Amanahrakyat's Blog

Just another WordPress.com site

Kesaktian Golkar menyelamatkan Syahril Sabirin

BABAK BERIKUT: MARZUKI VS AKBAR

“Pertandingan” Gus Dur vs Syahril Sabirin berbuntut perseteruan antara Marzuki vs Akbar. Jika Marzuki masih nekad  menggelar pemeriksaan Syahril, ia akan disingkirkan Golkar.

Ruang rapat pimpinan puncak Golkar minggu lalu sudah memanas sejak rapat belum dibuka. Akbar Tanjung yang baru datang langsung menyalami Marzuki dengan tersenyum dan setengah bergurau, “Selamat ya atas
award-nya”. Sehari sebelumnya memang, para mahasiswa Universitas Indonesia menganugerahkan Soeharto Award untuk Marzuki Darusman, Presiden Gus Dur dan Benny Moerdani. Marzuki, meski garis matanya
menunjukkan rasa tak senang, masih bisa tersenyum dan membalas, “Iya terima kasih, tapi kok muridnya yang lihai malah nggak dapat”. Yang dimaksud oleh Marzuki dengan murid yang lihai, siapa lagi kalau bukan Akbar Tanjung. Ketua Umum Golkar yang merangkap jadi ketua DPR itupun tersenyum diplomatis.

Rapat berlanjut di ruangan tertutup tanpa staf yang biasa menguping. Tapi dari notulensi rapat, ketahuan bahwa salah satu agenda yang dibahas hangat adalah kelanjutan Kasus Bank Bali. Akbar Tanjung kabarnya tetap ngotot bahwa Syahril Sabirin sebagai Gubernur Bank Indonesia tidak bisa diintervensi pemerintah karena independensi Bank Indonesia dilindungi Undang-Undang. Argumen Akbar yang lain adalah,
merosotnya nilai rupiah beberapa bulan belakangan ini terjadi bukan karena BI tidak mau intervensi, melainkan justru karena ucapan-ucapan Gus Dur sendiri yang disebutnya tidak ramah pasar.

Marzuki Darusman punya argumen lain, bagaimana mungkin jabatan bisa terus berjalan bila penjabatnya berstatus tersangka? Siapa jamin tidak akan terjadi konflik kepentingan? “Apalagi dalam UU Bank Indonesia itu juga disebut dalam penjelasan, Gubernur BI harus mundur bila terkena kasus yang melibatkan dirinya sebagai tersangka,” ujar Marzuki dalam suatu kesempatan dirubung wartawan tanpa menyebut penjelasan pasal berapa. Argumen lain yang lebih luas, menurut Marzuki, Syahril Sabirin memang gagal bertugas sebagai Gubernur BI justru di saat kritis yang menentukan seperti krisis ekonomi sekarang ini, bahkan sebelum Gus Dur berkuasa sekalipun. “Ia gagal menjadikan BI sebagai otoritas moneter yang berfungsi menyehatkan perbankan Indonesia,” tandas Marzuki tanpa basa-basi.

Bila menyimak adu argumen di atas, keduanya seolah bersikap sebagai orang idealis yang berada di jalur hukum. Tapi di balik argumen lihai di atas, sebetulnya masing-masing punya kepentingan politik ekonomi
yang tak kurang licik. Akbar Tanjung punya kepentingan untuk melindungi Golkar sebagai mesin politik yang mendukung dirinya.
Syahril Sabirin jelas adalah orang kunci dalam kasus Bank Bali. Dan kasus ini merupakan pintu sisi gelap penggalangan dana bagi Golkar.
Pemerasan terhadap Bank Bali hanyalah bagian dari cara-cara busuk Golkar dalam menghimpun dana. Bila kasus ini terungkap habis, bisa-bisa buntutnya akan merembet jauh hingga menjerat kasus-kasus
penghimpunan dana lainnya oleh Golkar. Maka bisa dipahami mengapa manuver Syahril Sabirin menyambangi DPR untuk “minta perlindungan” diterima dengan jabat tangan erat oleh Akbar Tanjung.

Marzuki Darusman tak kalah ngotot-nya dalam kasus ini. Ia harus menunjukkan pada publik bahwa ia masih layak dipercaya. Dan yang paling penting tentu saja, layak dipercaya oleh Gus Dur yang menentukan posisinya sebagai jaksa agung. Santer kabar bila Agustus nanti Gus Dur akan merombak total kabinetnya, dan siapa yang tidak loyal bisa saja terpental. Prestasi Marzuki sebagai Jaksa Agung sebetulnya meragukan karena belum ada satu pun kasus besar yang tuntas. Mengadili Soeharto? Seperti benang ruwet menelusurnya.
Pengadilan HAM untuk para jendral dalam kasus 27 Juli? Masih lemah perangkat undang-undangnya. Yang paling gampang tentu saja adalah menyelesaikan kasus Bank Bali yang melibatkan Syahril Sabirin.

Perseteruan antara Marzuki dengan Akbar Tanjung yang kini masih terpendam, tampaknya bakal meledak bilamana Syahril Sabirin mulai diperiksa sebagai tersangka mulai minggu ini. Syahril sudah mengirim
sinyal ke Akbar Tanjung bahwa pada kenyataannya Kasus Bank Bali ini akan berujung ke Golkar sebagai pemrakarsa. Akbar bakal mati-matian menggalang dukungan para anggota DPR untuk menyelamatkan Syahril, dan hal itu sudah dilakukan lewat pernyataan-pernyataan awal bahwa DPR lah yang menentukan siapa yang akan jadi Gubernur BI. Sebagai politisi ulung, tentu Akbar Tanjung akan mencoba pula merangkul Marzuki untuk lebih “akrab” ke Golkar ketimbang diketiaki Gus Dur. Itu berarti Akbar akan menawarkan posisi atau keuntungan yang lebih menarik untuk Marzuki yang selama ini kewalahan menjadi Jaksa Agung. Bila Marzuki bergeming, Golkar yang akan menyingkirkan dia. Pesoalannya, seandainya persoalan publik ini memang diselesaikan lewat jalan belakang maka yang jadi korban adalah tegaknya hukum, di mana siapa yang diindikasi bersalah memang harus diadili dan diganjar hukuman bila akhirnya terbukti salah. (*)

June 6, 2011 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: