut dimainkan dalam pertunjukkan sandiwara Jepang untuk menghibur kalangan bangsawan. Dan, bangsawan-bangsanwan yang terhibur dengan boneka bunraku bernama Jokowi bila kelak menjadi presiden adalah: fundamentalis Katolik [CSIS/Kasebul], fundamentalis Kristen [James Riyadi dkk] dan PSI [Goenawan Mohamad dkk]—yang ketiganya merupakan kaki tangan ndoro-ndoro di Amerika Serikat sana.

Jacob Soetoyo yang mempertemukan Jokowi,Megawati dan Dubes Asing

Capres PDIP Joko Widodo bersama Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri bertemu dengan sejumlah dubes asing di rumah pengusaha Jacob Soetoyo tadi malam. Nama Jacob memang masih asing di telinga masyarakat awam, lalu apa hubungan Jacob dengan Joko Widodo?

Tidak banyak informasi soal penguasaha Jacob Soetoyo. Namun berdasarkan penelusuran detikcom dari beberapa sumber, Selasa (15/4/2014), Jacob diketahui sebagai seorang salah satu pengusaha sukses di Indonesia. Dia merupakan presiden direktur, presiden komisaris, dan komisaris sejumlah perusahaan di bawah bendera Gesit Group. Salah satunya menjadi presdir PT Gesit Sarana Perkasa, salah satu perusahaan yang terlibat dalam pembangunan hotel elite JS Luwansa di Kuningan, Jakarta Selatan.

Jacob memulai karir bisnisnya sejak tahun 1980. Dia bergabung ke PT Alakasa Industrindo tbk sebagai komisaris dan ditunjuk sebagai Wakil Presiden Komisaris PT Alakasa Industrindo tbk pada tahun 2010. Alakasa adalah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur seperti produksi alumunium. Perusahaan tersebut berada di Jakarta dan didirikan sejak tahun 1972.

Dia meraih gelar S1-nya di bidang perdagangan dari Concordia University, Montreal Kanada pada tahun 1978. Lalu mengambil gelar S2-nya di bidang administrasi dari McGill University, kanada.

Tidak hanya bergerak di bisnis, Jacob juga pernah tercatat dalam barisan dewan pengawas Center of Strategic and International Studies (CSIS) pada tahun 2005. CSIS adalah lembaga pengkajian kebijakan sosial, politik, dan ekonomi Indonesia. Dia juga pendiri Yayasan Kebun Raya Indonesia.

Jacob tumbuh di lingkungan pengusaha sukses. Seperti Jacob, keluarganya juga banyak yang bergerak di bidang bisnis dan yayasan sosial, seperti Jahja Soetoyo, Meiriana Soetoyo dan Meiriani Soetoyo. Mereka tergabung dalam JS Brothers Fund Foundation.

Tidak ada keterangan jelas soal hubungan Jokowi dengan Jacob. Namun saat ditanya oleh wartawan mengenai sosok Jacob Soetoyo, Jokowi menjawab singkat. Jokowi mengatakan, Jacob merupakan keluarga besar Meiriana Soetoyo yang menjadi pemilik yayasan sosial di daerah Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

“Tadi itu rumah Jacob Soetoyo. Tapi yang undang Bu Meiriana, keluarga besar Pak Jacob. Bu Meiriana yang punya yayasan di Cempaka putih,” kata Jokowi di rumah dinasnya, Menteng, Jakpus, Senin (14/4/2014) tengah malam.

Pertemuan Jokowi di rumah Jacob terjadi pada Senin 14 April, Jokowi di sana selama hampir 3 jam. Turut hadir beberapa seperti dubes Turki, Amerika, Meksiko, Vatikan dengan dubes Norwegia serta Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. (detik.com,

November 4, 2016 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Bung Karno Di masaku

 

http://www.memobee.com/images.php?param=q5iy71dG%2FKBrq%2F0Mj0IWtEIIXeNVIRqSTLnOdEJmNpfmmn35k1EQ6ACPokuwUKfKSdpBV%2BC1SiuxzfkIteocp%2FFGY%2BU%2F9%2Fkwu9GEiAuyVAKt0OQ13ayMQyJ3lFGCEGhqb2hAuCYqynKMz68263nXPQ%3D%3D

 SEWAKTU saya sekitar tahun 1930-an masih duduk di bangku sekolah menengah kolonial di Surabaya, Bung Karno adalah pahlawan pujaan dalam hati generasi saya. Betapa tidak! Di tengah-tengah suasana kolonial dengan segala macam diskriminasinya, Bung Karno dengan PNI-nya dari Bandung telah membangkitkan semangat nasionalisme, patriotisme, kemerdekaan dan kerakyatan. Memang banyak pemimpin-pemimpin Pergerakan Nasional yang kita kagumi, seperti Tjokroaminoto, Dr. Tjipto Mangunkusumo, Dr. Soetomo, H. Agus Salim dan sebagainya.

 

Tapi di antara mereka ada dua tokoh muda yang menonjol dalam pandangan kita, yaitu Bung Karno di Bandung, dan Bung Hatta di Negeri Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta-lah yang pada waktu itu dengan tulisan dan pidato-pidatonya menanamkan keyakinan dalam hati-sanubari kita, bahwa Indonesia Merdeka dapat dicapai. Bahwa syarat mutlak adalah Persatuan Bangsa dari Sabang sampai Merauke dan bahwa Nasionalisme Indonesia adalah bagian integral dari kebangkitan seluruh Asia. Mereka berdua juga meramalkan bahwa Perang Pasipik akan pecah dan bahwa nanti datang kesempatan bagi kita merebut kemerdekaan itu.

 

Kemerdekaan adalah syarat mutlak bagi rekonstruksi nasional. Bung Karno membekali kita dengan dua buku.

Yang pertama adalah Indonesia Menggugat. Yaitu pidato pembelaannya di muka hakim kolonial Bandung, tanggal 2 Desember 1930.

Yang kedua adalah Mencapai Indonesia Merdeka ditulis pada bulan Maret 1933, sesaat sebelum beliau dibuang ke Flores.

Dari kedua buku itulah kita belajar ilmu perjuangan. Perjuangan kemerdekaan sebagai ilmu! Yang harus dikerjakan secara rasional-ilmiah, dengan pikiran dan perhitungan. Tetapi juga dengan semangat yang menyala-nyala.

 

Berdiri Di Atas Pundak Tiga Guru Kita belajar menganalisa sistim kolonial, dengan segala kekuatan dan kelemahannya. Kita belajar menganalisa rakyat kita, juga dengan segala kekuatan dan kelemahannya. Kita belajar hukum dialektika dengan segala kontradiksi dan antagonisme Nasionalisme melawan kolonialisme. Pada waktu Zaman Jepang kita lebih dewasa dalam ilmu perjuangan. Juga lebih berpengalaman. Dalam menilai sepakterjang Bung Karno selama pendudukan Jepang itu, kita seringkali diliputi keragu-raguan, malahan adakalanya kejengkelan. Taktik Bung Karno dan Bung Hatta kita anggap lebih banyak ikut “menyanyikan lagunya Jepang” daripada melawan. Tetapi akhirnya kita mengakui kebenaran taktik mereka berdua. Yaitu keharusan adanya revolutionaire geduld, kesabaran revolusioner. Mengetahui bagaimana bertahan dalam pukulan, dan bagaimana menunggu waktu untuk memukul kembali.

Proklamasi Kemerdekaan dan Revolusi Nasional kita yang dicetuskan oleh Bung Karno dan Bung Hatta membenarkan taktik “kesabaran revolusioner” itu. Dalam alam kemerdekaan saya berkesempatan lebih banyak berkontak dengan Bung Karno. Juga berdialoog dan berdebat. Saya berkesimpulan, bahwa kalau Bung Karno sejak mudanya sudah berpandangan jauh ke depan, itu adalah karena dia “berdiri di atas pundak-pundaknya” tiga pejuang”guru”nya. Yaitu Tjokroaminoto, Tjipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker alias Setiabudi. Ibarat itu saya ambil dari bukunya John Langdon Davies: Man and his Universe dari perpustakaan beliau pribadi, di mana dikatakan bahwa “if Newton could see farther ahead than the older generation, it was by standing on the shoulders of three giants, namely: Aristotle, Copernicus and Galileo.” Dengan ibarat itu, saya hanya ingin menyimpulkan bahwa pemikiran dan perjuangan Bung Karno adalah hasil pemanfaatan beliau dari pikiran dan perjuangan guru-gurunya. Tiga Sukarno Saya pun juga mendapat kesan, bahwa dalam diri pribadi Bung Karno, terdapat “tiga Sukarno”. Pertama: Sukarno sebagai ideoloog. Kedua: Sukarno sebagai politikus dan negarawan. Ketiga: Sukarno sebagai manusia. Sebagai ideoloog, Bung Karno sangat tajam dan tegas sekali. Pancasilanya adalah cerminan dari pemikiran filsafat yang matang, berlandasan kepribadian sendiri, demi persatuan dan kesatuan bangsa. Bung Karno sebagai politikus dan negarawan sangat lihay. Beliau pintar memanipulasi kekuatan-kekuatan sosial-politik, mengadakan aliansi dan realiansi dalam menyusun barisan kekuatan antar-kawan, sambil mengacaukan barisan lawan. Tidak hanya di front dalam negeri, tapi juga di front luar negeri. Ini semua termasuk dalam taktik beliau. Taktik itu tidak tanpa risiko. Adakalanya Bung Karno sendiri terjepit oleh karenanya. Hanya kharismanya yang sering menolong Bung Karno meloncat dari jepitan-jepitan itu. Akhirnya Bung Karno sebagai manusia biasa. Dia dapat serius, tapi dapat juga santai. Dapat mencintai, tapi dapat juga membenci. Dapat hidup realistis, tapi juga dapat “mimpi” hal-hal yang di luar jangkauan. Tetapi selalu ramah tamah. Tidak pernah dengki. Beliau sendiri mengatakan kelahiran bintang Gemini. Malahan dobel. Yaitu 6 Juni. Tanggal 6 bulan 6. Saya sendiri tidak begitu percaya sepenuhnya kepada pengaruh perbintangan itu. Tetapi bahwa Bung Karno seringkali menunjukkan watak-watak yang kontroversial itu memang saya alami. Dia memiliki “charm” yang “disarming”. Dia terbuka untuk kritik obyektif sekalipun tidak jarang diterimanya dengan marah-marah. Menurut saya “tiga Sukarno” itulah terkait dalam diri Bung Karno. Ideoloog, Politikus-Negarawan, dan Manusia. Cita-citanya besar. Perjuangannya besar. Lawan-lawannya besar. Kawan-kawannya pun besar. Religiositasnya besar. Rasionalitasnya besar. Emosinya besar. Nafsunya besar. Ya libidonya juga besar. Dan seperti Oom Arnold Mononutu pernah menenteramkan saya: pada tiap orang besar seperti Bung Karno melekat pula “les defauts de ses qualites”, yaitu kekurangan-kekurangan yang besar. Juga kekeliruan dan kesalahan yang besar. Tapi penderitaannya pun dan jasa-jasa pun adalah besar. Dibolak-balik, Bung Karno adalah, di mata kawan dan lawan, baik di dalam maupun di luar negeri, seorang pejuang. Seorang “titan”, yang tidak kenal lelah. Yang tidak setengah-setengah. Setia kepada cita-citanya dan kepada prinsip politiknya. Dengan segala bahaya dan risikonya. Semua itu mempengaruhi dan telah menjadi pelajaran generasi sebaya saya. Ada yang dapat keliru, ada yang tidak. Semoga demikian juga bagi generasi sekarang dan generasi mendatang.

 

Di Sini Proklamator Dimakamkan

11

TAK terasa terlalu panas siang itu, meski matahari kemarau hampir tepat di atas kepala. Di tangga teras makam Bung Karno dari batu pualam warna putih berkilat, Presiden Soeharto dan Nyonya Tien melepas sepatu. Dua tiga langkah lagi sampailah ke makam Proklamator yang lantainya juga dari batu pualam putih, berpagar kaca. Setelah berjongkok untuk berdoa, Presiden bangkit lalu menabur bunga. Ny. Tien sempat bersujud selama beberapa detik. Itu puncak acara peresmian pemugaran makam Bung Karno di Blitar, Kamis siang 21 Juni pekan lalu, tepat 9 tahun setelah Presiden pertama RI itu wafat. Makam itu tak bernisan hanya dibatasi semacam tanggul persegi empat memanjang. Di tengahnya ditaburi batu-batu kerikil. Beberapa senti di arah kepala diletakkan sebuah batu pualam warna hitam kebiru-biruan. Di situ tertulis huruf-hurur kuning keemasan: Di sini dimakamkan Bung Karno, Proklamator Kemerdekaan dan Presiden Pertama Republik Indonesia. Lahir 6 Juni 1901, wafat 21 Juni 1970. Menapa bukan “Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” sebagaimana diwasiatkan oleh almarhum? Ibu Wardoyo, kakak Bung Karno, menjawab “Itu kehendak pemerintah.” Keluarga Bung Karno barangkali cukup puas dengan sebuah karangan bunga ukuran 3 x  m bertuliskan “Bung Karno Penyambung Lidah Bangsa Indonesia” yang dipajang di ruang tamu rumah Ibu Wardoyo, Jalan Sultan Agung, Blitar, sumbangan PT Gunung Agung dan Yayasan Jalan Terang. Dalam keadaan sudah amat uzur, siang itu Ibu Wardoyo hadir dalam peresmian dengan upacara kenegaraan itu. Bersama suaminya, ia dibimbing oleh Marsoesi, Ketua DPD PDI Jawa Timur. Dari keluarga Bung Karno di Blitar, hanya suami-isteri itu saja yang hadir di makam. Adapun keluarga Jakarta, meski mendapat undangan, tak seorang hadir. Bisa dimaklum, sebab seperti pernah dinyatakan oleh Guntur, mereka “tidak ikut-ikutan dengan pemugaran itu.” Meski begitu Guntur bukannya tak memanfaatkan keramaian malam menjelang peresmian di rumah Ibu Wardoyo. Ia mengirim surat minta diijinkan menjual buku Catatan Kecil Bersama Bung Karno susunan Ny. Fatmawati. Adapun makam Bung Karno, diapit oleh makam kedua orangtuanya. Berbeda dengan makam anaknya, kedua makam ini bernisan. Juga dari batu pualam. Ibundanya, Ida Aju Njoman Rai, di sebelah kiri (timur), sedang ayahandanya, R. Soekemi Sosrodihardjo, di sebelah kanan (barat). Ketiganya terletak dalam cungkup (peristirahatan bagi yang telah tiada). Dengan arsitektur Jawa gaya joglo, bangunan utama itu disebut Bangsal Agung Luasnya 376 m FD. Lantai dan batu nisan dari batu pualam asal Besole dan Panggul, Jawa Timur, kayu jati dari Bojonegoro yang diukir di Sala. Penopang atap dari konstruksi baja, atap dari lempengan sirap tembaga asal Bandung dan Yogya. Hanya bahan kaca setebal 2 Cm masih harus diimpor. “Tapi pemugaran ini secara kebetulan dikerjakan oleh putera Indonesia asli, pribumi,” kata Sudharmono. Puncak cungkupnya setinggi 17 meter, ditambah penangkal petir 1 meter. Bertingkat tiga, puncak itu lambang “ingat, percaya dan patuh kepada Tuhan.” Puncak teratas disebut mustoko (kepala). Seluruh kompleks makam memang sarat dengan perlambang. “Bentuk dan wujud makam ini sengaja dirancang sedemikian rupa, yang memuat lambang-lambang yang mempunyai arti atau nilai yang dalam bagi kehidupan manusia yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa,” kata Presiden Soeharto dalam pidato peresmiannya. Misalnya tiga tingkat kompleks makam: pelataran atau plaza, teras sekeliling makam dan lantai makam. KETIGANYA lambang kehidupan manusia. Yaitu alam purwa (dalam kandungan), alam madya (lahir dan hidup di dunia) dan alam wasana (sesudah meninggal). Menurut Sudharmono, Presiden pribadi dan Ny. Tien sejak semula menaruh perhatian khusus, mulai dari falsafah dan lambang-lambang sampai bagian-bagian yang terpermen. Luas kompleks makam seluruhnya 4.852 m FD, dengan biaya Rp 540 juta dari anggaran Presiden yang dikelola Sekretariat Negara. Selain cungkup, ada tiga bangunan pendukung yang terdiri sebuah mesjid, bangsal dan gapura agung. Sementara mesjid diberi nama “R. Soekemi Sosrodihardjo,” bangsal di seberangnya disebut “Ida Aju Njoman Rai.” Luas mesjid hampir 159 m FD, gentengnya dari Cirebon berlapis gla~zuur berkilat. Di bangsal, yang berfungsi sebagai paseban (ruang tunggu), dilengkapi ruang sesaji. Seluruh kompleks makam memang merupakan paduan dari seni bangunan bermotif Jawa, Bali dan Islam. Yang Islam misalnya pagar kompleks makam yang berbentuk lengkungan semacam kubah. Antara mesjid dan paseban, terhampar plaza seluas 625 m FD dari batu andesit asal Muntilan, Jawa Tengah. Di sini ditanam 2 pohon beringin dan sebuah tiang bendera. Bangunan pendukung lainnya ialah gapura agung. Menghadap ke selatan, gapura ini mirip gapura Waringin Lawang di Mojokerto yang diperkirakan peninggalan Mahapatih Majapahit Gajah Mada. Ada lagi bangunan lain sebagai pelengkap. Yaitu rumah juru kunci yang bersebelahan dengan tempat peristirahatan umum serta halaman parkir. Ketiganya berada di luar gapura agung. Adapun taman yang terbentang di sebelah utara (belakang) makam, tampak menghijau seperti rencana semula. Kompleks makam Bung Karno yang disebut Astono Mulyo ini terletak di desa Bendogerit kecamatan Kota Blitar, di tepi Jalan Jenderal Sungkono (d/h Jalan Slamet Riyadi). Jalan sepanjang 1km yang sudah diaspal itu tidak terlalu lebar. Dulunya jalanan kampung, kini sudah dibuatkan trottoir di kiri-kanannya, lengkap dengan 44 lampu mercury. Di seberang kompleks makam adalah kebun penduduk yang kurang terawat. Di sana-sini tampak rumpun bambu. Rumah penduduk umumnya berdinding gedeg. Bisa dimaklum bila para petugas begitu repot ketika ratusan ribu massa berjubel, berdesakan, di jalanan yang tidak terlalu lebar di depan kompleks makam itu. Sejak upacara peresmian dimulai jalan masuk ke makam sudah ditutup untuk umum. Tapi begitu rombongan Presiden meninggalkan kompleks makam, massa menyerbu masuk. DUA buah panser yang disediakan buat pengamanan selama Presiden meresmikan makam tak berdaya menghalau mereka. Apalagi para anggota Polri dan Hansip. Akhirnya didatangkan sepasukan pasukan Anti Huru-hara Yon 511 artileri Brawijaya. Memang tidak terjadi kekerasan. Pasukan itu hanya berjaga-jaga. Tapi seorang copet sempat tertangkap sementara ada pula yang luka parah kejatuhan tembok penduduk yang runtuh. Akhirnya massa bisa ditenangkan setelah diumumkan kesempatan berziarah masih ada selama tiga hari. Dan hari sudah berangsur sore. Sekitar jam 15.30, rombongan demi rombongan digiring masuk. Dibanding tahun lalu pada saat peletakan batu pertama, “demam Bung Karno” di hari peresmian kali ini tidak begitu terasa. Memang ada beberapa warung yang sengaja dibuka mendadak untuk menjual buku atau gambar-gambar Bung Karno, juga warung maka terutama sepanjang jalan menuju kompleks makam dan ke rumah Ibu Wardoyo. Apakah itu berarti penghormatan makin lama hanya soal mau keuntungan?

Bung karno lagi menilai bung karno, setelah blitar

 

bung karno

Edi, 20 tahun, dari udik di Subang, mengenal Bung Karno hanya dari cerita orang-orang tua. Juga Jaka Budi, 17 tahun, murid SMA di Jakarta dan anak seorang panglima Kodam, hanya tahu Bung Karno dari teman-temannya, yang ikut grup musik Swara Mahardhika pimpinan Guruh Sukarno. Bila Edi menyangka Bung Karno adalah “orang sakti yang ‘punya banyak jimat”, Jaka menganggap Bung Karno, ‘yah, bagaimana, ya, lumayan, deh.’ Itu pendapat anak muda sekarang. Tapi baik kita dengarkan pendapat orang-orang yang mengenal Almarhum, sebagai berikut: SAJUTI MELIK Sajuti Melik, kini anggota DPR fraksi Karya Pembangunan, menjelang 70 tahun umurnya. Di pertengahan 60-an ia dikenal sebagai penulis risalah panjang “Belajar Memahami Sukarnoisme”, suatu tafsiran tentang ajaran Bung Karno. Pada saat itu, fikiran Bung Karno dalam pidato Manifesto Politik dan lain-lain praktis merupakan semacam “Kitab Suci” bagi seluruh kekuatan olitik yang ada. Siapa yang dianggap menyeleweng kena “ganyang.” Namun penafsiran tentang ajaran itu menimbulkan bentrokan, terutama antara yang pro-komunis dengan yang bukan. Sajuti termasuk yang terakhir. Tapi tulisannya yang disiarkan oleh lebih 50 koran non-komunis, kemudian ternyata dinyatakan “terlarang”. Koran-koran itu kena tindak. Sajuti, yang dalam umur 18 tahun sudah dibuang pemerintah Belanda ke Digul dan “dibesarkan dalam paham Marxisme”, tetap menolak penafsiran Marxis atas ideide Bung Karno. Ia dikucilkan, hingga meletusnya peristiwa G-30-S. Suasana politik berbalik sama sekali setelah Orde Baru lahir 1966. “Sesudah Bung Karno jatuh, orang yang tadinya menyembah-nyembah lantas memaki-maki. Saya sendiri tetap menghargai. Padahal dulu waktu ia masih berkuasa sayalah yang berani menentang konsep Nasakom (persatuan Nasionalis, golongan Agama dan Komunis). Saya katakan Nasakom itu tidak betul, yang betul adalah Nasasos — “sos” dalam arti “sosialis”, yaitu sosialis yang menghargai nasionalisme dan agama. Komunis tidak menghargai agama. Tak mungkin bersatu. Bung Karno terjebak dalam perangkap strategi PKI. Terjebak karena dia tidak tahu. Waktu itu Bung Karno melihat kekuatan yang nyata ada dua, PKI dan ABRI Supaya selamat, keduanya dirangkul. Tidak tahunya, PKI dan ABRI bentrok. Dan kalau keduanya bentrok, yang di atas itu jatuh. Siapapun yang menang. Seandainya PKI menang, Bung Karno juga akan jatuh. Bung Karno menganggap PKI bisa menurut. Tapi tidak bisa. Kelemahan Bung Karno adalah ia suka disanjung. Dan PKI pintar menyanjungnya. Tapi saya tetap menghargainya. Bung Karno juga yang membawa kita kembali ke UUD ’45. MARIA ULFAH SUBADIO Maria Ulfah Subadio, kini 67 tahun, pernah menjadi Menteri Sosial di tahun-tahun awal usia Republik. Ia tokoh Kowani (Kongres Wanita Indonesia). Suami Maria Ulfah adalah Subadio Sastrosatomo, pemimpin PSI yang dipenjarakan Bung Karno. Mereka menikah waktu Subadio dalam status tahanan. “Saya amat kagum kepada Bung Karno semasih jadi mahasiswa di Negeri Belanda. Saya membeli dan membaca karangannya, Indonesia Klaagt Aan atau Indonesia Menggugat. Sebagai aktivis dan seorang pemujanya, saya bungkus baik-baik-buku itu ketika kembali ke Indonesia, dan berhasil lolos dari pemeriksaan. Waktu itu buku itu terlarang di Indonesia. Di zaman Jepang baru saya berhasil bertemu dengan Bung Karno. Pertama kali di gedung pertemuan, sekarang gedung Departemen Penerangan Jalan Merdeka Barat, Jakarta. Kedua kalinya ketika bersama beberapa tokoh wanita saya diundang Ibu Inggit (isteri Bung Karno waktu itu) ke rumah kediamannya yaitu Jalan Pegangsaan Timur atau Jalan Proklamasi sekarang. Waktu itu belum zaman merdeka. Ibu Inggit baru pulang bersama Bung Karno naik becak. Bung Karno lalu ikut duduk bersama kami. Ah, di situlah terjadi suatu hal yang tak terduga-duga. Ibu Inggit menceritakan riwayatnya dan minta diri karena mau kembali ke kampungnya. Kami pun jadi mengerti ia tak mau dimadu. Mendengar cerita Ibu Inggit, kami pun tak kuasa bicara sepatah pun kecuali menangis semuanya. Tapi Bung Karno tampak tenang saja, sembari sekali-sekali membetulkan duduknya. Kekaguman saya memang sedikit berkurang setelah terjadinya peristiwa itu. Tapi kemudian saya bisa mengerti. Alasan Bung Karno mengawini Fatmawati karena dari Ibu Inggit ia tak bisa punya anak. Saya pun jadi teman baik, juga dengan Fatmawati. Tapi kemudian kekaguman saya mulai luntur, ketika Bung Karno berniat kawin lagi dengan Hartini. Apalagi alasannya? Bukankah dia sudah punya isteri yang cantik dan anak-anak yang lengkap? Nah, ketika ia toh melaksanakan niatnya untuk kawin lagi, saya tak lagi mengaguminya. Dan mulai ragu akan dirinya sebagai pemimpin yang perlu memberi contoh kepada rakyatnya. Ya, dia memang orang besar, tapi anggapan saya terhadap almarhum sebenarnya zakelijk saja. Artinya, tak merasa kehilangan seorang pemimpin. JENDERAL (Pens.) NASUTION Tentang A.H. Nasution tidak banyak diperlukan perkenalan kembali. Ia pernah bekerja dengan Bung Karno sebagai perwira tinggi ABRI yang memegang kunci penting di pemerintahan — tapi penuh dengan pasang surut. Di bawah ini kutipan dari Nasution: “Memanglah selama bertugas dulu ada kalanya saya dalam keadaan akur dan tak akur dengan Bung Karno. Di masa saya pelajar di Bandung, saya telah edarkan dua bukunya terkenal di asrama. Seorang teman yang tertangkap basah membacanya ditindak oleh direktur. Sebagai pemuda saya pernah tinggal satu straat (jalan) dengan beliau di Bengkulu dan selalu kagum mendengarkan uraian beliau. Tapi di akhir masa Jepang, ketika saya sebagai salah seorang pimpinan pemuda dan Barisan Pelopor di Bandung, kami agak kecewa, mengapa beliau masih rajin berbicara Asia Timur Raya sebagai keharusan geopolitis bagi kita. Padahal sikap fasisme militer Jepang sudah tegas, Pemuda telah berkali-kali bentrok dengan Jepang. “Di masa revolusi fisik, . . . walaupun kami kecewa, beliau tak ikut bergerilya dalam Clash II (1948), namun saya yakin Sukarno-Hatta tak bisa diganti. Tanggal 1 Agustus 1948 Pak Dirman yang saya dampingi, di depan Presiden tetap menolak politik pemerintah, sehingga kami pamit dengan sama bercucuran air mata, karena Bung Karno-lah yang menyatakan akan berhenti. Pak Dirman sendiri sebenarnya sudah meneken permintaan berhenti. Saya ajukaan bahwa persatuan pimpinan nasional dengan pimpinan ABRI lebih penting dari soal politik pemerintah. Syukur Panglima Besar (Sudirman) setuju, surat tak diteruskan. Tanggal 1 Oktober 1965 (beberapa jam setelah beberapa jenderal TNI-AD diculik oleh pasukan Gestapu), Jend. Harto, sesuai dengan standing order Angkatan Darat otomatis harus menjadi Pd. Panglima Angkatan Darat. Tapi dari (tempat perlindungannya di) Halim, Presiden Sukarno mengumumkan, bahwa Presiden langsung memegang komando AD. Jend. Pranoto jadi caretaker. Dengan proses tadi terasa sejak 1952 Bung Karno ingin langsung memimpin ABRI . . . Dari pengalaman saya dengan kepemimpinan beliau, terbuktilah kebenaran ajaran agama, bahwa prinsip-prinsip yang diyakinilah yang mustinya memimpin kita. Pribadi pemimpin kita ikuti selama ia committed (bersetia) kepada prinsip itu. Bagaimana pun, Bung Karno adalah pemimpin yang besar. Beliau sudah masuk dalam penjara unuk kemerdekaan Indonesia, sebelum saya sadar akan perjuangan kemerdekaan. Walaupun saya pribadi telah jadi sasaran beliau terus menerus sejak mulai kampanye Nasakom, namun saya tetap sadari jasa beliau untuk kemerdekaan dan identitas nasional adalah besar.” SITOR SITUMORANG Penyair ini, 55 tahun, dulu tokoh organisasi kebudayaan Partai Nasional. Ia sejak Demokrasi Terpimpin bermula sampai menjelang meletusnya peristiwa G-30-S, sangat menonjol di kalangan atas politik. Ia ikut memimpin kampanye menyerang para seniman penandatangan Manifes Kebudayaan yang dicetuskan di tahun 1963 — misalnya H.B. Jassin, Zaini, Rendra, Taufiq Ismail. Manifes itu kemudian dinyatakan “terlarang” oleh Bung Karno dan para penandatangannya tersingkir dari kancah kebudayaan. Sitor sendiri kemudian tersingkir, dalam tahanan, sejak awal Orde Baru sampai ia dibebaskan kembali hampir empat tahun yang lalu. “Bung Karno adalah seniman. Ia mempunyai rasa seni dan indah sendiri. Tapi tak berarti ia tak menyukai rasa indah orang lain. Ia sangat toleran dalam hal ini. Saya pernah diperkenalkan kepada Presiden Nasser dari Mesir, “Ini penyair kenamaan Indonesia, tapi saya tak suka sajak-sajaknya.” . . . Saya yakin, beliau tak pernah suka membaca karya sastra. Kalau karya seni lainnya, lukis, patung, film, sandiwara, musik, dia senang dan bisa menikmati. Saya sangat kagum pada pemikiran Bung Karno mengenai masalah kebudayaan. Ia orang Jawa yang mengerti kebudayaan Jawa. Tapi ia bisa mencerminkan rasa nasionalnya dan suku lain tidak merasa tersinggung . . . Jangan diartikan, nasionalisme Bung Karno sekedar mengusap-usap arca atau memuja masa lampau. (Sebagai pemimpin) Bung Karno terlalu mendasarkan diri pada gerak spontan. Ini didasarkan latar belakangnya sendiri. Ia dilahirkan sebagai tokoh secara spontan, tanpa melalui kaderisasi formil dalam organisasi. Maka Bung Karno kurang membenahi organisasi dan terlalu yakin akan munculnya tokoh secara spontan seperti dirinya. Ia kurang memikirkan organisasi, itulah kelemahannya. Tapi sebagai ideolog dan pemikir beliau belum tersusul oleh orang lain. HERAWATY DIAH Tokoh wartawan wanita yang kini aktif di bidang usaha ini — juga isteri B.M. Diah, pemilik harian Merdeka — tak begitu siap untuk mengingat-ingat catatannya tentang Bung Karno dalam satu wawancara singkat. “Yang saya ingat sewaktu jadi redaktur Merdeka sekitar tahun 50-an, dia begitu berperhatian kepada orang banyak, terutama wartawan. Dalam perjalanan di dalam negeri, dia menyuruh kami makan di ujung meja dekat gubernur, sehingga wartawan dapat mendengar langsung apa yang dikatakan oleh pemimpin republik. Dan ia selalu ingat nama orang. Di masa akhirnya ia tak mau mendengarkan nasehat baik dari kawan-kawannya, dan seakan-akan menggali kuburannya sendiri. Ketika di masa belakangan saya melihat ketimpangannya, saya pernah bertanya kepada Abdul Kadir Pringgodigdo, teman lamanya. Pak Pringgo menjawab: “Kalau Bung Karno kini senang akan foya-foya, terlalu sering ke luar negeri, itu karena di masa mudanya dia tak merasakan hal itu. Ketika tualah semua itu dikejarnya.” Teman-temannya selalu memberikan “maaf” kalau Bung Karno berbuat yang berlebihan. Dia memang selalu penuh atensi dan gallant kepada wanita. Biarpun dengan wanita yang sudah tua. HARRY TJAN SILALAHI Anggota Dewan Pertimbangan Agung termuda ini, 45 tahun, di masa muda adalah tokoh terkemuka organisasi mahasiswa Katolik PMKRI. Di tahun 1965-1966 ia tak lagi tokoh mahasiswa, sudah sarjana hukum dari UI dan orang penting dalam Partai Katolik, tapi ia dekat dengan anak-anak muda yang waktu itu aktif menghadapi Orde Lama — dan kian lama kian terus terang menentang Presiden Sukarno. Bersama Almarhum Subchan, tokoh NU, Harry aktif memimpin komando “pengganyangan Gestapu.” Harry sendiri merasa bahwa Bung Karno tak mengenalnya. “Bung Karno adalah putera dari jamannya. Ia telah menjawab panggilan jamannya dengan gemilang dan baik. Tapi, seperti tokoh lainnya, setelah jamannya berubah, tentu saja peranannya juga bergeser. Seorang yang besar ahli melukis tapi lantas disuruh membuat patung ya mungkin tidak bisa — padahal waktu itu yang laku adalah patung. Demikianlah ibaratnya Bung Karno. Di samping itu, umur Bung Karno (menjelang 1965) juga sudah tua, dan semakin kurang dinamis. Dalam karya besarnya persatuan bangsa, ia ternyata tak bisa menghilangkan unsur-unsur yang bisa menyeleweng, meskipun sudah diberitahu. Menurut saya, setelah terjadinya Gestapu, kita semua telah berusaha meyakinkan Bung Karno untuk membubarkan PKI, menghukum para pelaku Gestapu dan dalang-dalangnya. Tapi nampaknya Bung Karno malu mundur — maklum “penyakit” orang tua. GANIS HARSONO Bekas diplomat terkemuka yang kini berumur 57 tahun ini, pernah jadi deputi Menteri Luar Negeri, sekarang mungkin akan lebih dikenal melalui bukunya yang terbit di Australia, Recollections of an Indonesia Diploma, kenangan seorang diplomat Indonesia dari masa politik luar negeri yang aktif ke segenap penjuru dunia di bawah Bung Karno dan Menteri Luar Negeri Subandrio. Ganis menyertai perjalanan Bung Karno di AS dan Uni Soviet, dan menjadi “penghubung” Presiden dengan pers dunia. “Saya punya pendapat bahwa seorang pemimpin dapat produktif hanya dalam masa satu windu, delapan tahun. Bung Karno juga demikian. Ia benar-benar mulai memimpin 1957, dan setelah delapan tahun ia “meninggal” — dalam tanda kutip. Selama delapan tahun itu ia berhasil mengajak teman-temannya untuk membereskan banyak hal. Setelah itu, ia harus menyiapkan penggantinya. Siapa penggantinya? Nonsens bila orang mengatakan itu Aidit, atau Subandrio, atau Ruslan Abdulgani. Orang tidak akan memilih satu orang. Dia akan memilih satu kekuatan yang ampuh, dan itu ABRI. Kini saya bisa katakan (peresmian makam) Blitar merupakan tonggak sejarah baru. Tidak buat rakyat. Tapi bagi yang sedang menjalankan pemerintahan. Dengan adanya Blitar, segala ruwet renteng itu hilang. Tak perlu lagi menyebut-nyebut Orla, Orba. Kalau ada orang yang membandingkan Orba dengan Orla, berpendapat Orla jelek Orba bagus, orang itu harus ditest kesungguhannya. MOH. ROEM Tokoh diplomat Indonesia di masa perundingan dengan Belanda ini, yang juga tokoh partai Masjumi yang kemudian dinyatakan “terlarang” oleh Bung Karno, kini 71 tahun. Di tahun 1960-an bersama beberapa orang lain, antara lain wartawan Mochtar Lubis, dipenjarakan pemerintah Sukarno. Roem sendiri menyatakan bukan orang yang termasuk kalangan intim dengan Bung Karno. “Ia intim dengan guru saya, Haji Agus Salim,” kata Roem. Saya memang dipenjarakan oleh Bung Karno, tapi semua orang menyatakan saya tak benci Sukarno, seperti Syahrir juga — yang meninggal dalam tahanan Sukarno –tak membenci Bung Karno. Saya pikir-pikir memang tak ada gunanya. Cuma membawa penyakit saja. Ada cerita dalam penjara. Subadio Sastrosatomo yang juga dipenjara tiap malam menuruti pesan ibunya jangan tidur sebelum jam 12, karena harus berdoa sedikit di luar kamar. Doanya: “Mudah-mudahan Tuhan mengampuni dosa Sukarno” Karena ibunya tahu, nanti anaknya bisa benci sama Sukarno. Dan saya bagaimana? Saya memang tidak senang dipenjarakan. Sukarno memenjarakan orang tak bersalah itu haram. Tapi saya tidak memintakan ampun kepada Tuhan. Barangkali memang lebih baik sebagai orang Islam saya memintakan ampun, tetapi saya tidak sebegitu baiknya. Lagipula saya berpikir mengapa mintakan doa pengampunan bagi orang yang tidak merasa bersalah. Bung Karno memang kurang senang kepada Masjumi dan pemimpinnya, sebab kami tak mau mengakui demokrasi terpimpin. Bung Karno menghubungkan kami dengan pemberontakan PRRI. Padahal sebagai partai Masjumi menganggap PRRI tak sesuai dengan UUD. Tapi Bung Karno sendiri, dengan mengangkat diri sendiri sebagai formatir kabinet waktu itu, juga tak sesuai dengan UUD. Bagaimana menyelesaikannya? Damai. Tapi Bung Karno yang menjadi diktatur membubarkan ini dan itu. Kini penilaian saya terhadap Bung Karno tetap, tak perlu saya ubah. Waktu Bung Karno dipuja-puja orang, saya tahu dia orang besar. Tapi saya tak pernah ikut-ikut, seperti juga saya tak perlu ikut menginjak-injak dia dulu. SOEDJATMOKO Soedjatmoko, 55 tahun, bekas Dubes Indonesia di AS dan budayawan terkenal, berbicara tentang Bung Karno: “Bung Karno menganjurkan saya untuk masuk politik, setelah 1945. Tapi ada dua hal yang dia pesan. Pertama, katanya, “Kamu jangan masuk PSI.” Waktu itu saya belum PSI, dan baru masuk PSI menjelang pemilu pertama 1955. Kedua, dia katakan, “Kamu mesti kawin.” Saya katakan kepadanya saya waktu itu tidak sedang jatuh cinta. Dia berkata: “Kamu janji pada saya bahwa kamu akan terima pilihan saya untukmu.” Saya tertawa dan menjawab “Bung, kita ‘kan berjuang untuk menegakkan kemerdekaan, dan bukan untuk menyerahkannya kembali — kepada Bung.” Bung Karno menjawab “Ah, kamu . .” Dia marah kepada saya di tahun 1958. Ketika itu dia minta saya ikut masuk dalam kabinet. Saya memang menolak. Saya baru bertemu kembali dengan beliau setelah 11 Maret 1966. Ketika itu saya baru kembali dari sidang umum di PBB, sebagai wakil ketua delegasi Indonesia. Roeslan Abdulgani ketuanya. Saya waktu itu melapor kepada Bung Karno karena dia masih menjabat sebagai presiden. Ia menanyakan secara mendalam, apa sebenarnya yang sedang terjadi di RRC dengan pecahnya “revolusi kebudayaan” (sekitar 1966). Siapa yang akan tampil sebagai pemenang? Dia berkata: “Kalau Mao yang menang, itu berarti revolusi-revolusi besar di dunia masih belum habis.” Jawaban saya: Mao kira-kira akan menang, tapi kekuatannya mulai rapuh. Waktu itu Bung Karno tampak prihatin sekali tentang yang terjadi di RRC — dan juga di Indonesia. Sukarno adalah seorang romantikus tapi juga seorang visioner yang besar. Dalam pandangan dunianya dia tak salah. Saya kira malah banyak benarnya. Cuma terlalu pagi untuk bisa dijadikan landasan, hingga akibatnya Indonesia jadi terisolir. Banyak kejadian di dunia kini misalnya sudah terbayang dalam pandangannya dulu. Tapi garis pertumbuhan suatu bangsa tak hanya ditentukan oleh seorang semata, betapa besarnya pun orang itu. KARNA RADJASA Hubungan dengan Bung Karno secara langsung terjadi setelah ia berusia sekitar 15 tahun. Ketika Ali Sastroamidjojo (ayahnya) menjadi Menteri PPK ia sering mengantar ibunya ke istana, bertemu ibu Fat. “Waktu itu Bung Karno masih di Yogyakarta, dan kami diajak makan bersama. Saya masih ingat, nasinya jagung.” Hubungan yang dimulai sejak masa kanak-kanaknya kemudian berkembang sampai ia dewasa. Sepulang dari AS pada 1955, Karna sering bertemu dengan Bung Karno, terutama pada 1960, ketika Bung Karno selalu menghindari untuk bicara politik dengan Ali Sastroamidjojo. “Rupanya. Bung Karno menghendaki agar Pak Ali selalu membenarkan gagasannya. Ini yang tidak bisa diterima Pak Ali,” kata Karna. Peranan sebagai “perantara” itu kemudian berlanjut, ketika Karna Radjasa kadang diminta untuk bicara soal partai dengan Bung Karno. “Terutama pada 1963-1964 waktu saya menjadi salah satu pimpinan DPP PNI,” katanya. Tapi ia berkesan Bung Karno itu menaruh rasa hormat kepada ayahnya. “Barangkali itu disebabkan Pak Ali punya dukungan kuat di kalangan muda partai,” tambahnya. Karna berpendapat dalam kehidupan sehari-hari Bung Karno itu tidak hipokrit. “Ia polos, blak-blakan, jujur,” katanya. “Tapi dalam politik mengapa ia tak berterus terang dengan orang-orang yang dekat atau kawannya?” tanyanya. “Ini yang sampai sekarang saya tidak mengerti.”

June 18, 2016 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Kontrversi :Harta Karun Emas Indonesia “The Green Hilton Memorial Agreement ” di Geneva (2)

Perjanjian Green Hilton Memorial Ternyata Palsu

greenhilton1-1-of-71Beberapa bulan yang lalu beredar informasi perjanjian Green Hilton Memorial Agreement yang menjelaskan kalau Amerika Serikat berutang emas dengan Indonesia dalam jumlah yang besar. Namun, ternyata ketika kami telusuri, dokumen tersebut palsu. Bagaimanakah kronologisnya? Sebelum kita membahas kepalsuan dokumen tersebut. Ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa itu dokumen Green Hilton Memorial Agreement.

Blog Constantine 23 menulis:

“The Green Hilton Memorial Agreement ” di Geneva pada 14 November 1963

Inilah perjanjian yang paling menggemparkan dunia. Inilah perjanjian yang menyebabkan terbunuhnya Presiden Amerika Serikat John Fitzgerald Kennedy (JFK) 22 November 1963. Inilah perjanjian yang kemudian menjadi pemicu dijatuhkannya Bung Karno dari kursi kepresidenan oleh jaringan CIA yang menggunakan ambisi Soeharto. Dan inilah perjanjian yang hingga kini tetap menjadi misteri terbesar dalam sejarah ummat manusia.

Perjanjian “The Green Hilton Memorial Agreement” di Geneva (Swiss) pada 14 November 1963

Dan, inilah perjanjian yang sering membuat sibuk setiap siapapun yang menjadi Presiden RI. Dan, inilah perjanjian yang membuat sebagian orang tergila-gila menebar uang untuk mendapatkan secuil dari harta ini yang kemudian dikenal sebagai “salah satu” harta Amanah Rakyat dan Bangsa Indonesia. Inilah perjanjian yang oleh masyarakat dunia sebagai Harta Abadi Ummat Manusia. Inilah kemudian yang menjadi sasaran kerja tim rahasia Soeharto menyiksa Soebandrio dkk agar buka mulut. Inilah perjanjian yang membuat Megawati ketika menjadi Presiden RI menagih janji ke Swiss tetapi tidak bisa juga. Padahal Megawati sudah menyampaikan bahwa ia adalah Presiden RI dan ia adalah Putri Bung Karno. Tetapi tetap tidak bisa. Inilah kemudian membuat SBY kemudian membentuk tim rahasia untuk melacak harta ini yang kemudian juga tetap mandul. Semua pihak repot dibuat oleh perjnajian ini.

Perjanjian itu bernama “Green Hilton Memorial Agreement Geneva”. Akta termahal di dunia ini diteken oleh John F Kennedy selaku Presiden AS, Ir Soekarno selaku Presiden RI dan William Vouker yang mewakili Swiss. Perjanjian segitiga ini dilakukan di Hotel Hilton Geneva pada 14 November 1963 sebagai kelanjutan dari MOU yang dilakukan tahun 1961. Intinya adalah, Pemerintahan AS mengakui keberadaan emas batangan senilai lebih dari 57 ribu ton emas murni yang terdiri dari 17 paket emas dan pihak Indonesia menerima batangan emas itu menjadi kolateral bagi dunia keuangan AS yang operasionalisasinya dilakukan oleh Pemerintahan Swiss melalui United Bank of Switzerland (UBS).

Pada dokumen lain yang tidak dipublikasi disebutkan, atas penggunaan kolateral tersebut AS harus membayar fee sebesar 2,5% setahun kepada Indonesia. Hanya saja, ketakutan akan muncul pemimpinan yang korup di Indonesia, maka pembayaran fee tersebut tidak bersifat terbuka. Artinya hak kewenangan pencairan fee tersebut tidak berada pada Presiden RI siapa pun, tetapi ada pada sistem perbankkan yang sudah dibuat sedemikian rupa, sehingga pencairannya bukan hal mudah, termasuk bagi Presiden AS sendiri.

Account khusus ini dibuat untuk menampung aset tersebut yang hingga kini tidak ada yang tahu keberadaannya kecuali John F Kennedy dan Soekarno sendiri. Sayangnya sebelum Soekarno mangkat, ia belum sempat memberikan mandat pencairannya kepada siapa pun di tanah air. Malah jika ada yang mengaku bahwa dialah yang dipercaya Bung Karno untuk mencairkan harta, maka dijamin orang tersebut bohong, kecuali ada tanda-tanda khusus berupa dokumen penting yang tidak tahu siapa yang menyimpan hingga kini.

Menurut sebuah sumber di Vatikan, ketika Presiden AS menyampaikan niat tersebut kepada Vatikan, Paus sempat bertanya apakah Indonesia telah menyetujuinya. Kabarnya, AS hanya memanfaatkan fakta MOU antara negara G-20 di Inggris dimana Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ikut menanda tangani suatu kesepakatan untuk memberikan otoritas kepada keuangan dunia IMF dan World Bank untuk mencari sumber pendanaan alternatif. Konon kabarnya, Vatikan berpesan agar Indonesia diberi bantuan. Mungkin bantuan IMF sebesar USD 2,7 milyar dalam fasilitas SDR (Special Drawing Rights) kepada Indonesia pertengahan tahun lalu merupakan realisasi dari kesepakatan ini, sehingga ada isyu yang berkembang bahwa bantuan tersebut tidak perlu dikembalikan. Oleh Bank Indonesia memang bantuan IMF sebesar itu dipergunakan untuk memperkuat cadangan devisa negara.

Kalau benar itu, maka betapa nistanya rakyat Indonesia. Kalau benar itu terjadi betapa bodohnya Pemerintahan kita dalam masalah ini. Kalau ini benar terjadi betapa tak berdayanya bangsa ini, hanya kebagian USD 2,7 milyar. Padahal harta tersebut berharga ribuan trilyun dollar Amerika. Aset itu bukan aset gratis peninggalan sejarah, aset tersebut merupakan hasil kerja keras nenek moyang kita di era masa keemasan kerajaan di Indonesia.

Asal Mula Perjanjian “Green Hilton Memorial Agreement”

Setelah masa perang dunia berakhir, negara-negara timur dan barat yang terlibat perang mulai membangun kembali infrastrukturnya. Akan tetapi, dampak yang telah diberikan oleh perang tersebut bukan secara materi saja tetapi juga secara psikologis luar biasa besarnya. Pergolakan sosial dan keagamaan terjadi dimana-mana. Orang-orang ketakutan perang ini akan terjadi lagi. Pemerintah negara-negara barat yang banyak terlibat pada perang dunia berusaha menenangkan rakyatnya, dengan mengatakan bahwa rakyat akan segera memasuki era industri dan teknologi yang lebih baik. Para bankir Yahudi mengetahui bahwa negara-negara timur di Asia masih banyak menyimpan cadangan emas. Emas tersebut akan di jadikan sebagai kolateral untuk mencetak uang yang lebih banyak yang akan digunakan untuk mengembangkan industri serta menguasai teknologi. Karena teknologi Informasi sedang menanti di zaman akan datang.

Sesepuh Mason yang bekerja di Federal Reserve (Bank Sentral di Amerika) bersama bankir-bankir dari Bank of International Settlements / BIS (Pusat Bank Sentral dari seluruh Bank Sentral di Dunia) mengunjungi Indonesia. Melalui pertemuan dengan Presiden Soekarno, mereka mengatakan bahwa atas nama kemanusiaan dan pencegahan terjadinya kembali perang dunia yang baru saja terjadi dan menghancurkan semua negara yang terlibat, setiap negara harus mencapai kesepakatan untuk mendayagunakan kolateral Emas yang dimiliki oleh setiap negara untuk program-program kemanusiaan. Dan semua negara menyetujui hal tersebut, termasuk Indonesia. Akhirnya terjadilah kesepakatan bahwa emas-emas milik negara-negara timur (Asia) akan diserahkan kepada Federal Reserve untuk dikelola dalam program-program kemanusiaan. Sebagai pertukarannya, negara-negara Asia tersebut menerima Obligasi dan Sertifikat Emas sebagai tanda kepemilikan. Beberapa negara yang terlibat diantaranya Indonesia, Cina dan Philippina. Pada masa itu, pengaruh Soekarno sebagai pemimpin dunia timur sangat besar, hingga Amerika merasa khawatir ketika Soekarno begitu dekat dengan Moskow dan Beijing yang notabene adalah musuh Amerika.

Namun beberapa tahun kemudian, Soekarno mulai menyadari bahwa kesepakatan antara negara-negara timur dengan barat (Bankir-Bankir Yahudi dan lembaga keuangan dunia) tidak di jalankan sebagaimana mestinya. Soekarno mencium persekongkolan busuk yang dilakukan para Bankir Yahudi tersebut yang merupakan bagian dari Freemasonry. Tidak ada program-program kemanusiaan yang dijalankan mengunakan kolateral tersebut. Soekarno protes keras dan segera menyadari negara-negara timur telah di tipu oleh Bankir International. Akhirnya Pada tahun 1963, Soekarno membatalkan perjanjian dengan para Bankir Yahudi tersebut dan mengalihkan hak kelola emas-emas tersebut kepada Presiden Amerika Serikat John F.Kennedy (JFK). Ketika itu Amerika sedang terjerat utang besar-besaran setelah terlibat dalam perang dunia. Presiden JFK menginginkan negara mencetak uang tanpa utang. Karena kekuasaan dan tanggung jawab Federal Reserve bukan pada pemerintah Amerika melainkan di kuasai oleh swasta yang notabene nya bankir Yahudi. Jadi apabila pemerintah Amerika ingin mencetak uang, maka pemerintah harus meminjam kepada para bankir yahudi tersebut dengan bunga yang tinggi sebagai kolateral. Pemerintah Amerika kemudian melobi Presiden Soekarno agar emas-emas yang tadinya dijadikan kolateral oleh bankir Yahudi di alihkan ke Amerika. Presiden Kennedy bersedia meyakinkan Soekarno untuk membayar bunga 2,5% per tahun dari nilai emas yang digunakan dan mulai berlaku 2 tahun setelah perjanjian ditandatangani. Setelah dilakukan MOU sebagai tanda persetujuan, maka dibentuklah Green Hilton Memorial Agreement di Jenewa (Swiss) yang ditandatangani Soekarno dan John F.Kennedy. Melalui perjanjian itu pemerintah Amerika mengakui Emas batangan milik bangsa Indonesia sebesar lebih dari 57.000 ton dalam kemasan 17 Paket emas

Melalui perjanjian ini Soekarno sebagai pemegang mandat terpercaya akan melakukan reposisi terhadap kolateral emas tersebut, kemudian digunakan ke dalam sistem perbankan untuk menciptakan Fractional Reserve Banking terhadap dolar Amerika. Perjanjian ini difasilitasi oleh Threepartheid Gold Commision dan melalui perjanjian ini pula kekuasaan terhadap emas tersebut berpindah tangan ke pemerintah Amerika.

Dari kesepakatan tersebut, dikeluarkanlah Executive Order bernomor 11110, di tandatangani oleh Presiden JFK yang memberi kuasa penuh kepada Departemen Keuangan untuk mengambil alih hak menerbitkan mata uang dari Federal Reserve. Apa yang pernah di lakukan oleh Franklin, Lincoln, dan beberapa presiden lainnya, agar Amerika terlepas dari belenggu sistem kredit bankir Yahudi juga diterapkan oleh presiden JFK. salah satu kuasa yang diberikan kepada Departemen keuangan adalah menerbitkan sertifikat uang perak atas koin perak sehingga pemerintah bisa menerbitkan dolar tanpa utang lagi kepada Bank Sentral (Federal Reserve).

Tidak lama berselang setelah penandatanganan Green Hilton Memorial Agreement tersebut, presiden Kennedy di tembak mati oleh Lee Harvey Oswald. Setelah kematian Kennedy, tangan-tangan gelap bankir Yahudi memindahkan kolateral emas tersebut ke International Collateral Combined Accounts for Global Debt Facility di bawah pengawasan OITC (The Office of International Treasury Control) yang semuanya dikuasai oleh bankir Yahudi. Perjanjian itu juga tidak pernah efektif, hingga saat Soekarno ditumbangkan oleh gerakan Orde baru yang didalangi oleh CIA yang kemudian mengangkat Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia. Sampai pada saat Soekarno jatuh sakit dan tidak lagi mengurus aset-aset tersebut hingga meninggal dunia. Satu-satunya warisan yang ditinggalkan, yang berkaitan dengan Green Hilton Memorial Agreement tersebut adalah sebuah buku bersandi yang menyembunyikan ratusan akun dan sub-akun yang digunakan untuk menyimpan emas, yang terproteksi oleh sistem rahasia di Federal Reserve bernama The Black screen. Buku itu disebut Buku Maklumat atau The Book of codes. Buku tersebut banyak di buru oleh kalangan Lembaga Keuangan Dunia, Para sesepuh Mason, para petinggi politik Amerika dan Inteligen serta yang lainnya. Keberadaan buku tersebut mengancam eksistensi Lembaga keuangan barat yang berjaya selama ini.

Sampai hari ini, tidak satu rupiah pun dari bunga dan nilai pokok aset tersebut dibayarkan pada rakyat Indonesia melalui pemerintah, sesuai perjanjian yang disepakati antara JFK dan Presiden Soekarno melalui Green Hilton Agreement. Padahal mereka telah menggunakan emas milik Indonesia sebagai kolateral dalam mencetak setiap dollar.

Hal yang sama terjadi pada bangsa China dan Philipina. Karena itulah pada awal tahun 2000-an China mulai menggugat di pengadilan Distrik New York. Gugatan yang bernilai triliunan dollar Amerika Serikat ini telah mengguncang lembaga-lembaga keuangan di Amerika dan Eropa. Namun gugatan tersebut sudah lebih dari satu dasawarsa dan belum menunjukkan hasilnya. Memang gugatan tersebut tidaklah mudah, dibutuhkan kesabaran yang tinggi, karena bukan saja berhadapan dengan negara besar seperti Amerika, tetapi juga berhadapan dengan kepentingan Yahudi bahkan kabarnya ada kepentingan dengan Vatikan. Akankah Pemerintah Indonesia mengikuti langkah pemerintah Cina yang menggugat atas hak-hak emas rakyat Indonesia yang bernilai Ribuan Trilyun Dollar…(bisa untuk membayar utang Indonesia dan membuat negri ini makmur dan sejahtera)..

Nah, setelah kita mengetahui apa isi perjanjian tersebut. Barulah kita membongkar isi dari dokumen tersebut. Blog XFile Enigma punya jawaban terkait palsunya dokumen tersebut. Berikut analisanya:

Jika mau menelusuri lebih jauh, saya yakin akan menemukan lebih banyak bukti palsunya dokumen ini. Namun saya berhenti ketika telah mendapatkan beberapa yang saya anggap cukup fatal. Nah, ini adalah bukti-bukti yang saya maksud.
Stempel Kepresidenan Amerika Serikat
Salah satu poin mencurigakan dari dokumen ini adalah stempel kepresidenan Amerika Serikat.

Stempel kepresidenan Amerika ada di sebelah kiri. Pada stempel tersebut tertulis United States of America (Bagian atas) dan The President (Bagian bawah). Masalahnya adalah desain semacam ini tidak pernah digunakan sama sekali.
Memang desain stempel presiden Amerika Serikat beberapa kali mengalami perubahan. Tapi tidak pernah ada yang menyerupai stempel pada dokumen Green Hilton Memorial Agreement tersebut.
Berikut adalah stempel kepresidenan Amerika Serikat.

Pada stempel yang asli, di belakang burung Rajawali terdapat 13 gumpalan awan yang tidak terlihat pada stempel dokumen Green Hilton memorial Agreement.
Desain stempel semacam ini mulai berlaku sejak executive order 10860 tahun 1960. Pada tahun 1963, seharusnya Kennedy juga menggunakan stempel yang sama.
Lalu bagaimana dengan stempel kepresidenan Republik Indonesia?
Stempel Presiden Sukarno pada dokumen tersebut mirip dengan stempel kepresidenan yang didesain tahun 1950. Jadi saya rasa tidak bermasalah.

Memang, ada kemungkinan bahwa saya salah dalam hal ini. Bisa saja stempel yang digunakan pada perjanjian internasional berbeda dengan versi resmi (Stempel presiden Amerika memiliki beberapa versi tergantung tujuan penggunaan). Namun saya kira kemungkinannya akan sangat kecil. Penggunaaan kata “United States of America” sendiri tidak pernah ada di dalam stempel versi manapun. Yang ada hanya “United States”.
Jadi, bukti pertama kita adalah masalah stempel kepresidenan Amerika yang tidak sesuai.
Sekali lagi, mungkin saya salah, mungkin juga tidak. Karena itu untuk menguatkan dugaan saya mengenai palsunya dokumen ini, saya akan memberikan bukti tambahan.
Bekas Cropping Pada Dokumen?
Jika kita melihat dengan baik salah satu screenshot dokumen yang ada, kita bisa melihat logo burung Garuda di atas dokumen sepertinya merupakan hasil sebuah cropping.

Lihat bekas seperti kotak pada burung Garuda tersebut. Apakah itu bekas cropping? Jika iya, maka sepertinya logo itu telah ditempel lewat photoshop.
Selain itu, logo burung Garuda tersebut berbeda dengan stempel resmi kepresidenan RI. Kita tidak pernah melihat ada logo resmi negara dengan sayap Garuda memotong lingkaran.
Desain semacam ini mirip dengan pajangan burung Garuda yang ada di kedutaan besar Republik Indonesia di Washington.
Tapi, ini adalah pajangan. Tentu saja berbeda dengan stempel resmi untuk dokumen. Apakah mungkin sang pemalsu dokumen telah meniru desain pajangan ini karena mengiranya sebagai versi resmi kepresidenan RI?
Nah, untuk yang satu ini, saya pun tidak mengatakan bahwa saya pasti benar. Bisa jadi kertas dokumen tersebut memang memiliki bentuk “kotak” seperti cropping. Dan bisa jadi juga saya salah dalam hal penggunaan logo resmi kepresidenan pada perjanjian internasional.
Untuk itu, saya akan memberikan bukti lainnya.

Tanda Tangan Sukarno
Dari dokumen Green Hilton Memorial tersebut, ada indikasi bahwa tanda tangan Presiden Sukarno berbeda dengan tanda tangan aslinya. Mari kita bandingkan tanda tangan Sukarno pada dokumen tersebut dengan tanda tangan asli yang kita miliki.

Ini adalah tanda tangan Sukarno yang asli yang diambil dari potongan Keppres No.129 tahun 1961 tentang penyederhanaan partai politik.

Sedangkan ini adalah tanda tangan Sukarno pada dokumen Green Hilton.

Sedikit mengenai tanda tangan. Karena tanda tangan merupakan hasil dari tulisan tangan, maka hampir dipastikan bahwa tidak akan ada tanda tangan yang sama persis, bahkan walaupun yang menandatangani adalah orang yang sama. Kadang, mood yang berbeda bisa menghasilkan tanda tangan yang berbeda pula.

Tapi, ada satu yang selalu sama.
Yang saya maksud adalah cara dia menarik garisnya (stroke).
Tanda tangan sendiri adalah produk dari kebiasaan yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Ketika seseorang membubuhinya di atas sebuah dokumen, ia tidak berpikir. Ia hanya menggoreskan penanya. Semuanya otomatis, sama seperti ketika kalian mengikat tali sepatu. Karena itu, cara dia menarik garis pasti akan sama pada setiap tanda tangan.
Jadi, jika kalian ingin memeriksa keaslian tanda tangan seseorang, periksalah tarikan garisnya. Jika berbeda, maka dipastikan bahwa tanda tangan tersebut telah dipalsukan, walaupun terlihat sangat mirip.
Dalam kasus dokumen Green Hilton Memorial Agreement ini, jelas arah tarikan garis kedua tanda tangan berbeda.
Saya membuat alur tarikan garis untuk tanda tangan asli dan tanda tangan pada dokumen Green Hilton. kalian bisa melihat keduanya sangat jauh berbeda. Terlihat pada huruf “S”, “K” dan “R”.

Ini adalah alur tarikan garis pada tanda tangan asli.

Dan ini adalah alur tarikan garis pada dokumen Green Hilton Memorial

 

Bisakah kalian melihat perbedaannya?
Selain perbedaan pada tiga huruf tersebut, salah satu kesalahan yang paling fatal adalah kurangnya tanda titik dan garis pada tanda tangan Green Hilton Memorial. Kalian bisa memeriksa semua tanda tangan Sukarno. Titik dan garis pada ujung tanda tangan tersebut selalu ada.
Pada dokumen yang satu lagi, titik dan garis ini muncul. Tapi, tarikan garis pada huruf “S” berbeda dengan yang satunya lagi.

Saya tidak akan heran dengan hal ini. Mereka yang meniru tanda tangan pasti hanya akan memiripkan tanda tangan tanpa peduli dengan alur tarikannya.
Selain masalah tarikan. Ada satu lagi yang menarik. Jika kalian teliti, pasti kalian sudah bisa menemukan perbedaan lainnya dari tanda tangan yang asli dan tidak.
Perhatikan kembali gambar tanda tangan asli dan tanda tangan pada Green Hilton Memorial. Bisakah kalian melihat perbedaannya?
Perbedaannya adalah pada nama penandatangan. Pada tanda tangan asli ditulis “Sukarno”. Pada tanda tangan palsu ditulis “Soekarno”. Sebuah kesalahan kecil yang dilupakan oleh sang pemalsu.
Soal ejaan ini, ada ceritanya.
Dalam buku Bung Karno penyambung lidah rakyat karya Cindy Adams yang terbit tahun 1965, disebutkan bahwa Presiden Sukarno sendirilah yang meminta namanya ditulis dengan “Sukarno” dan bukan “Soekarno”. Ini dikarenakan pada tahun 1947, Indonesia sudah resmi menggunakan Ejaan Soewandi  yang salah satu cirinya adalah mengganti “OE” dengan “U”. Jadi Sukarno ingin konsisten dengan perubahan itu.
Sang pemalsu tanda tangan mungkin melihat tanda tangannya dan membaca “Soekarno” sehingga ia ikut memberikan nama itu pada dokumen.
Masih kurang kuatkah buktinya?
Kalau begitu, saya berikan bukti yang terakhir.
Keberadaan Presiden Sukarno dan Kennedy

Sebuah dokumen resmi negara tidak boleh salah dalam pemberian tanggal. Dalam surat kelurahan, mungkin masih bisa. Tapi jelas tidak untuk perjanjian sekaliber Green Hilton Memorial ini.

Pada kasus Green Hilton Memorial, disebutkan bahwa dokumen tersebut ditandatangani pada tanggal 14 November 1963 di Jenewa, Swiss.

Kita bisa memeriksa keabsahannya dengan cara melacak keberadaan sang penandatangan. Dalam hal ini Presiden Sukarno dan Kennedy.

Lalu dimana Sukarno pada tanggal tersebut?

Memang susah melacak keberadaan Sukarno. Soalnya dokumentasi kita tidak cukup memadai. Namun ada indikasi kuat bahwa Sukarno tidak berada di Swiss.
Tahun 1960-an adalah tahun yang cukup rumit bagi Indonesia. Tahun 1962, Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah Asian Games ke-4. Karena Indonesia menjalin hubungan baik dengan Cina dan Palestina, maka Indonesia menolak keikutsertaan Taiwan dan Israel. Ini menyebabkan komite Olimpiade Internasional memberi sanksi kepada Indonesia.
Sukarno menjadi marah. Lalu ia memutuskan untuk menciptakan event tandingan semacam Olimpiade yang disebut Ganefo (Games of the New Emerging Forces). Sambil membawa semangat yang juga dibawa oleh gerakan non blok, Sukarno menekankan kekuatan Ganefo sebagai simbol pemberontakan terhadap kekuatan adidaya.
Nah, Ganefo pertama diadakan pada tanggal 10-22 November 1963. Acara tersebut dibuka langsung oleh Presiden Sukarno. Jadi pada tanggal 10 November, Sukarno masih ada di Jakarta. Tidak ada catatan mengenai keberadaannya pada tanggal 14 November.
Tapi pertanyaannya adalah: “Apakah dalam masa penyelenggaraan event yang dianggapnya sebagai simbol kekuatan negara-negara berkembang itu Sukarno mau pergi ke Swiss?
Saya rasa tidak.
Jadi, saya menduga bahwa Sukarno tidak berada di Swiss pada tanggal itu. Saya pun tidak bisa menemukan catatan perjalanannya ke Swiss pada tanggal tersebut.
Mungkin kalian masih belum puas dengan jawaban ini. Tunggu dulu. Masih ada Kennedy.
Sebenarnya pemalsu dokumen ini kurang teliti. Seharusnya mereka tahu bahwa gerak-gerik presiden Amerika dicatat dengan teliti dan didokumentasikan dengan sangat baik. Bahkan 50 tahun setelah itu, kita masih bisa melacaknya.
Dalam kasus ini mereka telah memilih tanggal yang salah. Dan ini fatal.
Pada tanggal 14 November 1963, Kennedy ternyata sedang berada di Washington, Amerika Serikat, dan tidak berada di Swiss. Saat itu ia memberikan konferensi pers dan menjawab pertanyaan berbagai wartawan. Kalian bisa melihatnya di situs JFK Library atau kalian juga bisa melihat rekamannya di link youtube berikut ini.

Masih belum puas?
Baiklah, saya lanjutkan.
Pada tanggal 15 November 1963, Kennedy juga tidak ada di Swiss karena ia menghadiri konferensi AFL CIO di New York. AFL CIO adalah salah satu organisasi serikat buruh di Amerika.
Tapi tunggu dulu. Mungkin di antara kalian ada yang tidak puas lalu bertanya, “Bro enigma, apa yang dilakukan Kennedy sebelum ia konferensi pers pada tanggal 14 November?”
Pertanyaan bagus. Pada tanggal 13 November, Kennedy masih ada di Washington, menghadari acara dengan Resimen Black Watch of the Royal Highlanders. Kalian bisa melihat rekaman youtubenya disini.

Bagaimana? bukankah ini membuktikan bahwa pada tanggal 13,14 dan 15 November 1963 Kennedy tidak berada di Swiss? Jadi bagaimana caranya ia menandatangani dokumen Green Hilton Memorial tersebut?
Indikasi stempel kepresidenan Amerika yang palsu, kemungkinan cropping pada dokumen, tanda tangan Sukarno yang juga terindikasi dipalsukan dan Presiden Kennedy yang jelas tidak berada di Swiss pada tanggal ditandatanganinya dokumen itu. Apakah bukti-bukti ini masih kurang kuat?

Jadi, sudah mengerti kan, dimana letak palsunya. Selain informasi Green Hilton Memorial Agreement ini masih banyak di internet beredar informasi-informasi yang aneh-aneh yang baru kita ketahui. Dan bagi kitalah untuk dapat pintar-pintar menfilternya. Jangan menerima mentah-mentah informasi yang beredar. Cek and ricek terlebih dahulu. (mugiwara no nakama/informasi ini didapatkan dari blog Constatine23.wordpress.com dan Xfile-enigma.blogspot.com)

June 16, 2016 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Kontrversi :Harta Karun Emas Indonesia “The Green Hilton Memorial Agreement ” di Geneva (1)

 

GambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambar

“The Green Hilton Memorial Agreement ” di Geneva pada 14 November 1963

Inilah perjanjian yang paling menggemparkan dunia. Inilah perjanjian yang menyebabkan terbunuhnya Presiden Amerika Serikat John Fitzgerald Kennedy (JFK) 22 November 1963. Inilah perjanjian yang kemudian menjadi pemicu dijatuhkannya Bung Karno dari kursi kepresidenan oleh jaringan CIA yang menggunakan ambisi Soeharto. Dan inilah perjanjian yang hingga kini tetap menjadi misteri terbesar dalam sejarah ummat manusia.

Perjanjian “The Green Hilton Memorial Agreement” di Geneva (Swiss) pada 14 November 1963

Dan, inilah perjanjian yang sering membuat sibuk setiap siapapun yang menjadi Presiden RI. Dan, inilah perjanjian yang membuat sebagian orang tergila-gila menebar uang untuk mendapatkan secuil dari harta ini yang kemudian dikenal sebagai “salah satu” harta Amanah Rakyat dan Bangsa Indonesia. Inilah perjanjian yang oleh masyarakat dunia sebagai Harta Abadi Ummat Manusia. Inilah kemudian yang menjadi sasaran kerja tim rahasia Soeharto menyiksa Soebandrio dkk agar buka mulut. Inilah perjanjian yang membuat Megawati ketika menjadi Presiden RI menagih janji ke Swiss tetapi tidak bisa juga. Padahal Megawati sudah menyampaikan bahwa ia adalah Presiden RI dan ia adalah Putri Bung Karno. Tetapi tetap tidak bisa. Inilah kemudian membuat SBY kemudian membentuk tim rahasia untuk melacak harta ini yang kemudian juga tetap mandul. Semua pihak repot dibuat oleh perjanjian ini.

Perjanjian itu bernama “Green Hilton Memorial Agreement Geneva”. Akta termahal di dunia ini diteken oleh John F. Kennedy selaku Presiden AS, Ir Soekarno selaku Presiden RI dan William Vouker yang mewakili Swiss. Perjanjian segitiga ini dilakukan di Hotel Hilton Geneva pada 14 November 1963 sebagai kelanjutan dari MOU yang dilakukan tahun 1961. Intinya adalah, Pemerintahan AS mengakui keberadaan emas batangan senilai lebih dari 57 ribu ton emas murni yang terdiri dari 17 paket emas dan pihak Indonesia menerima batangan emas itu menjadi kolateral bagi dunia keuangan AS yang operasionalisasinya dilakukan oleh Pemerintahan Swiss melalui United Bank of Switzerland (UBS).

Pada dokumen lain yang tidak dipublikasi disebutkan, atas penggunaan kolateral tersebut AS harus membayar fee sebesar 2,5% setahun kepada Indonesia. Hanya saja, ketakutan akan muncul pemimpinan yang korup di Indonesia, maka pembayaran fee tersebut tidak bersifat terbuka. Artinya hak kewenangan pencairan fee tersebut tidak berada pada Presiden RI siapa pun, tetapi ada pada sistem perbankkan yang sudah dibuat sedemikian rupa, sehingga pencairannya bukan hal mudah, termasuk bagi Presiden AS sendiri.

Account khusus ini dibuat untuk menampung aset tersebut yang hingga kini tidak ada yang tahu keberadaannya kecuali John F. Kennedy dan Soekarno sendiri. Sayangnya sebelum Soekarno mangkat, ia belum sempat memberikan mandat pencairannya kepada siapa pun di tanah air. Malah jika ada yang mengaku bahwa dialah yang dipercaya Bung Karno untuk mencairkan harta, maka dijamin orang tersebut bohong, kecuali ada tanda-tanda khusus berupa dokumen penting yang tidak tahu siapa yang menyimpan hingga kini.

Menurut sebuah sumber di Vatikan, ketika Presiden AS menyampaikan niat tersebut kepada Vatikan, Paus sempat bertanya apakah Indonesia telah menyetujuinya. Kabarnya, AS hanya memanfaatkan fakta MOU antara negara G-20 di Inggris dimana Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ikut menanda tangani suatu kesepakatan untuk memberikan otoritas kepada keuangan dunia IMF dan World Bank untuk mencari sumber pendanaan alternatif. Konon kabarnya, Vatikan berpesan agar Indonesia diberi bantuan. Mungkin bantuan IMF sebesar USD 2,7 milyar dalam fasilitas SDR (Special Drawing Rights) kepada Indonesia pertengahan tahun lalu merupakan realisasi dari kesepakatan ini, sehingga ada isu yang berkembang bahwa bantuan tersebut tidak perlu dikembalikan. Oleh Bank Indonesia memang bantuan IMF sebesar itu dipergunakan untuk memperkuat cadangan devisa negara.

Kalau benar itu, maka betapa nistanya rakyat Indonesia. Kalau benar itu terjadi betapa bodohnya Pemerintahan kita dalam masalah ini. Kalau ini benar terjadi betapa tak berdayanya bangsa ini, hanya kebagian USD 2,7 milyar. Padahal harta tersebut berharga ribuan trilyun dollar Amerika. Aset itu bukan aset gratis peninggalan sejarah, aset tersebut merupakan hasil kerja keras nenek moyang kita di era masa keemasan kerajaan di Indonesia.

Asal Mula Perjanjian “Green Hilton Memorial Agreement”

Setelah masa perang dunia berakhir, negara-negara timur dan barat yang terlibat perang mulai membangun kembali infrastrukturnya. Akan tetapi, dampak yang telah diberikan oleh perang tersebut bukan secara materi saja tetapi juga secara psikologis luar biasa besarnya. Pergolakan sosial dan keagamaan terjadi dimana-mana. Orang-orang ketakutan perang ini akan terjadi lagi. Pemerintah negara-negara barat yang banyak terlibat pada perang dunia berusaha menenangkan rakyatnya, dengan mengatakan bahwa rakyat akan segera memasuki era industri dan teknologi yang lebih baik. Para bankir Yahudi mengetahui bahwa negara-negara timur di Asia masih banyak menyimpan cadangan emas. Emas tersebut akan di jadikan sebagai kolateral untuk mencetak uang yang lebih banyak yang akan digunakan untuk mengembangkan industri serta menguasai teknologi. Karena teknologi Informasi sedang menanti di zaman akan datang.

Sesepuh Mason yang bekerja di Federal Reserve (Bank Sentral di Amerika) bersama bankir-bankir dari Bank of International Settlements / BIS (Pusat Bank Sentral dari seluruh Bank Sentral di Dunia) mengunjungi Indonesia. Melalui pertemuan dengan Presiden Soekarno, mereka mengatakan bahwa atas nama kemanusiaan dan pencegahan terjadinya kembali perang dunia yang baru saja terjadi dan menghancurkan semua negara yang terlibat, setiap negara harus mencapai kesepakatan untuk mendayagunakan kolateral Emas yang dimiliki oleh setiap negara untuk program-program kemanusiaan. Dan semua negara menyetujui hal tersebut, termasuk Indonesia. Akhirnya terjadilah kesepakatan bahwa emas-emas milik negara-negara timur (Asia) akan diserahkan kepada Federal Reserve untuk dikelola dalam program-program kemanusiaan. Sebagai pertukarannya, negara-negara Asia tersebut menerima Obligasi dan Sertifikat Emas sebagai tanda kepemilikan. Beberapa negara yang terlibat diantaranya Indonesia, Cina dan Filippina. Pada masa itu, pengaruh Soekarno sebagai pemimpin dunia timur sangat besar, hingga Amerika merasa khawatir ketika Soekarno begitu dekat dengan Moscow dan Beijing yang notabene adalah musuh Amerika.

Namun beberapa tahun kemudian, Soekarno mulai menyadari bahwa kesepakatan antara negara-negara timur dengan barat (Bankir-Bankir Yahudi dan lembaga keuangan dunia) tidak di jalankan sebagaimana mestinya. Soekarno mencium persekongkolan busuk yang dilakukan para Bankir Yahudi tersebut yang merupakan bagian dari Freemansori. Tidak ada program-program kemanusiaan yang dijalankan mengunakan kolateral tersebut. Soekarno protes keras dan segera menyadari negara-negara timur telah di tipu oleh Bankir International. Akhirnya Pada tahun 1963, Soekarno membatalkan perjanjian dengan para Bankir Yahudi tersebut dan mengalihkan hak kelola emas-emas tersebut kepada Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy (JFK). Ketika itu Amerika sedang terjerat utang besar-besaran setelah terlibat dalam perang dunia. Presiden JFK menginginkan negara mencetak uang tanpa utang. Karena kekuasaan dan tanggung jawab Federal Reserve bukan pada pemerintah Amerika melainkan di kuasai oleh swasta yang notabene nya bankir Yahudi. Jadi apabila pemerintah Amerika ingin mencetak uang, maka pemerintah harus meminjam kepada para bankir yahudi tersebut dengan bunga yang tinggi sebagai kolateral. Pemerintah Amerika kemudian melobi Presiden Soekarno agar emas-emas yang tadinya dijadikan kolateral oleh bankir Yahudi di alihkan ke Amerika. Presiden Kennedy bersedia meyakinkan Soekarno untuk membayar bunga 2,5% per tahun dari nilai emas yang digunakan dan mulai berlaku 2 tahun setelah perjanjian ditandatangani. Setelah dilakukan MOU sebagai tanda persetujuan, maka dibentuklah Green Hilton Memorial Agreement di Jenewa (Swiss) yang ditanda tangani Presiden Soekarno dan John F. Kennedy. Melalui perjanjian itu pemerintah Amerika mengakui Emas batangan milik bangsa Indonesia sebesar lebih dari 57.000 ton dalam kemasan 17 Paket emas

Melalui perjanjian ini Soekarno sebagai pemegang mandat terpercaya akan melakukan reposisi terhadap kolateral emas tersebut, kemudian digunakan ke dalam sistem perbankan untuk menciptakan Fractional Reserve Banking terhadap dolar Amerika. Perjanjian ini difasilitasi oleh Threepartheid Gold Commision dan melalui perjanjian ini pula kekuasaan terhadap emas tersebut berpindah tangan ke pemerintah Amerika.
Dari kesepakatan tersebut, dikeluarkanlah Executive Order bernomor 11110, di tanda tangani oleh Presiden John F. Kennedy yang memberi kuasa penuh kepada Departemen Keuangan untuk mengambil alih hak menerbitkan mata uang dari Federal Reserve. Apa yang pernah di lakukan oleh Benjamin Franklin, Lincoln, dan beberapa presiden lainnya, agar Amerika terlepas dari belenggu sistem kredit bankir Yahudi juga diterapkan oleh presiden John F. Kennedy. salah satu kuasa yang diberikan kepada Departemen keuangan adalah menerbitkan sertifikat uang perak atas koin perak sehingga pemerintah bisa menerbitkan dolar tanpa utang lagi kepada Bank Sentral (Federal Reserve)
Tidak lama berselang setelah penandatanganan Green Hilton Memorial Agreement tersebut, presiden Kennedy di tembak mati oleh Lee Harvey Oswald. Setelah kematian Kennedy, tangan-tangan gelap bankir Yahudi memindahkan kolateral emas tersebut ke International Collateral Combined Accounts for Global Debt Facility di bawah pengawasan OITC (The Office of International Treasury Control) yang semuanya dikuasai oleh bankir Yahudi. Perjanjian itu juga tidak pernah efektif, hingga saat Soekarno di tumbangkan oleh gerakan Orde baru yang di dalangi oleh CIA yang kemudian mengangkat Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia. Sampai pada saat Soekarno jatuh sakit dan tidak lagi mengurus aset-aset tersebut hingga meninggal dunia. Satu-satunya warisan yang ditinggalkan, yang berkaitan dengan Green Hilton Memorial Agreement tersebut adalah sebuah buku bersandi yang menyembunyikan ratusan akun dan sub-akun yang digunakan untuk menyimpan emas, yang terproteksi oleh sistem rahasia di Federal Reserve bernama The Black Screen. Buku itu disebut Buku Maklumat atau The Book of Codes. Buku tersebut banyak di buru oleh kalangan Lembaga Keuangan Dunia, Para sesepuh Mason, para petinggi politik Amerika dan Inteligen serta yang lainnya. Keberadaan buku tersebut mengancam eksistensi Lembaga keuangan barat yang berjaya selama ini.

Sampai hari ini, tidak satu rupiah pun dari bunga dan nilai pokok aset tersebut dibayarkan pada rakyat Indonesia melalui pemerintah, sesuai perjanjian yang disepakati antara John F. Kennedy dan Presiden Soekarno melalui Green Hilton Agreement. Padahal mereka telah menggunakan emas milik Indonesia sebagai kolateral dalam mencetak setiap dollar.

