Amanahrakyat's Blog

Just another WordPress.com site

Presiden Partai atau Presiden NKRI


Mengharap kaum Politikus  agar berpolitik secara santun, namun kelompoknya sendiri tidak pernagh bersikap santun, bahkan kesan terlalu arogan sehingga unsure ethikapun ditinggalkan.

Pertanyaannya apakah politikus lain yang wajib santun ,sedangkan diri sendiri tidak perlu menghormati orang lain. Atau yang menganjurkan santun tersebut tidak mengerti makna santun atau himbauan itu tidak berlaku untuk anggotanya ??????

Dibawah ini ada kutipan  himbauan dari SBY:

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengajak semua pihak dan kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) untuk mewujudkan kompetisi politik yang santun. Ajakan ini disampaikan oleh SBY ketika memberi sambutan di Dies Natalis ke-62 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Jakarta, Senin malam (17/2). ”Dalam kurun waktu kurang dua bulan lagi, kita akan melaksanakan perhelatan demokrasi Pemilihan Umum 2009, mari kita jaga bersama,” ungkap Presiden. SBY mengajak semua pihak untuk mewujudkan demokrasi yang memiliki akar kepribadian dan akhlak yang mulia. Kompetisi politik harus diwujudkan secara santun dan beradab, yang jauh dari politik menghalalkan segala cara, politik…

Seterusnya ada kutipan bentuk santun yang ditanamkan SBY terhadap anggotanya, terutama,yang mengaku dirinya sebagai pengagum dan mendewakan SBY sekali gus sebagai juru bicara Demokrat atau SBY, yakni  Ruhut Sitompul SH lulusan Universitas Pajajaran Bandung..

1. ”Diam kau bangsaaat….”

Pertama, pantaskah ucapan tsb diucapkan oleh seorang anggota DPR yang katanya terhormat ? Mengapa ucapan tsb justru dilontarkan oleh seorang anggota DPR dari Partai Demokrat yang ketua dewan pembinanya (SBY) sering berteriak untuk bersikap santun ? Masih adakah rasa malu pada anggota DPR ketika kejadian tsb diberitakan di berbagai media ? Apakah anggota DPR tidak memikirkan perasaan para pemilihnya dengan sikap seperti itu ?

2. Provokasi Berbahaya Ruhut Sitompul

 Lalu Ruhut Sitompul melontarkan caci-maki yang sangat tidak beretika. Dia menuduh orang Arab seperti Fuad Bawazir itu tidak ada kontribusinya bagi Indonesia. Kata dia, justru Amerika dan lain-lain itu yang selama ini terus membantu Indonesia. Lebih arogan lagi, Ruhut menyebut orang Batak pintar-pintar, tapi tidak punya jalur ke Cendana. Seolah dia mengatakan, orang Arab seperti Fuad Bawazir bisa membangun jalur ke Cendana, sehingga kemudian eksis.

Baru-baru ini digelar diskusi yang menghadirkan tokoh dari tim sukses ketiga pasangan Capres RI. Dari JK-Win ada Fuad Bazir, dari Mega Pro ada Permadi, dan dari SBY-Boediono ada Ruhut Sitompul. Sebagaimana sudah sering terlihat di media-media massa, ketiga tim sukses ini memang sangat kritis dalam membela calon masing-masing. Tetapi semua pihak tahu, bahwa pasangan SBY-Boediono dianggap sebagai “musuh bersama” oleh kedua tim lainnya.

Namun tidak menyangka jika kemudian keluar pernyataan-pernyataan yang sangat provokatif dari seorang Ruhut Sitompul. Pernyataan dia menanggapi kritik-kritik pedas yang dicecarkan Fuad Bawazir kepada Pemerintahan SBY selama ini. Intinya, SBY dianggap neolib dan pro kepentingan asing.

Lalu Ruhut Sitompul melontarkan caci-maki yang sangat tidak beretika. Dia menuduh orang Arab seperti Fuad Bawazir itu tidak ada kontribusinya bagi Indonesia. Kata dia, justru Amerika dan lain-lain itu yang selama ini terus membantu Indonesia. Lebih arogan lagi, Ruhut menyebut orang Batak pintar-pintar, tapi tidak punya jalur ke Cendana. (Seolah dia mengatakan, orang Arab seperti Fuad Bawazir bisa membangun jalur ke Cendana, sehingga kemudian eksis).

Tuduhan Ruhut Sitompul ditanggapi sangat keras oleh Permadi, meskipun konteksnya lain. Permadi ganti menyerang SBY yang dianggap ikut tanggung-jawab dalam soal Kerusuhan 27 Juli 1996 di depan Kantor DPP PDI, juga dalam kerusuhan Ambon-Poso.

SANGAT BERBAHAYA

Terlepas dari siapa yang mengatakannya, pernyataan Ruhut Sitompul sangat berbahaya. Ia sangat bertolak-belakang dengan semangat PERSATUAN NASIONAL. Ruhut pasti tahu bahwa keutuhan NKRI itu dijaga dengan amat susah, susah payah, berkuang peluh dan darah. Mengapa? Sebab bangsa Indonesia memang sangat komplek dan multi kultural. Kalau seseorang masuk ke perselisihan etnis, akibatnya bisa sangat membahayakan negara.

Masih basah dalam ingatan kita bagaimana kerusuhan etnis berkali-kali terjadi di Indonesia. Kerusuhan Ambon, Maluku Utara, Poso, Aceh, Kupang NTT, Papua, Sambas, Sampit, dan lainnya. Semuanya bercorak kerusahan etnis yang membahayakan keutuhan negara.

Nah, sekarang Ruhut Sitompul seperti menyiramkan bensin ke bara api. Pernyataan dia yang menyerang komunitas Arab, lalu melebih-lebihkan komunitas Batak, jelas bisa membuat masyarakat terlibat dalam konflik berat. Nanti, kalangan Arab akan membalas ucapan Ruhut, lalu mereka mengecam kaum Batak. Lalu masing-masing pihak akan memanggil kawan-kawannya dari etnik lain untuk membantu. Jika demikian, maka hancurlah Indonesia ini. Sudah payah NKRI dijaga, ia bisa hancur lebur akibat pernyataan beracun Si Ruhut Sitompul ini.

Sebaiknya, para pemimpin politik, lembaga-lembaga resmi, serta organisasi-organisasi kemasyarakatan menuntut Ruhut Sitompul atas pernyataannya yang sangat PROVOKATIF itu. Pernyataan dia bukan saja ditujukan untuk menyerang pihak lain, tetapi bisa menghancurkan keutuhan NKRI. Alangkah baik, kalau ormas-ormas Islam menuntut mulut Si Ruhut Sitompul ini. Bukan menuntut SBY atau komunitas Batak, tetapi menuntut kelancangan mulut orang satu ini. Pernyataan dia seakan ingin menghancurkan negara melalui isu konflik etnis.

SIKAP RASIONAL

Sebaiknya, Ummat Islam jangan terprovokasi pernyataan Ruhut lalu melakukan serangan-serangan pernyataan ke kalangan komunitas Batak. Jangan lakukan itu, tetapi cukup tuntut pada diri Ruhut Sitompul-nya. Sebab, kalau kita melayani ucapan berbisa maniak satu ini, berarti kita akan terlibat dalam konflik etnis yang sangat merugikan.

Tentang peranan Arab, Batak, Jawa, dan lainnya, hal itu tidak perlu dibesar-besarkan, apalagi dalam suasana perselisihan. Secara manusiawi, semua pihak memiliki kelebihan dan kekurangan. Dan hal itu sudah dimaklumi sejak dulu, sehingga di negara kita meskipun multi etnik, alhamdulillah tetap bersatu dalam konteks NKRI.