Hal yang sama terjadi pada bangsa China dan Filipina. Karena itulah pada awal tahun 2000-an China mulai menggugat di pengadilan Distrik New York. Gugatan yang bernilai triliunan dollar Amerika Serikat ini telah mengguncang lembaga-lembaga keuangan di Amerika dan Eropa. Namun gugatan tersebut sudah lebih dari satu dasawarsa dan belum menunjukkan hasilnya. Memang gugatan tersebut tidaklah mudah, dibutuhkan kesabaran yang tinggi, karena bukan saja berhadapan dengan negara besar seperti Amerika, tetapi juga berhadapan dengan kepentingan Yahudi bahkan kabarnya ada kepentingan dengan Vatikan. Akankah Pemerintah Indonesia mengikuti langkah pemerintah Cina yang menggugat atas hak-hak emas rakyat Indonesia yang bernilai Ribuan Trilyun Dollar…(bisa untuk membayar utang Indonesia dan membuat negeri ini makmur dan sejahtera)..

June 16, 2016 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Mayor (Anumerta) Ruben Rukka Andilolo

MAYOR RUBEN RUKKA ANDILOLO

Putra Pertama Puang Benyamin Ruruk Andilolo dengan Paulina Ittang dari tongkonan ma’dika di Bo’ne Patekke Makale,cucu dari Puang Andilolo dan Cicit dari Puang Tarongko
Sebelum penjajahan Jepang, Rukka Andilolo dikirim ke Jawa untuk mengikuti pendidikan Landbouw Pertanian di Blitar.Pada masa Revolusi Fisik Ruben Rukka Andilolo ikut berjuang di Jawa bersama pelajar lainnya dan sekolah mereka dibubarkan sementara. Karena situasi Rukka memilih untuk melanjutkan pendidikan darurat di Pendidikan Dasar Perwira Sekolah Tentara Divisi VIII di kota Malang, tahun 1946 nama Divisi VIII berganti nama menjadi Sekolah Tentara Divisi VII Suropati dengan simbol melati. Di Malang sekolah ini lebih dikenal dengan nama sekolah Kadet Malang, karena siswanya biasa disebut dengan kadet.
Sejak Agresi Militer Belanda ke daerah Jawa Timur, Pihak keluarga di Makale Tana Toraja tidak pernah menerima kabar berita lagi sehingga pada saat itu  diperkirakan Rukka sudah gugur dalam perjuangan di jawa.
Pada Tahun 1949 Lettu Rukka Andi Lolo muncul kembali ke kota Makale dengan membawa pasukannya yang sebagian besar berasal dari daerah jawa timur dengan logat bahasa jawatimuran dan madura yang khas. Pada waktu itu Pasukan ini sering terlihat melakukan kegiatan latihan baris berbaris di sekitar Kolam Makale, sedangkan Lettu Rukka tinggal di rumahnya di Lonok Makale.
RR.Andilolo kawin dengan Betseba Tahalele pada tahun 1950,dan bertugas sebagai Komandan Kompi di Batalion yang disebut “Batalion Anjing Laut”dengan pangkat Kapten(pada saat itu Mantan Panglima ABRI Jendral M.Jusuf(Alm) juga masih berpangkat Kapten sebagai Komandan Kompi CPM di Makasar yang kemudian menjadi ajudan Kawilarang).mereka  perwira-perwira asal sulawesi selatan yang ikut berjuang di Jawa dan dikirim untuk mengkonsolidasikan pasukan di Sulawesi selatan .

Pertengahan Tahun 1950 Kompi RR Andilolo ditugaskan untuk menumpas Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) dan pasukan sulawesi selatan lain tergabung dalam Brigade II  Komando PasukanMaluku Selatan (Kompas Malsel) pimpinan Kol.Slamet Riyadi (Komandan Brigade V Div II) dengan Batalion 352 (Bn Suradji) sebagai inti pasukan.Panglima Operasi adalah Kolonel A.E.Kawilarang selaku Panglima TT VII
Pasukan RMS adalah pasukan ex-KNIL pasukan payung, pasukan komando, panser, dan sekitar 1000 milisi lokal  pimpinan Dr. Soumoukil di ambon.

Pada 9 Mei di Ambon oleh tentara-tentara eks KNIL dengan menggunakan cara tentara Belanda mendirikanAngkatan Perang Republik Maluku Selatan (APRMS). Kekuatan ini di topang oleh barisan sukarela yang umumnya terdiri dari anak-anak muda usia 16 tahun keatas yang militant dan fanatic mempertahankan RMS. Pada Juni 1950 pucuk pimpinan APRMS dibentuk yang terdiri dari Sersan Mayor Samson sebagai Panglima dan Sersan-Mayor Pattiwael sebagai Kepala Staf APRMS. Anggota-anggota Staf antara lain adalah Sersan-Mayor Kastanja dan Sersan Mayor Pieter dan Sersan Aipassa. Kesemua mereka ini adalah prajurit-prajurit KNIL tua yang kemudian mendapat pangkat dari Kolonel hingga Mayor.

Pulau Seram juga mendapat tempat sebagai basis pertahanan, hingga juga terbentuk satuan kekuatan militer dengan sebutan Tentara Panah terdiri dari sekitar 10.000 orang.

Operasi TNI/APRIS menumpas RMS berkekuatan 2 brigade, 10 kapal perang, dan 2 B-25. TNI-AL dipimpin Mayor John Lie. Brigade I adalah Pasukan dari Siliwangi

 Dalam bukunya, Kawilarang mengatakan: “Sebelum mendarat di Pulau Buru dan Seram kami perlu mengadakan latihan pendaratan dengan LCI di suatu pulau dekat Makassar . Latihan ini antara lain diadakan dengan dua kompani dari Bataltyon Suradji yang direncanakan akan mendarat dulu di Buru. Waktu LCI kandas dan kami turun, air laut sampai dada saya. Kapten Leo Lopulisa dan Mayor laut Alex Langkay malahan masuk laut yang lebih dalam lagi. Belum lagi prajurit-prajurit dari Batalyon Suradji. Waktu sedang melangkah ke darat, saya dengar seorang prajurit sambil batuk berteriak pada temannya, “Lho, air laut asin.” Jangan heran, mereka datang dari Solo, belum pernah masuk laut. Tetapi saya juga berpikir, pasukan pendaratan ini belum benar-benar merupakan seaborne forces.”
Sesudah empat hari berlayar dari Makassar, pasukan APRIS tiba di utara Pulau Buru pertengahan Juli 1950. Ombak tinggi sekali dan hampir seluruh seaborne force, yaitu Batalyon Pelupessy dan dua kompani Batalyon Soeradji, mabuk laut. Maklum hanya dengan dua LCI dan satu LST (Landing Ship Tanks). Di utara Buru mereka rendez-vous (berkumpul) dengan kapal Waikelo yang membawa Batalyon 3 Mei pimpinan Mayor Mengko dari Manado .
 

Esok harinya dua kompi Batalyon Suradji mendarat dahulu kira-kira lima kilometer sebelah barat Namlea. Tidak ada perlawanan. Menyusul pendaratan Batalyon Pelupessy yang akan maju ke Namlea. Ternyata pasukan ini mendapat hadangan dan menderita korban.

Selain itu hampir seluruh pasukan merasa lemas. Karena pada umumnya selama empat hari muntah-muntah. Waktu pendaratan, “ransom” makan, berupa biscuit laut untuk dua hari, basah dan tak bisa dimakan.
Kawilarang putuskan, supaya Batalyon 3 Mei, yang masih segar dan sehat karena diangkut dengan kapal besar Waikelo, untuk menyerbu Namlea.

 

Hal ini terjadi di pagi hari, pada hari ketiga. Pada serangan ini Prajurit Banteng jatuh sebagai korban pertama dan Sersan Mayor Tandayu luka.

Senjata-senjata yang ditinggalkan di markas RMS antara lain berupa beberapa brengun. Pasukan penyerbu sangat hati-hati mendekati markas dan gudang RMS itu. Ternyata tidak ada booby trap.

Keesokan hari tiba dengan kapal korvet, Letkol Slamet Rijadi, Komandan Pasukan Maluku. Iapun gembira karena bertemu dengan Mayor Soeradji, bekas bawahannya.Disamping itu, datang juga Kapten M Jusuf yang akan menjadi ajudan Panglima Kawilarang. Kemudian di rencanakan untuk menduduki Piru dahulu oleh Batalyon 3 Mei.

Kota Piru di dekati dari dua jurusan. Waktu sore hari tiba di sana , pasukan RMS sudah mengosongkannya. Sebelumnya dikirimkan tiga orang tentara eks RMS yang di tawan ke sana untuk meyakinkan pasukan RMS supaya bergabung dengan APRIS atau menyerah. Ternyata waktu Piru di duduki, ketiga orang itu sudah di tembak mati oleh komandan pasukan RMS di Piru, Nussy. Salah seorang yang dibunuh malahan Lestiluhu, komandan pasukan RMS di Buru, yang ditawan pasukan APRIS di Namlea. Ia adalah anggota Baret Hijau punya banyak teman di Batalyon 3 Mei, dimana satu peleton juga terdiri atas bekas anggota Baret Hijau dan Baret Merah.

Dua hari kemudian pasukan APRIS mendarat di teluk, kira-kira tiga kilometer sebelah utara Amahai, dengan dua kompani dari Batalyon Soeradji. Letkol Slamet Rijadi selalu berada di depan. Sesudah pertempuran kurang lebih dua jam, Amahai pun di duduki. Letkol Slamet Rijadi sebagai komandan pasukan Maluku, sementara kepala staf Mayor Herman Pieters mengkonsolidasi pasukannya. Juga dikepulauan Banda dan bagian selatan Pulau Seram sudah di kuasai pasukan APRIS.

Batalyon Abdullah sudah menempatkan pasukan APRIS di kepulauan Tamimbar, Kei, Aru hingga kepulauan Geser dan beberapa tempat di Seram Selatan. Mayor Abdullah gugur dalam salah satu pendaratan di Seram Selatan. Ternyata pasukan RMS dapat menyeberangkan sebagian pasukannya dengan perahu-perahu ke Pulau Seram dan menyerang Amahai. Tetapi serangan ini dapat di patahkan oleh pasukan Mayor Soeradji.
Pertempuran empat hari di Makassar (5-9 Agustus) sempat memperlambat operasi militer APRIS ke Ambon selama sekitar satu bulan, sementara pasukan tambahan dari Jawa sudah berdatangan. Rencana penyerbuan selanjutnya adalah mendaratkan pasukan di Hitulama-Hitumesing , di utara pulau Ambon, dan pasukan lain di Tulehu dibagian timur dan sesudah dua pasukan bertemu di Paso, menyerang kota Ambon dari utara dan ada lagi pasukan lain yang akan menduduki lapangan terbang di sebelah barat pulau Ambon .

Yang akan mendarat di Hitulama dan Hitumesing adalah pasukan Mayor Jusmin dengan di pimpin oleh Letkol Soediarto. Pasukan 3 Mei pimpinan Mayor Mengko akan mendarat di Tuleho.

Dalam pendaratan di Tuleho, Letkol Slamet Rijadi mendarat di sebelah selatan Tuleho dan Kolonel Kawilarang bersama Kapten Jusuf, Leo Lopulisa, Joost Muskita dan Kapten Claproth di sebelah utara Tulehu. Untuk pendaratan itu, APRIS sudah terima 10 LCM. Enam LCM akan digunakan untuk Tulehu dan empat lainnya untuk Hitu.

Pendaratan APRIS di Ambon
Pada 28 September 1950 pendaratan berlangsung di Tulehu dan Hitu di pantai utara. Invasi APRIS berkekuatan 6½ batalyon infantry dengan menggunakan kapal-kapal amfibi LCM yang di dukung oleh tembakan-tembakan dari 4 kapal korvet dan dua pembom B-25.
Pada pendaratan itu terjadi peristiwa tragis. Menurut pasukan cadangan yang menonton dari atas kapal Waikelo, melihat ketika pendaratan LCM dan keluarnya pasukan 3 Mei dari LCM sesudah kandas, merupakan suatu pemandangan yang tidak akan mereka lupakan.
Kolonel Kawilarang menceritakan: “Sesudah pendaratan, saya bersama pasukan maju ke Tulehu. Begitu juga Slamet Rijadi. Lalu kami berkelompok di Tulehu dan terus maju menuju Ambon . Tetapi baru saja kira-kira satu kilometer dari Tulehu kami sudah mendapat perlawanan hebat. Dalam pertempuran ini 20 anggota “3 Mei” gugur. Waktu itu ajudan saya, Kapten Jusuf, berkata dengan suara risau, “Kijk, Soekirmo is geraakt” (Liha,t Soekirmo kena). … Soekirmo, ajudan Slamet Rijadi itu tersenyum-senyum saja, seperti tidak menderita apa-apa. Sambil memegang lengan yang tergantung dengan tangan lain, ia berjalan ke Tulehu. Sayapun kaget melihatnya bercampur bangga atas kekuatannya. Baru pada jam 3 sore pasukan maju lagi, tetapi delapan kilometer kemudian, di suatu tempat, dengan hutan lebat sebelah kanan kami, terjadi lagi pertempuran. Sedang hari sudah mulai menggelap. Lalu kami tidur di sebelah jalan, di pinggir hutan, dalam keadaan basah kuyup, karena hujan lebat mengguyur kami. Saya melihat Slamet Rijadi, ajudan lainnya, Soendjoto, Jusuf dan Muskita, semuanya kedinginan. … Sementara itu kami sudah tahu bahwa Letkol Soediarto gugur di Hitulama/Hitumesing . Ia gugur sebelum mendarat. Masih di atas LCM, waktu kandas dan pintu LCM dibuka, ia kena tembakan di perutnya. … Dalam keadaan luka parah sempat di bawa ke kapal rumah sakit, “Waibalong” dan di operasi oleh Mayor Dokter Soejoto. Peluru menembus enam usus dan waktu sedang di operasi, Letkol Soediarto menghembuskan nafasnya terakhir.”
Penyerbuan ke Ambon berlanjut. Gerakan pasukan Mayor Jusmin, dibantu pasukan Mayor Soerjo Soebandrio, terhenti dekat Telaga Kodok, karena ada perlawanan hebat dari RMS. Gerakan dari Tulehu diteruskan, tetapi juga sangat lamban, karena terus menerus di perlamban oleh sniperfire RMS, dan di daerah itu sulit sekali untuk melambung.
Sesudah beberapa hari baru pasukan APRIS tiba di Suli.
Di awal November datang pasukan tambahan dari Jawa melalui Makassar , yakni pasukan Kapten Poniman dan pasukan Mayor Lukas Kustarjo. Untuk itu rencana penyerbuan kota Ambon disusun. Pasukan Poniman akan mendarat di selatan kota Ambon sementara pasukan Lukas Kustarjo di sebelah utara. Sesudah itu Batalyon 3 Mei akan menduduki daerah pegunungan tenggara kota Ambon . Sementara itu pasukan Mayor Jusmin dan Mayor Soerjo Soebandrio menyerang dari Telaga Kodok menuju ke jurusan Paso dan sebagian ke lapangan terbang. Detasemen Kapten Faah akan mendarat di pantai selatan Teluk Baguala, tidak jauh dari sebelah timur Paso dan dari Waitatiri maju pasukan-pasukan dari Kapten Claproth, Mayor Worang, Kapten Mahmud Pasha, Mayor Soeradji. Letkol Slamet Rijadi dan Kapten Muskita ikut dengan pasukan yang berangkat ke Waitatiri. Kolonel Kawilarang akan berangkat dengan kapal dari Tulehu, bersama dengan pasukan akan mendarat dekat kota Ambon. Mayor Achmad Wiranatakoesoemah akan memimpin pasukan ini, sementara Letkol Daan akan diperbantukan kepada Kawilarang.
Kekuatan APRIS terdiri dari tiga korvet, yakni, “Patiunus” dengan Mayor Laut Rais,“Banteng” yang membawa Kolonel Kawilarang dan “Rajawali” yang bertugas melindungi pendaratan jika perlu. Perwira liaison ALRI adalah Mayor Alex Langkay. Selain itu masih ada dua bomber B-25 dari AURI dengan pilot Mayor Noordraven dan Letnan Ismail. Pada 2 November, sehari sebelum berangkat dari Tulehu, Kawilarang bertemu dengan Menteri Leimena yang datang dari Jakarta bersama Ir Putuhena dan Dokter Rehatta.
Mereka di utus oleh Pemerintah Jakarta untuk mencoba melakukan misi perdamaian yang ketiga dengan RMS. Mereka juga berharap agar supaya tugas APRIS cepat selesai dan sedapat mungkin dengan sedikit korban. Secara khusus harus dijaga, jangan sampai rakyat Maluku yang sudah banyak menderita dan tidak bersalah, menjadi korban dalam pertempuran di Ambon . Tetapi sayang harapan ini tak dapat terlaksana dan sudah terlambat. Karena perang sudah terjadi sejak 28 September dan pihak RMS tidak akan mau berunding. Lagi pula mereka berada dalam posisi kocar-kacir. Pertempuran dalam kota selalu makan banyak korban jiwa dan juga harta. Sebagian besar rumah akan hancur atau terbakar.
Pada 3 November di pagi hari, pasukan Kapten Poniman mendarat di kota Ambon bagian selatan. Disini Kapten Sumitro gugur. Nasib serupa dialami Letnan Komar, yang kena tembakan dan langsung tersungkur. Musuh waktu itu sempat maju lagi sambil menusuk mati beberapa prajurit APRIS yang ketinggalan dan luka-luka. Rupanya musuh mengira Komar sudah mati. Padahal ia berpura-pura tidak bernafas lagi. Seorang RMS mendekatinya sambil berkata kepada temannya, “Ini orang Ambon . Beta ambil arlojinya saja.”
Letnan Komar baru tertolong sewaktu pasukan APRIS maju lagi dan berhasil menghalau musuh.
Pasukan Mayor Lukas Koestaryo mendarat tepat di benteng Victoria , di sebelah utara pelabuhan. Sebelum pukul 11.00 pasukan Mayor Lukas, Kapten Poniman dan Batalyon 3 Mei sudah menduduki sebagian besar kota Ambon dekat pantai. Mayor Achmad Wirahadikoesoemah dengan stafnya berada di pelabuhan.
Sementara itu pasukan dari Waitatiri sudah sampai di Paso dan bertemu dengan Detasemen Faah dan kemudian juga dengan pasukan yang datang dari Telag Kodok.Letkol Slamet Rijadi dengan pasukan Mayor Worang dan Kapten Claproth hari itu sudah berada dekat Halong. Esok harinya, 4 November 1950, mereka meneruskan gerakan ke kota Ambon dan sampai di utara kota pukul 15.00. Sementara itu, di sekitar Fort Victoria , pada pukul 12.00 siang hari itu, keadaan berubah. Pasukan RMS dengan panser menyerang Fort itu hingga dekat pelabuhan. Waktu itu pasukan APRIS terpisah di sebelah utara kota Ambon , di Batumerah. Untung tak lama kemudian datang pasukan Slamet Rijadi dan mematahkan serangan RMS.

Slamet Rijadi Gugur
Tiba-tiba saja Panglima Kawilarang menerima kabar yang mengangetkan. APRIS menderita korban yang sangat berarti, Letnan Kolonel Slamet Rijadi kena tembak.
Alex Kawilarang mengisahkan: “Saya tidak melihat sendiri bagaimana Slamet Rijadi waktu kena tembak itu. Tetapi saya dengar, bahwa ia sempat dibawa ke kapal (rumah sakit) ‘Waibalong’ di Tulehu. Kemudian saya mendapat keterangan, bahwa ia belum bisa di operasi, karena masih kena shock. … Laporan kemudian menceritakan adegan sebelumnya, yakni pada 4 November 1950 itu, Letkol Slamet Rijadi bergerak dari Galala ke Batumerah, di tepi kota Ambon . Tindakan ini diambil oleh Slamet Rijadi karena suasana dan keadaan dalam kota masih menunjukkan adanya pertempuran antara pihak RMS dengan pasukan Mayor Achmad Wiranatakoesoemah. Slamet Rijadi berhasil memasuki kota dan segera terlibat dalam pertempuran yang sengit… Letkol Slamet Rijadi berada di depan duduk di atas tank. Kemudian, nasib menentukan, serentetan tembakan bern dari seorang RMS mengenai perutnya dengan parah. Peluru kena di metal dari belt-nya (ikat pinggang) dank arena itu jadi dum-dum. Lukanya besar. Akibat luka-luka yang amat parah itu akhirnya Letkol Slamet Rijadi gugur. … Dokter Abdullah, yang turut serta dalam serangan ke Maluku Selatan ini, meninggalkan sebuah laporan berbentuk sajak mengenai gugurnya Slamet Rijadi ini: Tanggal 4 November/ Jam 21 seperempat/ Overste Slamet/ telah mangkat/ Terkabullah kehendaknya/ Oleh Tuhan Yang Maha Esa/ Ia ingin mati muda. … Semoga Tuhan/ Menerima arwahnya/ Sebagai umat/ Yang teguh beriman/ Amin.

Rukka Andi Lolo Gugur

Kapten RR.Andilolo bersama satuannya dari Sulawesi selatan masih melanjutkan tugas Operasi  selanjutnya dalam Operasi Pembersihan RMS
 Salah satu Operasi pembersihan yang dilakukan adalah Operasi Kole-kole I atas dasar Perintah Operasi : PO No.0271/0104/IV/S-II/D/51,tanggal 24-7-1951.adapun hari H jatuh pada tanggal 1-5-1951. Gerakan Operasi tersebut bertujuan untuk menduduki Sukaraja/Uwin-Patahu(Pantai Utara Pulau Ceram Barat),merebut dan menguasai daerah segi tiga antara pegunungan Cicilia dan Naimakina,Gerakan Operasi ini disebut Combat Team “A”

Pada tanggal 1 Mei 1951 Kapten RR Andilolo gugur di Seram karena terkena panah beracun ketika sedang memeriksa pasukannya yang sedang berkonsolidasi (Sesuai berita yang diterima keluarga dari pemerintah/APRIS (sekarang TNI) dan di makamkan Pulau Seram. Setelah keadaan Maluku sepenuhnya berada dibawah kendali TNI, dilakukan pemindahan makam RR Andi Lolo dan prajurit lain yang gugur di Pulau Seram ke Taman makam Pahlawan Kapahaha di Kota ambon disamping makam mantan Komandannya Brigjen (Anumerta)Slamet Riyadi,dan pangkatnya dinaikkan satu tingkat lebih tinggi menjadi Mayor (anumerta). Saat ini Nama Mayor R.Rukka Andilolo diabadikan menjadi nama salah satu jalan di pusat Kota Makale Tana Toraja.

ROBEK-ROBEKLAH BADANKU,
POTONG-POTONGLAH JASADKU INI,
TETAPI JIWAKU YANG DILINDUNGI OLEH BENTENG MERAH PUTIH,
AKAN TETAP HIDUP,
TETAP MENUNTUT BELA,
SIAPAPUN LAWAN

October 10, 2015 Posted by | Sejarah | Leave a comment

Maluku Dan RMS, -(3)

 

Pendaratan APRIS di Ambon

Pada 28 September 1950 pendaratan berlangsung di Tulehu dan Hitu di pantai utara. Invasi APRIS berkekuatan 6½ batalyon infantry dengan menggunakan kapal-kapal amfibi LCM yang di dukung oleh tembakan-tembakan dari 4 kapal korvet dan dua pembom B-25. Pada pendaratan itu terjadi peristiwa tragis. Menurut pasukan cadangan yang menonton dari atas kapal Waikelo, melihat ketika pendaratan LCM dan keluarnya pasukan 3 Mei dari LCM sesudah kandas, merupakan suatu pemandangan yang tidak akan mereka lupakan. Kolonel Kawilarang menceritakan: “Sesudah pendaratan, saya bersama pasukan maju ke Tulehu. Begitu juga Slamet Rijadi. Lalu kami berkelompok di Tulehu dan terus maju menuju Ambon . Tetapi baru saja kira-kira satu kilometer dari Tulehu kami sudah mendapat perlawanan hebat. Dalam pertempuran ini 20 anggota “3 Mei” gugur. Waktu itu ajudan saya, Kapten Jusuf, berkata dengan suara risau, “Kijk, Soekirmo is geraakt” (Liha,t Soekirmo kena). … Soekirmo, ajudan Slamet Rijadi itu tersenyum-senyum saja, seperti tidak menderita apa-apa. Sambil memegang lengan yang tergantung dengan tangan lain, ia berjalan ke Tulehu. Sayapun kaget melihatnya bercampur bangga atas kekuatannya. Baru pada jam 3 sore pasukan maju lagi, tetapi delapan kilometer kemudian, di suatu tempat, dengan hutan lebat sebelah kanan kami, terjadi lagi pertempuran. Sedang hari sudah mulai menggelap. Lalu kami tidur di sebelah jalan, di pinggir hutan, dalam keadaan basah kuyup, karena hujan lebat mengguyur kami. Saya melihat Slamet Rijadi, ajudan lainnya, Soendjoto, Jusuf dan Muskita, semuanya kedinginan. … Sementara itu kami sudah tahu bahwa Letkol Soediarto gugur di Hitulama/Hitumesing . Ia gugur sebelum mendarat. Masih di atas LCM, waktu kandas dan pintu LCM dibuka, ia kena tembakan di perutnya. … Dalam keadaan luka parah sempat di bawa ke kapal rumah sakit, “Waibalong” dan di operasi oleh Mayor Dokter Soejoto. Peluru menembus enam usus dan waktu sedang di operasi, Letkol Soediarto menghembuskan nafasnya terakhir.”

Penyerbuan ke Ambon berlanjut. Gerakan pasukan Mayor Jusmin, dibantu pasukan Mayor Soerjo Soebandrio, terhenti dekat Telaga Kodok, karena ada perlawanan hebat dari RMS. Gerakan dari Tulehu diteruskan, tetapi juga sangat lamban, karena terus menerus di perlamban oleh sniperfire RMS, dan di daerah itu sulit sekali untuk melambung.

Sesudah beberapa hari baru pasukan APRIS tiba di Suli.

Pihak pertahanan RMS di Ambon ketika itu berkekuatan 700 pasukan bersenjata lengkap, menghadapi pasukan penyerbu melalui perlawanan cukup gigih. Korban di pihak pasukan pendarat tidak sedikit, dan senjata-senjata mereka ini berpindah tangan untuk memperkuat 1.200 pasukan RMS memperoleh senjata, hingga pertempuran sengit berlangsung antara 30 September hingga 1 Oktober 1950 untuk kemudian dikuasai oleh APRIS. Perlawanan gerilyawan RMS turut memperlambat gerakan pasukan APRIS memasuki Ambon . Letkol Slamet Rijadi sempat kecolongan, ketika di pagi hari, ia mengemudikan jeep dari Tulehu menuju Suli. Seorang anggota RMS mencoba menghentikan jeep-nya sambil menembak dari samping. Nasib baik bagi Slamet Rijadi, karena saat ditembak, dengan gerakan refleks ia memutar badannya. Tetapi lengannya kena dari jarak satu meter. Masih untung lagi, tulangnya tidak kena. Malahan ia sempat menghentikan jeep, melompat keluar untuk mengejar si penembak. Tetapi orang yang menghadang dan menembaknya dengan sigap sudah lari menghilang masuk hutan. Di awal November datang pasukan tambahan dari Jawa melalui Makassar , yakni pasukan Kapten Poniman dan pasukan Mayor Lukas Kustarjo. Untuk itu rencana penyerbuan kota Ambon disusun. Pasukan Poniman akan mendarat di selatan kota Ambon sementara pasukan Lukas Kustarjo di sebelah utara. Sesudah itu Batalyon 3 Mei akan menduduki daerah pegunungan tenggara kota Ambon . Sementara itu pasukan Mayor Jusmin dan Mayor Soerjo Soebandrio menyerang dari Telaga Kodok menuju ke jurusan Paso dan sebagian ke lapangan terbang. Detasemen Kapten Faah akan mendarat di pantai selatan Teluk Baguala, tidak jauh dari sebelah timur Paso dan dari Waitatiri maju pasukan-pasukan dari Kapten Claproth, Mayor Worang, Kapten Mahmud Pasha, Mayor Soeradji. Letkol Slamet Rijadi dan Kapten Muskita ikut dengan pasukan yang berangkat ke Waitatiri. Kolonel Kawilarang akan berangkat dengan kapal dari Tulehu, bersama dengan pasukan akan mendarat dekat kota Ambon. Mayor Achmad Wiranatakoesoemah akan memimpin pasukan ini, sementara Letkol Daan akan diperbantukan kepada Kawilarang. Kekuatan APRIS terdiri dari tiga korvet, yakni, “Patiunus” dengan Mayor Laut Rais, “Banteng” yang membawa Kolonel Kawilarang dan “Rajawali” yang bertugas melindungi pendaratan jika perlu. Perwira liaison ALRI adalah Mayor Alex Langkay. Selain itu masih ada dua bomber B-25 dari AURI dengan pilot Mayor Noordraven dan Letnan Ismail. Pada 2 November, sehari sebelum berangkat dari Tulehu, Kawilarang bertemu dengan Menteri Leimena yang datang dari Jakarta bersama Ir Putuhena dan Dokter Rehatta. Mereka di utus oleh Pemerintah Jakarta untuk mencoba melakukan misi perdamaian yang ketiga dengan RMS. Mereka juga berharap agar supaya tugas APRIS cepat selesai dan sedapat mungkin dengan sedikit korban. Secara khusus harus dijaga, jangan sampai rakyat Maluku yang sudah banyak menderita dan tidak bersalah, menjadi korban dalam pertempuran di Ambon . Tetapi sayang harapan ini tak dapat terlaksana dan sudah terlambat. Karena perang sudah terjadi sejak 28 September dan pihak RMS tidak akan mau berunding. Lagi pula mereka berada dalam posisi kocar-kacir. Pertempuran dalam kota selalu makan banyak korban jiwa dan juga harta. Sebagian besar rumah akan hancur atau terbakar. Pada 3 November di pagi hari, pasukan Kapten Poniman mendarat di kota Ambon bagian selatan. Disini Kapten Sumitro gugur. Nasib serupa dialami Letnan Komar, yang kena tembakan dan langsung tersungkur. Musuh waktu itu sempat maju lagi sambil menusuk mati beberapa prajurit APRIS yang ketinggalan dan luka-luka. Rupanya musuh mengira Komar sudah mati. Padahal ia berpura-pura tidak bernafas lagi. Seorang RMS mendekatinya sambil berkata kepada temannya, “Ini orang Ambon . Beta ambil arlojinya saja.” Letnan Komar baru tertolong sewaktu pasukan APRIS maju lagi dan berhasil menghalau musuh. Pasukan Mayor Lukas Koestaryo mendarat tepat di benteng Victoria , di sebelah utara pelabuhan. Sebelum pukul 11.00 pasukan Mayor Lukas, Kapten Poniman dan Batalyon 3 Mei sudah menduduki sebagian besar kota Ambon dekat pantai. Mayor Achmad Wirahadikoesoemah dengan stafnya berada di pelabuhan. Sementara itu pasukan dari Waitatiri sudah sampai di Paso dan bertemu dengan Detasemen Faah dan kemudian juga dengan pasukan yang datang dari Telag Kodok. Letkol Slamet Rijadi dengan pasukan Mayor Worang dan Kapten Claproth hari itu sudah berada dekat Halong. Esok harinya, 4 November 1950, mereka meneruskan gerakan ke kota Ambon dan sampai di utara kota pukul 15.00. Sementara itu, di sekitar Fort Victoria , pada pukul 12.00 siang hari itu, keadaan berubah. Pasukan RMS dengan panser menyerang Fort itu hingga dekat pelabuhan. Waktu itu pasukan APRIS terpisah di sebelah utara kota Ambon , di Batumerah. Untung tak lama kemudian datang pasukan Slamet Rijadi dan mematahkan serangan RMS.

Slamet Rijadi Gugur

Tiba-tiba saja Panglima Kawilarang menerima kabar yang mengangetkan. APRIS menderita korban yang sangat berarti, Letnan Kolonel Slamet Rijadi kena tembak. Alex Kawilarang mengisahkan: “Saya tidak melihat sendiri bagaimana Slamet Rijadi waktu kena tembak itu. Tetapi saya dengar, bahwa ia sempat dibawa ke kapal (rumah sakit) ‘Waibalong’ di Tulehu. Kemudian saya mendapat keterangan, bahwa ia belum bisa di operasi, karena masih kena shock. … Laporan kemudian menceritakan adegan sebelumnya, yakni pada 4 November 1950 itu, Letkol Slamet Rijadi bergerak dari Galala ke Batumerah, di tepi kota Ambon . Tindakan ini diambil oleh Slamet Rijadi karena suasana dan keadaan dalam kota masih menunjukkan adanya oertempuran antara pihak RMS dengan pasukan Mayor Achmad Wiranatakoesoemah. Slamet Rijadi berhasil memasuki kota dan segera terlibat dalam pertempuran yang sengit… Letkol Slamet Rijadi berada di depan duduk di atas tank. Kemudian, nasib menentukan, serentetan tembakan bern dari seorang RMS mengenai perutnya dengan parah. Peluru kena di metal dari belt-nya (ikat pinggang) dank arena itu jadi dum-dum. Lukanya besar. Akibat luka-luka yang amat parah itu akhirnya Letkol Slamet Rijadi gugur. … Dokter Abdullah, yang turut serta dalam serangan ke Maluku Selatan ini, meninggalkan sebuah laporan berbentuk sajak mengenai gugurnya Slamet Rijadi ini: Tanggal 4 November/ Jam 21 seperempat/ Overste Slamet/ telah mangkat/ Terkabullah kehendaknya/ Oleh Tuhan Yang Maha Esa/ Ia ingin mati muda. … Semoga Tuhan/ Menerima arwahnya/ Sebagai umat/ Yang teguh beriman/ Amin.

Jenasah Letkol Slamet Rijadi di makamkan di pekuburan Pasir Putih di Tulehi. Sepuluh tahun kemudian jenasahnya dipindahkan ke makam pahlawan Kapaha, yang letaknya sekitar 3 km sebelah timur kota Ambon

Joop Warouw menggantikan posisi Slamet Rijadi membebaskan Ambon

Pada 7 November 1950, tiga hari setelah Letkol Slamet Rijadi gugur, Kolonel Kawilarang mengirim kabar ke Manado dan Makassar, dan meminta supaya Letkol Joop Warouw segera datang ke Ambon untuk mengisi posisi Slamet Rijadi sebagai Komandan Pasukan Maluku. Pada 8 November, Kawilarang sebagai Panglima keliling kota Ambon sebelah utara dan timur laut untuk menemui Kapten John Somba dan Letnan Wim Tenges. Kedua mereka ini dari Batalyon Mayor Hein “Kimby” Worang. Kepada mereka Kawilarang menugaskan untuk menyerang di sore hari dan mengembalikan hubungan dengan pasukan APRIS di pelabuhan, dan harus berhasil! Dari Kapten Jusuf, Kawilarang mendapat keterangan mengenai ucapan Somba yang mengatakan: “Tidak perlu panglima bicara dengan kami dan memberi semangat. Perintah saja sudah cukup. Kami laksanakan.” Pada hari itu juga, di sore hari, Batalyon 3 Mei yang juga di dukung Batalyon Worang berhasil menguasai seluruh kota dan pinggirannya, sesudah kompani Kapten Somba merebut Fort Victoria dan sambil berlarian maju terus, mengembalikan hubungan dengan pasukan APRIS di pelabuhan. Kompani Letnan Tenges, lebih ke sebelah timur kota , dapat berhubungan dengan pasukan 3 Mei dan dengan pasukan yang baru tiba via pelabuhan di bawah pimpinan Mayor Soetarno.

Pada 9 November, Panglima Kawilarang memeriksa kota yang sebagian besar kota hancur. Ternyata pada hari itu juga Letkol Warouw sudah berada di Ambon . Sejak itu pun ia memegang komandan pasukan Maluku dan Mayor Herman Pieters sebagai Kepala Staf. Warouw datang dengan kapal terbang ke Buru, dan dari sana ia naik kapal laut ke Ambon .Pasukan musuhpun terdesak dan menjauhi kota Ambon dan memindahkan kekuatan di Seram. Pada 16 November 1950 bandar udara Laha berhasil di kuasai oleh pasukan APRIS. Musuh kebanyakan lari ke Soya diatas, untuk terus ke Seram. Pihak RMS berusaha bergerilya di Haruku dan Saparua, tetapi dapat di duduki oleh APRIS tanpa ada korban. Pada 25 November 1950, Kolonel Kawilarang tiba di Ambon setelah lebih dari dua minggu berada di Makassar . Ketika berada di Ambon, suasana  sudah lain, lebih ramai orang di jalan-jalan dan kota sudah bersih, walau sebagian besar rumah-rumah rusak. Kawilarang bertemu dengan Dokter J B Sitanala, ayah dari Mayor Sitanala, komandan APRIS di Bali. Kalau berbicara ia selalu berterus terang dan kepada Kawilarang ia mengatakan: “Tahun 1942 Jepang datang di Ambon selama dua hari mengambil barang milik rakyat. Tahun 1945 pasukan Australia datang dan selama tujuh hari mengambil barang rakyat. Tahun 1950 TNI datanf dan setelah selama 14 hari mengambil barang rakyat, baru ada tindakan.” Kawilarang tak dapat berkomentar karena masih banyak advonturier dalam tubuh TNI. Mengenai para pelaku RMS, banyak yang kocar-kacir. Beberapa menteri seperti Gasperz dan Tom Pattiradjawane menyerahkan diri. Presiden Manuhutu dan beberapa menteri lainnya bersama beberapa perwira APRMS lainnya melarikan diri ke pulau Seram melalui Rutung dan Hutumuri untuk melanjutkan perlawanan. Juga terdapat Wairizal, Soumokil, Manusama, Ohorella, Pesuwarissa, Henk Pieter dll. Di Seram dibentuk pemerintah perjuangan dengan susunan: Presiden Manuhutu, PM Wairizal merangkap Menteri Dalam Negeri, Mr. Dr. Soumokil (Menteri Luar Negeri merangkap Menteri Kehakiman), Manusama (menteri pertahanan), Ohorella (Menteri Sandang-pangan) , G H Apituley (Menteri Keuangan), M A Tetelepta (Menteri Pendidikan, Z Pesuwarissa (Menteri penerangan dan sosial), dokter M Haulussy (Menteri kesehatan) dan Henk Pieter (Menteri Lalu-lintas dan pengairan).

Pucuk pimpinan APRMS yang tersisa membentuk kekuatan organisasi militer gerilya. Organisasi bersenjata ini di pimpin oleh Kolonel Tahapary sebagai Panglima, Kolonel W F Sopacua sebagai Kepala Staf, sementara Kolonel Nussy dan Kolonel Sopamena menjabat sebagai staf. Selain Staf juga mengangkat Penasehat, yakni Letkol I J Tamaela. Tetapi perang gerilya RMS justru menjadi kemahiran Panglima Kawilarang dan perwira-perwira TNI lainnya waktu melawan pasukan Belanda di Jawa dan Sumatra . Para gerilyawan RMS di Seram tidak diberi peluang untuk istirahat dan digempur terus. Akibatnya banyak dari RMS menjadi korban, terutama di kalangan pasukan dan pucuk pimpinan APRMS. Juga  banyak menteri terbunuh. Sementara Manusama dan Wairizal melarikan diri ke Papua.

Kekuatan RMS berhasil dipadamkan

Jatuhnya Fort Victoria pada 8 November 1950 secara definitif telah menghancurkan kelanjutan RMS. Padahal banyak di antara elit-elit politik yang membentuk ataupun mendukung RMS tidak sadar mereka ini adalah korban verdeel-en-heerst- politiek (politik adu domba) yang di terapkan oleh kolonial Belanda untuk saling membunuh di antara anak-anak bangsa penghuni gugusan nusantara ini. Bagi RMS untuk membentuk suatu negara juga waktunya sangat singkat, dan tanpa melalui suatu proses yang memerlukan waktu pendalaman yang cukup lama untuk membentuk suatu bangsa. Lagi pula pengadaan RMS hanya melalui emosi sentimen, dan hanya menjadi korban impulsif dari kalangan yang tidak meraih kepentingannya.

Sementara itu komandan pasukan Maluku di pertengahan 1951 dari Letkol Joop F Warouw diganti oleh Kolonel Soeprapto Sokowati, sementara Warouw kembali ke Manado melanjutkan posisinya sebagai Komandan KOPASUMU. Kawilarang memeriksa Batalyon Matalatta dan Batalyon Rivai di Seram. Ia perhatikan cara mereka bergerak sebagai pasukan anti-gerilya. Kawilarangpun bertanya siapa yang memberi latihan? Merekapun menjawab: “Kapten Muskita.” Sebab, Vuursdiscipline- nya (disiplin menembak) juga hebat, Mereka terus mobil, dan tidak memberikan kesempatan pada musuh untuk beristirahat. Kawilarangpun teringat pada ilmu itu yang pernah dipelajarinya, “Beter meer zweet dan bloed.” (Lebih baik banyak keringat dari pada darah). Begitulah cara perang anti-gerilya. Yang tidak mengetahui ilmu itu, kadang-kadang mereka mau mengambil jalan pintas, supaya cepat. Padahal di lapangan yang terbuka, seringkali itu berbahaya. Sebab itu lebih baik mengambil jalan berkeliling tetapi aman, dan bisa menyerang mendadak daripada mengambil jalan pintas tetapi terbuka dan gampang ditembak dan disergap musuh.