Sebagai contoh, orang Jawa dianggap memiliki kelemahan dari sisi ketidak-tegasan sikapnya, terlalu sopan, kadang tidak mau menyinggung perasaan orang lain. Lalu orang Batak disebut-sebut sebagai komunitas yang egaliter, berterus-terang, bisa bersikap apa adanya. Begitu pula, orang Arab. Sebagian mereka tampak keras dalam memegang prinsip, tetapi sebagian lain bersikap lembut dan ramah. Nah, hal-hal demikian merupakan keunikan tabiat bangsa Indonesia yang memang multi kultural.

Seharusnya, siapapun jangan masuk ke isu-isu yang bisa membenturkan etnis yang satu dengan lainnya. Apa tidak cukup terjadi tragedi-tragedi menyesakkan dada seperti di Ambon, Maluku, Poso, Sambas, Sampit dan lain-lain itu? Sudahlah cukup sampai disana, jangan diperlebar lagi.

Sangat disarankan agar pihak TNI angkat bicara. Bukan dalam substansi politik, tetapi mengingatkan agar kompetisi politik tidak membawa ke arah perpecahan bangsa. Sekali lagi, harus ada sikap resmi dari negara atas pernyataan sarkastik itu. Jika dibiarkan, ia akan terus membesar, lalu menjadi potensi kehancuran bagi bangsa ini ke depan. Ruhut Sitompul telah masuk ke topik yang sangat sensitif bagi bangsa Indonesia.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga bangsa Indonesia berada dalam kesatuan, kebersamaan, serta gotong-royong dalam membangun kemaslahatan dan menepiskan kemungkaran. Allahumma amin.

3-Kali ini Ruhut vs. Akbar Faisal

 Saat Ruhut masih terus ngoceh, Akbar langsung bersuara keras sambil menunjukkan tangannya ke arah Ruhut.

“Saya minta Anda etis! Ketua Dewan Pembina Anda meminta etis. Kali ini, saya tidak akan membiarkan Anda berbicara seenaknya. Anda sudah terlalu sering dibiarkan ngomong apa saja. Kali ini saya tidak akan membiarkan Anda,” kata Akbar dalam rapat Pansus dengan BUMN, Rabu (10/2/2010) siang.

Rapat Pansus Angket Kasus Bank Century “panas” lagi. Siapa lagi yang bikin ribut kalau bukan Ruhut Sitompul. anggota Pansus asal Fraksi Partai Demokrat itu kali ini dapat lawan imbang.

Akbar Faisal selaku anggota Pansus asal Fraksi Partai Hanura tampaknya sudah lama menahan kesabaran. Ketika Ruhut menginterupsi omongannya dan sempat terjadi “perang mulut” di antara keduanya, Akbar langsung membentak Ruhut.

Awalnya Ruhut meminta agar pimpinan rapat, Yahya Sacawirya, tegas mengatur lalu lintas interupsi. Dia menilai Akbar tak tahu persoalan dan tak mengikuti sejak awal rapat. Saat Ruhut masih terus ngoceh, Akbar langsung bersuara keras sambil menunjukkan tangannya ke arah Ruhut.

“Saya minta Anda etis! Ketua Dewan Pembina Anda meminta etis. Kali ini, saya tidak akan membiarkan Anda berbicara seenaknya. Anda sudah terlalu sering dibiarkan ngomong apa saja. Kali ini saya tidak akan membiarkan Anda,” kata Akbar dalam rapat Pansus dengan BUMN, Rabu (10/2/2010) siang.

Mendengar Akbar bersuara keras, Ruhut membalasnya dengan berbicara lebih keras hingga Yahya akhirnya meminta keduanya diam. Ruhut tak memedulikan peringatan pimpinan rapat. “Akbar ngomong, aku enggak potong. Kita ini ada 30. Kalau ada yang masuk kelakuannya kayak Akbar semua, bagaimana,” balas Ruhut.