Pulau Seram luas sekali dan hutannya lebat. Anti-gerilya setengah mati mencari gerilya di sana , dan ini tentu makan waktu lama. Pada permulan November 1951 Kawilarang di pindahkan ke Jawa Barat untuk menjabat sebagai Panglima TT-III Siliwangi. Sebenarnya tugas belum selesai dan masih berada di Seram, dan gemobng RMS, Mr Soumokil masih bertahan dan menyembunyikan diri dari kejaran TNI.

Baru pada 12 Desember 1963, Soumokil tertangkap di dekat Wahai, Seram Utara bagian tengah oleh prajurit-prajurit  dari Batalyon Endjo, Siliwangi.Riwayat petualangan gembong RMS, Mr Dr. Soumokil yang menjadi penyebab pemberontakan Andi Azis di Makassar dan pemerontakan RMS berakhir dengan di jatuhi hukuman mati oleh Mahkmah Militer Luar Biasa di Jakarta pada 22 April 1964. by Harry Kawilarang/IM

October 10, 2015 Posted by | Sejarah | Leave a comment

Rachmawati: Kenapa Tak di Era Mega Tuntut Minta Maaf ke Soekarno

Rachmawati Soekarnoputri

Rachmawati Soekarnoputri

intelijen – Keinginan Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK)Puan Maharani yang meminta negara membersihkan nama kakeknya, Presiden RI pertama Soekarno, dari tuduhan pro Partai Komunis Indonesia (PKI), dinilai terlambat.

( Puan Maharani meminta negara membersihkan nama kakeknya, Soekarno dari tuduhan pro Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sekadar diketahui, kekuasaan Presiden pertama RI, Soekarno dicabut melalui TAP MPRS XXXIII tahun 1967 tertanggal 12 Maret 1967 karena dituduh telah mendukung G30S/PKI.

“Masih ada TAP-TAP yang sampai saat ini masih mengganjal, itu memang diinginkan oleh keluarga untuk segera diselesaikan,” kata Puan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (5/10/2015) malam.

Dirinya berharap, sejumlah hal yang masih mengganjal keluarga terkait tuduhan kakeknya itu bisa segera diselesaikan. “Bahwa beliau adalah pahlawan nasional,” ucapnya.

Menurut dia, pernyataan Wakil Sekretaris Jenderal PDIP Ahmad Basarah yang menyebutkan bahwa negara harus meminta maaf kepada Bung Karno dan keluarga atas tuduhan itu adalah pernyataan pribadi.

Dia menambahkan, meskipun Soekarno dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden SBY tahun 2012, masih ada persoalan yang mengganjal keluarga.

“Permintaan maaf resmi dari negara saya rasa dengan menyelesaikan semua permasalahan yang dianggap saat ini masih mengganjal, saya berharap bahwa itu bisa menyelesaikan semua masalah yang mengganjal khususnya buat keluarga dan para pengikut Bung Karno yang hari ini masih berkeinginan supaya semua hal yang berkaitan dengan Bung Karno itu clear,” pungkasnya.(Sindonews))

Megawati Soekarnoputri dan Puan Maharani (ist)

Salah satu anak presiden pertama RI Rachmawati Soekarnoputri mengatakan, permintaan maaf terhadap Bung Karno seharusnya dilakukan sejak era Megawati menjadi presiden.

Menurut Rachmawati, Megawati yang kala itu menjabat sebagai presiden, dapat mencabut TAP MPRS XXXIII Tahun 1967 tentang larangan penyebaran paham dan ajaran komunisme di Indonesia.

“Ya memang ini harusnya dari awal. Harusnya minta maaf di pemerintahan Megawati dengan mencabut kembali TAP MPRS XXXIII Tahun 1967 tertanggal 12 Maret 1967 yang mengkaitkan Bung Karno dengan tuduhan telah mendukung G30S/PKI,” kata Rachmawati saat dihubungi wartawan di Jakarta, Selasa (6/10/2015).

Lebih lanjut, Rachmawati juga merasa aneh dengan pernyataan Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Ahmad Basarah, yang menyebutkan bahwa negara harus meminta maaf kepada Bung Karno dan keluarga atas tuduhan itu.

Dia pun mempertanyakan mengapa PDIP tidak protes saat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberi gelar pahlawan terhadap Soekarno tidak didahului dengan pencabutan TAP MPRS XXXIII Tahun 1967 yang telah menyudutkan ayahnya.

“Harusnya pada saat SBY memberikan gelar pahlawan nasional, PDIP protes. Cabut dulu Tap MPRS itu. Makanya saya pertanyakan kenapa jadi ribut-ributnya sekarang,” gerutu Rachmawati.(Sindonews)

October 10, 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Maluku Dan RMS -(2)

 

Krisis Politik

Tetapi keadaan berubah sejak awal 1950 dengan munculnya krisis politik di Ambon . Bermula ketika Urbanus Pupella, pimpinan PIM mengeluarkan pernyataan tidak ingin masuk dalam federasi, tetapi mau bergabung dengan Republik Indonesia . Pada 19 Januari 1950 tiba anggota-anggota militer Paratroep asal Ambon pulang kampung dan mendarat di Ambon . Sebelumnya pasukan-pasukan ini ketika berada di Makassar sudah terkontaminasi oleh Mr. Christiaan Soumokil, Jaksa Agung RIS yang anti-RI melakukan provokasi kepada pasukan-pasukan khusus baret merah dan hijau asal Ambon ini. Kegiatan provokasi yang dilakukan oleh Soumokil karena dibiarkan oleh Kolonel Schotborgh, Komandan tentara Belanda di Makassar. Schotborgh juga menjadi penyebab terjadinya kerusuhan di Makassar karena membiarkan Soumokil menghasut Kapten Andi Azis melakukan aksi pemerontakan di Makassar. Ambon menjadi tegang dengan kembalinya pasukan-pasukan khusus asal Ambon yang sebagaian besar terkena disersi, giat melakukan konfrontasi dengan barisan PIM dari Pupella yang saling berlawanan. Konflik di Ambon pun tidak terhindar ketika pada 19 Februari 1950 terjadi perkelahian antara anggota-anggota PIM yang pro-Republik dengan anti-Republik yang di dukung oleh pasukan-pasukan khusus ini. Pemerintah Ambon ketika itu berubah menjadi negara Polisi yang juga berpihak pada kelompok anti-Republik. Dalam peristiwa berdarah ini menimbulkan 19 orang korban. Konflik kemudian menyebar dimana-mana tanpa bisa dicegah. Pada 12 Maret 1950, kepala desa Asilusu, Ibrahim Tangko, anggota PIM, di datangi 10 orang anggota polisi yang langsung mengeroyok dan menyiksanya. Begitu pula pada 17 Maret, di desa yang sama, Awat Betawi, juga anggota PIM didatangi anggota-anggota polisi yang menyiksanya hingga pingsan.

Yang tak kalah tragisnya adalah pada hari yang sama di desa Wakasihu, pimpinan PIM setempat, Ohorella, dan ibunya juga harus mengalami siksaan tidak manusiawi. (Teu Lususina, Ambon )

RMS di dirikan

Di Ambon mulai muncul desas-desus bahwa wilayah Indonesia Timur sudah di kuasai oleh pasukan Jawa (baca APRIS), dan menurut rencana pasukan TNI dari Jawa akan menyerbu Ambon pada akhir Maret. Desas-desus ini menimbulkan kepanikan, terutama di kalangan pemerintahan dan kalangan fungsionaris pedesaan. Kemudian pada 5 April muncul berita yang sangat menyenang pemimpin-pemimpin anti-Republik bahwa pasukan TNI dari Batalyon Worang akan memasuki kota Makassar . Tak lama kemudian tersiar berita bahwa seorang Kapten Bugis muda, bernama Andi Azis bersama batalyonnya telah menduduki kota Makassar dalam usaha untuk mempertahankan kota ini dari serbuan Batalyon Mayor H V Worang. Aksi pemberontakan Andi Azis di Makassar di ikuti dengan seksama dan penuh kecemasan oleh kalangan anti-Republik di Ambon . Situasi Ambon menjadi tak menentu ketika mengetahui Andi Azis sudah ditangkap dan Makassar sudah aman dari pemeberontakan setelah Kolonel Alex Kawilarang di angkat menjadi Panglima territorial Indonesia Timur.Pada 18 April 1950, J A Manusama, yang ketika itu menjabat direktur urusan sekolah-sekolah menengah di Ambon, memprakarsai rapat umum di Ambon untuk menenangkan keadaan. Pada 21 April terdengar kabar bahwa Andi Azis dengan resmi menjadi tahanan. Sebelumnya ia datang ke Jakarta yang katanya di janjikan akan dibebaskan bila melapor kepada pemerintah.

Penahanan Andi Azis membuat para pemimpin RMS melakukan pertemuan khusus membahas situasi dan keadaan di Indonesia Timur. Dari pertemuan itu muncul ide pemisahan diri dari Republik Indonesia Serikat (RIS). Pada 23 April 1950, Sersan Mayor (KNIL) Ibrahim Ohorella, Sersan Mayor Sapulete bersama Ir Manusama memprakarsai pertemuan dengan wakil-wakil militer, polisi dan sipil untuk melakukan persiapan dan menyusun konsep kemerdekaan Maluku Selatan terlepas dari Republik Indonesia Serikat dengan mencetuskan proklamasi Republik Maluku Selatan. Pada esok harinya, konsep ini diajukan untuk mendapat persetujuan dari Kongres Rakyat yang berlangsung di gedung pemerintah di Batugadjah dan dihadiri sekitar 6000 pengunjung, yang secara aklamasi disetujui.

Konsep proklamasi itu kemudian di bacakan pada 25 April 1950 dan di tandatangani oleh J H Manuhutu dan A Wairizal.

Teks proklamasi RMS berbunyi:

Proklamasi

Kemerdekaan Maluku Selatan

Memenuhi kemauan jang sungguh, tuntuan dan desakan rakjat Maluku Selatan, Maka dengan ini kami proklamir KEMERDEKAAN MALUKU SELATAN, defakto dejure, Yang berbentuk Republik, lepas dari dari pada segala perhubungan ketatanegaraan Negara Indonesia Timur dan RIS, beralasan NIT sudah tidak sanggup mempertahankan Kedudukannya sebagai Negara Bahagian selaras dengan peraturan2 Mutamar Denpasar

Jang masih sjah berlaku, djuga sesuai dengan keputusan Dewan Maluku Selatan Tertanggal 11 Maret 1947, sedang RIS sudah bertindak bertentangan dengan Keputusan2 KMB dan Undang2 Dasarnya sendiri.

Ambon, 25 April 1950 – Pemerintah Maluku-Selatan,

J H Manuhutu

A Wairizal

Pada 26 April terbentuk pemerintahan RMS dengan susunan: J H Manuhutu sebagai Presiden; A Wairizal (Pimpinan Dewan Rakyat dan pimpinan departemen); Mr Soumokil (Luar Negeri); D J Gasperz (Dalam Negeri); J Toule (Kehakiman); J B Pattiradjawane (Keuangan); SJH Norimarna (ekonomi); H F Pieter (lalu-lintas dan Pengairan), P W Lokollo (sandang-pangan) ; A Nanlohy (pertahanan) ; Ir J A Manusama (Pendidikan) dr Th Pattiradjawane (Kesehatan); dan Z Pesuwarissa (Penerangan) .

Pada 2 Mei 1950, di atas gedung pemerintah, berkibar bendera nasional RMS empat warna, biru-putih, hijau dan merah dari hasil kesepakatan pemuka-pemuka desa (raja-raja).

Angkatan Perang RMS dibentuk

Pada 9 Mei di Ambon oleh tentara-tentara eks KNIL dengan menggunakan cara tentara Belanda mendirikan Angkatan Perang Republik Maluku Selatan (APRMS). Kekuatan ini di topang oleh barisan sukarela yang umumnya terdiri dari anak-anak muda usia 16 tahun keatas yang militant dan fanatic mempertahankan RMS. Pada Juni 1950 pucuk pimpinan APRMS dibentuk yang terdiri dari Sersan Mayor Samson sebagai Panglima dan Sersan-Mayor Pattiwael sebagai Kepala Staf APRMS. Anggota-anggota Staf antara lain adalah Sersan-Mayor Kastanja dan Sersan Mayor Pieter dan Sersan Aipassa. Kesemua mereka ini adalah prajurit-prajurit KNIL tua yang kemudian mendapat pangkat dari Kolonel hingga Mayor.

Pulau Seram juga mendapat tempat sebagai basis pertahanan, hingga juga terbentuk satuan kekuatan militer dengan sebutan Tentara Panah  terdiri dari sekitar 10.000 orang.

Ketika RMS diproklamirkan, beberapa minggu kemudian, diantara serdadu-serdadu KNIL asal Maluku memasuki APRMS dan jumlahnya berkisar 4.000 personal dan melikuidasi dari garnisun di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Jawa.

Mereka menyatakan solider dengan RMS dan menolak di pindahkan ke APRIS, untuk itu menuntut di demobilisasi dan di pindahkan di daerah-daerah non-RIS, apakah di wilayah RMS ataupun di Papua.

Tuntutan mereka ini ditolak oleh Belanda yang tidak mau lagi direpotkan setelah peristiwa pemberontakan Andi Azis yang dilakukan oleh kalangan militer KNIL asal Ambon di Makassar. Untuk itu banyak diantara pasukan KNIL asal Ambon di Makassar di evakuasi ke Jawa, dan disana mereka di kosentrasikan pada 5 daerah garnisun, masing-masing: Jakarta , Bandung , Surabaya , Malang dan Semarang .

Merekapun mendapat pilihan, demobilisasi di Jawa atau ikut bersama APRIS membebaskan Maluku dari RMS.

Yang menolak, hingga pada kelima garnisun itu dibentuk panitia untuk melayani dan mengatasi mereka yang membangkang.

Untuk mengatasi keadaan, pihak militer Belanda melakukan pendekatan dengan Perwakilan Rakyat Maluku, hingga satu delegasi di pimpin Sersan-Mayor Aponno di kirim ke Negeri Belanda untuk berunding dengan pemerintah Belanda.

Ketika pada 26 Juli 1950, KNIL secara resmi dibubarkan oleh pemerintah Belanda, yang sehari sebelumnya, semua personal eks KNIL diberhentikan. Walau begitu ke-4000 pasukan pembangkang yang pro RMS berada di bawah tanggung jawab militer Belanda. Pemerintah Belanda melarang dilakukannya demobilisasi di wilayah Indonesia bagi para pembangkang. Untuk mengatasinya, tidak ada pilihan, yakni mengangkut mereka ke Negeri Belanda, dengan beaya satu juta gulden untuk setiap kapal. Untuk itu, oleh pemerintah Belanda yang tidak mendukung ataupun mengakui RMS menekan delegasi Aponno di tekan untuk menerima putusan ini, dan tidak dibenarkan dikembalikan ke Ambon .

Sebagai hasilnya pada bulan Maret/April 1951, prajurit-prajurit eks KNIL di berangkatan ke Negeri Belanda terdiri dari: 6 pendeta militer; 3 perwira ajudan; 35 sersan-mayor; 372 sersan dan fourier; 821 kopral dan 2341 serdadu. Secara keseluruhan bersama isteri-isteri dan anak-anak berjumlah 12.500 orang.

Pada 8 Juni 1950 diputuskan untuk membentuk Perwakilan RMS di Luar Negeri. Sebelumnya, pada 27 April 1950 pihak RMS menunjuk dr J P Nikijuluw sebagai pimpinan perwakilan RMS di luar negeri dengan P W Lokollo sebagai Wakilnya dibantu Komisaris pemerintah, I A Lebelauw. Ketiga mereka ini berada di Negeri Belanda.

Pada 16 Oktober 1950 pihak RMS mengirim kawat kepada dr Nikijuluw dan memberi kuasa sebagai delegasi RMS ke Dewan Keamanan PBB dan menunggu laporan dari pihak UNCI mengenai “Masalah RMS” yang katanya akan di kirim ke Dewan Keamanan. Sebulan sebelumnya pada 4 September 1950, dalam sidang Parlemen RMS di Ambon ditetapkan pada pasal I UUD RMS berbunyi: “Republik Maluku Selatan adalah Negara sah, yang bebas dan merdeka sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi.” (Bung Penonton: De Zuid Molluksi Republiek, 1977). Departemen Luar Negeri RMS di Ambon mengeluarkan pernyataan yang isinya mengatakan: RMS sedang berusaha berhubungan dengan Amerika Serikat, terutama dengan Australia untuk berembuk dalam usaha untuk melakukan Pertahanan dan keamanan bersama di Pasifik-Selatan menghadapi kemungkinan ancaman agresi komunis. Untuk hal itu, RMS berusaha menghubungi AS ataupun Australia dengan menawarkan beberapa tempat strategis bagi penempatan pangkalan-pangkalan militer dan penempatan kekuatan armada-armada laut mereka.” Pernyataan ini mendapat kecaman dari Urbanus Pupella yang mengatakan merupakan pengkhianatan terhadap rakyat Maluku. Pada 15 Juli 1950 pihak pimpinan RMS mengatakan, negara dalam darurat, Staat van Oorlog en Beleg (SOB) untuk seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Tetapi pada 8 Agustus 1950, secara resmi pemerintah RMS membentuk Dewan Parlemen Sementara. Dewan ini terdiri dari 75 anggota, terdiri dari 60 kepala-kepala desa dan 15 orang-orang yang dikenal masyarakat. W A Lokollo di tunjuk menjadi ketua menggantikan S Tjokro dari PIM. Selanjutnya RMS menjadi negara Polisi di pimpin oleh Komisaris H J Malaiholo yang tak lama kemudian meninggal dan kedudukannya diganti oleh seseorang bernama Filippus yang memimpin intelijen militer. Selain itu juga dibentuk Dewan Konstitusi yang mulai aktif pada 4 September 1950. Beberapa tahun kemudian ketika mereka di adili Wairizal dan Manuhutu oleh Pengadilan militer Indonesia , kedua mereka ini mengakui bahwa mereka dipaksa untuk menandatangani teks proklamasi ini. Dari pertemuan-pertemuan yang dilakukan, ternyata tidak satupun secara bulat terjadi persetujuan dibentuknya RMS oleh kalangan masyarakat Maluku sendiri. (Ernst Utrecht).

Reka-yasa Soumokil yang gagal

Ternyata pengadaan RMS di reka-yasa oleh Mr Christiaan Soumokil yang sering bersikap eksentrik dan bahkan juga tidak senang pada Negara Indonesia Timur, dan lebih berpihak pada kembalinya kolonialisme Belanda. Lagi pula pembentukan RMS sama sekali bukan aspirasi dari masyarakat Maluku Selatan. Sementara dibawah prakarsa PIM, pada umumnya para pimpinan politik, kepala-kepala desa, pemuka-pemuka agama baik Kristen maupun Islam, sepakat untuk menempatkan Maluku Selatan sebagai bagian dari RIS yang di bentuk pada 27 Desember 1949 setelah penyerahan kedaulatan pada hari yang sama.

Untuk meraih ambisinya, Soumokil melakukan kegiatan kampanye, dan pertama-tama berkunjung ke Kupang di Timor dan kemudian ke Manado untuk mempengaruhi masyarakat di sana . Tetapi tujuannya sama sekali tidak berhasil hingga ia mendarat di Ambon pada 14 Desember. Kesemuanya dengan menggunakan fasilitas Belanda yang diberikan oleh Kolonel Schotborg untuk mempengaruhi agar Indonesia Timur tidak bergabung dengan Republik. Setelah berada di Ambon , Soumokil giat melakukan penyusunan rencana mempertahankan RMS dari penyerbuan pasukan APRIS. Sehari setelah cetusan proklamasi, pihak RMS melakukan perekrutan pada pemuda-pemuda sebagai sukarelawan mempertahankan RMS dari APRIS. Selain Ambon, juga berusaha menarik simpati di berbagai kepulauan. Tetapi kampanye RMS tidak mendapat sambutan dari penduduk di Buru , Aru, Banda, Kei dan Tanimbar. Sementara dukungan terbanyak diperoleh dari penduduk kota Ambon, Seram dan beberapa pulau lainnya sekitar Ambon , dan juga pulau-pulau seputar Maluku Tengah. Cetusan proklamasi RMS kurang mendapat sambutan, terutama di kalangan pelajar-pelajar dan kalangan ilmuan Ambon di luar Ambon, terutama di Jawa dan Sumatra karena memahami pandangan-pandangan nasionalisme. Pendukung RMS umumnya terdapat dikalangan militer KNIL asal Ambon. Umumnya militer pro RMS yang terkena demobilisasi menolak untuk masuk sipil di Jawa. Banyak diantara mereka ini, mau tidak mau, dipaksa oleh Belanda dan di angkut ke Negeri Belanda. Begitu hebatnya provokasi Soumokil hingga memerlukan waktu cukup lama untuk meredakan keadaan.

Misi Perdamaian Leimena yang gagal

Waktu itu Kementerian Pertahanan belum lama mengangkat Kolonel Alex Kawilarang sebagai Panglima TT-IT. Selain sibuk melakukan organisasi militer untuk ekspedisi, juga giat menghadapi pemberontakan oleh pasukan-pasukan KNIL disersi asal Maluku di Makassar. Sambil merampungkan organisasi APRIS yang untuk pertama kali melakukan ekspedisi di luar Jawa, dan mengatasi aksi militer eks KNIL di Sulawesi Selatan, pemerintah Jakarta mengutus misi perdamaian ke Maluku pimpinan dr Leimena ke Ambon dengan maksud melakukan pendekatan dengan gembong-gembong RMS. Menteri Republik Leimena di dampingi, ahli medis dari Surabaya, dr C A Rehatta, Ir Putuhena, dan Menteri Penerangan Federal, Peloepessy. Pada 1 Mei 1950, dengan kapal korvet Hang Tuah milik ALRI rombongan misi perdamaian ini berangkat ke Ambon . Kepergian mereka ditehui oleh pimpinan RMS, dan mengirim kawat ke Jakarta , bersedia berunding tidak di kapal, tetapi melalui komisi internasional. Balasan kawat ini tidak ditanggapi oleh Jakarta dan kapal Hang Tuah sudah terlihat berlabuh di Teluk Ambon. RMS mengeluarkan syarat bila mengirim delegasinya ke kapal. Pada 6 Mei 1950, Kantor-berita Antara melaporkan mengenai misi Leimena sebga(i berikut: “ Makassar , 5 Mei 1950. Seperti telah diberitakan mengenai “Misi-Ambon” pimpinan Dr Leimena, yang pada hari Kamis jam 11 malam telah tiba di Makassar . Pada Jum’at pagi Dr Leimena pada jumpa pers mengatakan bahwa kapal “Hang Tuah” yang membawa rombongan misi hanya berada kurang dari satu jam di Teluk Ambon, dan berlabuh dekat mercu suar. Syahbandar pelabuhan Ambon yang bertindak sebagai pengubung membawa surat dari pimpinan “Pemerintah Maluku Selatan’ yang diminta agar misi ini langsung menjawab. Tetapi tak sampai satu jam, sebelum pihak misi damai dapat menjawab surat itu, syahbandar itu langsung di panggil oleh orang-orang di darat untuk kembali ke darat. Pada surat itu pihak RMS mengatakan mengusulkan agar dalam perundingan itu, menempatkan RMS sebagai negara yang berdaulata, yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh misi RIS. Leimena sangat kecewa dengan sikap ‘saudara-saudara Ambon ’ ini, dan mengatakan: “Padahal misi ini adalah antara sesame “Putra Bangsa” untuk sama-sama berembuk dan mengatasi permasalahan secara damai.” Waktu syahbandar kembali ke darat, terlihat jelas dari korvet, pejabat itu dipukuli sampai babak belur oleh prajurit KNIL dari pasukan “Baret Hijau.” Peristiwa perlakuan pejabat-pejabat RMS ini sangat menyayat hati Leimena dan kawan-kawan sesama asal Ambon . Karena yang dihadapinya adalah orang-orang dungu yang buta politik yang membawa derita terhadap masyarakat banyak di Maluku. Walau begitu, Dr. Leimena masih berusaha melakukan pendekatan dan meminta kapal “Hang Tuah” berlayar ke Saparua dengan maksud untuk menemui Manus Pattiradjawane, pimpinan setempat. Tetapi disana juga pihak penguasa RMS di Saparua melarang kapal merapat. Padahal Pattiradjawane adalah saudara ipar dari Gubernur Maluku, Johannes Latuharhary, namun ikatan keluarga tidak meluluhkan kekerasan sikap RMS hingga memutuskan tali persaudaraan.

Blunder dari Radio RRI Jakarta

Masih lagi di coba untuk melakukan pendekatan dengan pengadaan misi damai kedua. Tetapi ini pun gagal sebelum di mulai. Hal ini terjadi oleh siaran dari Radio RRI di Jakarta yang kurang di awasi. Waktu itu diumumkan tentang percobaan pengiriman misi perdamaian kedua. Tetapi sang penyiar mengakhiri siaran itu dengan menggunakan kata “ancaman” jika misi kedua ini tidak diterima, akan di daratkan 15.000 tentara TNI. Perkataan “ancaman” pada siaran itu secara psikologis merupakan kesalahan besar. Karena ketika itu TNI sama sekali belum punya persiapan untuk mendarat. Dan, benar saja, beberapa hari kemudian, Radio “RMS” mengumumkan, mereka tidak gentar sekalipun 150.000 tentara TNI akan mendarat. Karena waktu itu Panglima TT-IT sedang sibuk menempatkan pasukan-pasukan TNI di tempat-tempat yang perlu di seluruh pulau Sulawesi, Morotai dan Ternate (Maluku Utara), pulau-pulau Nusatenggara dari Bali sampai Timur. Juga di Tamimbar, Aru dan Kei di Maluku Selatan. Di tempat-tempat ini keadaan aman, kecuali di kota Makassar .

Sesudah peristiwa pertempuran bulan Mei 1950, terasa sekali keadaan masih eksplosif.

Selama pasukan KNIL asal Ambon masih bersenjata dan memperlihatkan sikap provokatif, Komandan Sektor Makassar, Letkol Soeharto harus siaga 24 jam sehari dengan sebagian dari pasukannya terhadap suatu serangan mendadak. Untuk menyelesaikan masalah RMS, perlu di datangkan pasukan baru dari Jawa, dan di kirim batalyon Mayor Soeradji dan batalyon Mayor Pelupessy. (Alex Kawilarang: Untuk Sang Merah Putih, 1988).

Blokade Laut APRIS dan kegagalan misi Schotborgh mengendalikan Tentara KNIL

Manusama pada bukunya, Om Recht en Vrijheid mengungkapkan bahwa kegagalan misi perdamaian Leimena berlanjut dengan rencana pemerintah Jakarta melakukan aksi blokade laut terhadap RMS. Tetapi karena di Ambon terdapat orang-orang Belanda, hingga pemerintah RIS menghubungi Komisariat Tinggi Belanda di Jakarta untuk mengorganisir proses evakuasi.

Pada 8 Mei 1950 di Ambon datang dua misi Belanda; misi sipil oleh Van Hoogstraten dan Deinse, misi militer pimpinan Kolonel Schotborgh. Kedua misi ini bertujuan melakukan evakuasi terhadap militer, ambtenaren dan orang-orang sipil Belanda. Pihak RMS membantu misi-misi ini dengan lancar hingga kesemua warga negara Belanda ini berangkat dengan kapal Kota Intan  dari Ambon menuju Jakarta . Tugas Kolonel Schotborgh tak hanya berurusan dengan evakuasi, tetapi juga harus mencegah agar pasukan pasukan eks KNIL dari Ambon tidak terlibat dengan urusan Republik Maluku Selatan, yang merupakan instruksi langsung dari Panglima tentara Belanda di Jakarta, memerintahkan semua tentara KNIL di konsinyir dan masuk tangsi-tangsi militer. Mereka yang melanggar akan menerima sangsi akan di peact dan semua hak-haknya di cabut, demikian Kantor Berita Aneta. Tetapi usaha Schotborgh sebagai Komandan Teritorial Indonesia Timur dengan mendekati dan meyakinkan tentara-tentara KNIL asal Ambon tidak membawa hasil. Bahkan sebagian besar dari mereka ini langsung mundur dari dinas KNIL dan mendaftarkan diri menjadi tentara RMS.

APRIS Mulai Memerangi RMS

Setelah memperoleh jumlah pasukan yang cukup, Panglima Kawilarang mulai menggerakan kekuatan APRIS menuju perairan Maluku di minggu keempat bulan Mei. Sasaran pertama adalah pendaratan di pulau Buru dan Seram Selatan. Dengan taktik demikian, pusat RMS di Ambon lambat laun terisolasi.

Waktu itu pasukan penyerbu TT-TI belum lagi memiliki LCM (Landing Craft Medium) dan LCVP (Landing Craft Vehicles dan Personnel). Kedua landing craft ini cocok untuk mendarat jika ada perlawanan. APRIS waktu itu hanya punyak LCI (Landing Craft Infantry) yang tak dapat begitu mendekati pantai seperti LCVP dan LCM. Lagi pula, jika LCI sudah kandas dekat pantai, tentara hanya bisa mendarat seorang demi seorang lewat dua jembatan sempit sebelah kiri dan kanan dari bagian muka LCI. Dalam bukunya, Kawilarang mengatakan: “Sebelum mendarat di Pulau Buru dan Seram kami perlu mengadakan latihan pendaratan dengan LCI di suatu pulau dekat Makassar . Latihan ini antara lain diadakan dengan dua kompani dari Bataltyon Suradji yang direncanakan akan mendarat dulu di Buru. Waktu LCI kandas dan kami turun, air laut sampai dada saya. Kapten Leo Lopulisa dan Mayor laut Alex Langkay malahan masuk laut yang lebih dalam lagi. Belum lagi prajurit-prajurit dari Batalyon Suradji. Waktu sedang melangkah ke darat, saya dengar seorang prajurit sambil batuk berteriak pada temannya, “Lho, air laut asin.” Jangan heran, mereka datang dari Solo, belum pernah masuk laut. Tetapi saya juga berpikir, pasukan pendaratan ini belum benar-benar merupakan seaborne forces.” Sesudah empat hari berlayar dari Makassar, pasukan APRIS tiba di utara Pulau Buru pertengahan Juli 1950. Ombak tinggi sekali dan hampir seluruh seaborne force, yaitu Batalyon Pelupessy dan dua kompani Batalyon Soeradji, mabuk laut. Maklum hanya dengan dua LCI dan satu LST (Landing Ship Tanks). Di utara Buru mereka rendez-vous (berkumpul) dengan kapal Waikelo yang membawa Batalyon 3 Mei pimpinan Mayor Mengko dari Manado .Esok harinya dua kompani Batalyon Suradji mendarat dahulu kira-kira lima kilometer sebelah barat Namlea. Tidak ada perlawanan. Menyusul pendaratan Batalyon Pelupessy yang akan maju ke Namlea. Ternyata pasukan ini mendapat hadangan dan menderita korban. Selain itu hampir seluruh pasukan merasa lemas. Karena pada umumnya selama empat hari muntah-muntah. Waktu pendaratan, “ransom” makan, berupa biscuit laut untuk dua hari, basah dan tak bisa dimakan. Kawilarang putuskan, supaya Batalyon 3 Mei, yang masih segar dan sehat karena diangkut dengan kapal besar Waikelo, untuk menyerbu Namlea. Hal ini terjadi di pagi hari, pada hari ketiga. Pada serangan ini Prajurit Banteng jatuh sebagai korban pertama dan Sersan Mayor Tandayu luka. Senjata-senjata yang ditinggalkan di markas RMS antara lain berupa beberapa brengun. Pasukan penyerbu sangat hati-hati mendekati markas dan gudang RMS itu. Ternyata tidak ada booby trap. Keesokan hari tiba dengan kapal korvet, Letkol Slamet Rijadi, Komandan Pasukan Maluku. Iapun gembira karena bertemu dengan Mayor Soeradji, bekas bawahannya. Disamping itu, datang juga Kapten M Jusuf yang akan menjadi ajudan Panglima Kawilarang. Kemudian di rencanakan untuk menduduki Piru dahulu oleh Batalyon 3 Mei. Kota Piru di dekati dari dua jurusan. Waktu sore hari tiba di sana , pasukan RMS sudah mengosongkannya. Sebelumnya dikirimkan tiga orang tentara eks RMS yang di tawan ke sana untuk meyakinkan pasukan RMS supaya bergabung dengan APRIS atau menyerah. Ternyata waktu Piru di duduki, ketiga orang itu sudah di tembak mati oleh komandan pasukan RMS di Piru, Nussy. Salah seorang yang dibunuh malahan Lestiluhu, komandan pasukan RMS di Buru, yang ditawan pasukan APRIS di Namlea. Ia adalah anggota Baret Hijau punya banyak teman di Batalyon 3 Mei, dimansa satu peleton juga terdiri atas bekas anggota Baret Hijau dan Baret Merah. Dua hari kemudian pasukan APRIS mendarat di teluk, kira-kira tiga kilometer sebelah utara Amahai, dengan dua kompani dari Batalyon Soeradji. Letkol Slamet Rijadi selalu berada di depan. Sesudah pertempuran kurang lebih dua jam, Amahai pun di duduki. Letkol Slamet Rijadi sebagai komandan pasukan Maluku, sementara kepala staf Mayor Herman Pieters mengkonsolidasi pasukannya. Juga dikepulauan Banda dan bagian selatan Pulau Seram sudah di kuasai pasukan APRIS. Batalyon Abdullah sudah menempatkan pasukan APRIS di kepulauan Tamimbar, Kei, Aru hingga kepulauan Geser dan beberapa tempat di Seram Selatan. Mayor Abdullah gugur dalam salah satu pendaratan di Seram Selatan. Ternyata pasukan RMS dapat menyeberangkan sebagian pasukannya dengan perahu-perahu ke Pulau Seram dan menyerang Amahai. Tetapi serangan ini dapat di patahkan oleh pasukan Mayor Soeradji.

Pertempuran empat hari di Makassar (5-9 Agustus) sempat memperlambat operasi militer APRIS ke Ambon selama sekitar satu bulan, sementara pasukan tambahan dari Jawa sudah berdatangan. Rencana penyerbuan selanjutnya adalah mendaratkan pasukan di Hitulama-Hitumesing , di utara pulau Ambon, dan pasukan lain di Tulehu dibagian timur dan sesudah dua pasukan bertemu di Paso, menyerang kota Ambon dari utara dan ada lagi pasukan lain yang akan menduduki lapangan terbang di sebelah barat pulau Ambon .

Yang akan mendarat di Hitulama dan Hitumesing adalah pasukan Mayor Jusmin dengan di pimpin oleh Letkol Soediarto. Pasukan 3 Mei pimpinan Mayor Mengko akan mendarat di Tuleho. Dalam pendaratan di Tuleho, Letkol Slamet Rijadi mendarat di sebelah selatan Tuleho dan Kolonel Kawilarang bersama Kapten Jusuf, Leo Lopulisa, Joost Muskita dan Kapten Claproth di sebelah utara Tulehu. Untuk pendaratan itu, APRIS sudah terima 10 LCM. Enam LCM akan digunakan untuk Tulehu dan empat lainnya untuk Hitu. Alex Mamusung, merupakan wartawan foto perang dari Indonesia Press Photo Service (Ipphos) yang turut meliput operasi penumpasan RMS melalui lensa foto sangat bermanfaat mengisi lembaran sejarah. Sejak pertempuran- pertempuran di Makassar, Buru, Piru, Amahai dan Ambon ia selalu ikut meliput dan mendokumentasi secara visual. Dari hasil karya foto, wartawan foto perang ini pada 17 Agustus 195, ia dianugerahi bintang oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Posted on October 12 2010 -by Harry Kawilarang/IM

October 10, 2015 Posted by | Sejarah | Leave a comment

Ironis, Provinsi Miskin Dengan kekayaan Alam Yang Melimpah

1.Provinsi Papua Barat
Provinsi Papua Barat masuk dalam peringkat pertama sebagai provinsi termiskin di indonesia,provinsi yang baru berdiri ini memiliki angka kemiskinan sekitar 36,80% dari total jumlah penduduk sekitar 770ribu jiwa.provinsi ini termasuk salah satu provinsi yang diberikan status istimewa oleh pemerintah berupa ada nya Majelis Rakyat Papua(MRP) yang berdampingan dengan DPRD di provinsi papua.potensi yang ada di papua barat antara lain dari pariwisata,tambang minyak dan gas,serta perkebunan.sektor pariwisata yang terkenal antara lain Kepuluaan Raja Ampat yang begitu eksotis,sedangkan dari tambang di papua barat terdapat tambang minyak dan LNG,sementara itu dari perkebunan juga di dominasi dengan perkebunan karet dan kelapa sawit.@unik-qu.blogspot.com

peta Provinsi Papua Barat

2.Provinsi Papua

peta Provinsi Papua

Di peringkat nomor 2 ada provinsi papua,provinsi yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Papua Nugini ini memiliki tingkat kemiskinan sekitar 35% dari total 2,8 juta penduduk nya.provinsi yang merupakan paling timur indonesia ini termasuk salah satu provinsi yang memiliki wilayah dati III terbanyak,yaitu total 29 wilayah.terdiri dari 2 kota dan 27 kabupaten.provinsi yang beribukota di jayapura ini sangat kaya sekali akan sumber alam nya,bila anda bertanya di mana freeport berada jawaban nya ya di provinsi papua ini.tepatnya di kabupaten mimika.perlu diketahui,freeport merupakan tambang emas terbesar di dunia dan PT.Freeport Indonesia merupakan penyetor pajak terbesar di indonesia dengan pajak yang disetorkan sekitar 1 Miliar USD per tahun nya,buset……..!!! ironis justru di papua lah provinsi termiskin di indonesia berada.

3.Provinsi Maluku

peta Provinsi Maluku

Di urutan ke 3 ada provinsi maluku,provinsi yang beribukota di ambon ini memiliki tingkat kemiskinan dengan persentase 27,70% dari total penduduk sekitar 1,5 juta.provinsi yang pernah terkena konflik akibat gerakan separatis RMS (Republik Maluku Selatan) ini mengandalkan sektor pariwisata dan pertanian yang diandalkan sebagai sumber pendapatan.sebagai contoh sudah sejak zaman dahulu kala maluku begitu terkenal dengan rempah-rempah nya,bahkan pertama kali penjajah yang datang ke indonesia yaitu portugis mendarat pertama kali di maluku sejak tahun 1500an.

4.Provinsi Sulawesi Barat

peta Provinsi Sulawesi Barat

Di urutan ke empat ada Provinsi Sulawesi Barat.provinsi ayng tergolong baru ini hasil pemekaran dari provinsi sulsel dan dinyatkan berdiri pada tahun 2004 yang beribukota di mamuju.provinsi ini memiliki tingkat kemiskinan dengan persentase sekitar 23% dari total 1,158 Juta penduduknya.sektor perekonomian yang begitu diandalkan dari provinsi ini adalah di sektor pertanian dan perkebunan,produk yang dihasilkan antara lain Cengkeh,Rempah-rempah,Kopi dan Kakao.namun sulawesi barat juga memiliki kandungan emas,batu bara dan minyak bumi yang belum tereskplorasi.hm…..mungkin karena provinsi baru dan sumber daya alam nya belum di eksplorasi inilah alasan sulbar masih masuk dalam daftar provinsi miskin di indonesia.@unikqu

5.Provinsi Nusa Tenggara Timur

peta Provinsi Nusa Tenggara Timur

Di urutan terakhir ada Provinsi Nusa Tenggara Timur.provinsi yang terkenal dengan Taman Nasional Komodo ini berbatasan langsung dengan negara tetangga,Timor Leste.provinsi yang memiliki penduduk total sekitar 4,6 juta ini punya persentase kemiskinan yang beda tipis sama provinsi sulbar,yaitu 23%.provinsi ini mengandalkan sektor pertanian dan pariwisata sebagai sumber pemasukan daerahnya.maka tak heran rempah-rempah dari NTT juga merupakan kualitas terbaik di dunia.

Nah gan,inilah kelima provinsi termiskin di Indonesia.setelah kita baca dan kita lihat peta nya,ternyata provinsi miskin ini saling bertetangga lho(kecuali Sul-bar),NTT bertetangga dengan Maluku,Kemudian dengan Papua Barat selanjutnya terakhir berbatasan dengan Provinsi Papua. Dan Ini Salah Siapa?

October 10, 2015 Posted by | Uncategorized | Leave a comment