Akbar hampir saja membalas omongan Ruhut. Ia tak terima dengan perkataan “kelakuan” yang dilontarkan Ruhut. Namun, perseteruan keduanya dihentikan oleh Yahya dengan mengembalikan fokus rapat pada acara mendengarkan jawaban saksi yang dihadirkan.

Ruhut memang bukan sekali ini saja memotong omongan anggota Pansus hingga akhirnya menimbulkan keributan. Sejumlah anggota Pansus sempat menyatakan terganggu dengan aksi Ruhut dan meminta pimpinan Pansus menertibkan anggota yang tidak etis.

4- Ruhut Sitompul vs Maruarar Sirait


“Hanya berani berkata-kata, tapi tidak berani bertangungjawab. Namanya Bendera. Bendera ini, tidak enak kalau kubilang, siapa dia. Karena adikku si Ara Sirait, nanti tidak enak,” kata Ruhut Sitompul.

Pansus ribut lagi. Kali ini Ruhut versus Maruarar Sirait.

   “Hanya berani berkata-kata, tapi tidak berani bertangungjawab. Namanya Bendera. Bendera ini, tidak enak kalau kubilang, siapa dia. Karena adikku si Ara Sirait, nanti tidak enak,” kata Ruhut Sitompul.

Itulah pernyataan Ruhut Sitompul, anggota Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Bank Century dari Fraksi Demokrat, sebelum memberikan pertanyaan kepada Komisaris Jenderal Susno Duadji di Gedung DPR, Jakarta, Rabu 20 Januari 2010.

Pernyataan Ruhut jelas memicu dan memancing emosi anggota Pansus lainnya, Maruarar Sirait yang akrab disapa Ara dari Fraksi PDI Perjuangan. Ara pun menginterupsi Ruhut.

“Interupsi, karena menyebut nama saya, saya interupsi. Pak Ruhut sebut saja nama saya. Kenapa tidak enak? Saya menghargai Pak Ruhut, kalau Pak Ruhut sebut nama Pak SBY enak, menyebut nama Ibas (Edhie Baskoro Yudhoyono) enak, sebut nama saya enak juga dong,” kata Maruarar.

Organisasi Bendera yang disebut Ruhut itu pernah menyatakan bahwa ada sejumlah nama-nama yang menerima aliran dana Bank Century.  Nama-nama itu antara lain ada di tim sukses SBY-Boediono, termasuk putra Presiden SBY.

5. Ruhut Sitompul Tantang Sultan HB X Bertaruh Potong Leher


“Saya katakan, tolong catat dengan tebal. Sultan, Tanthowi itu (maaf) goblog,” kata Ruhut, kepada Rakyat Merdeka Online, beberapa saat lalu (Minggu, 30/1).

RMOL. Jurubicara Partai Demokrat, Ruhut Sitompul, marah dengan pihak-pihak yang menghubungkan kerusuhan di Tunisia dan Mesir akan melanda Indonesia.

Sebelumnya, Sultan Hamengku Buwono X, menyatakan bahwa kerusuhan di Mesir bisa terjadi di Indonesia jika institusi negara yang seharusnya melindungi rakyat namun tidak menjadi pelita bagi rakyat. Beberapa waktu lalu, hal senada juga disampaikan oleh anggota Komisi I DPR Tanthowi Yahya. Menurut Tanthowi, dimanapun, kalau rezim penguasa menindas rakyat, makan perlawanan akan mencuat.

“Saya katakan, tolong catat dengan tebal. Sultan, Tanthowi itu (maaf) goblog,” kata Ruhut, kepada Rakyat Merdeka Online, beberapa saat lalu (Minggu, 30/1).

Menurut Ruhut, kondisi sosial politik di Tunisia dan Mesir sangat berbeda dengan Indonesia. Katanya, Tunisia dan Mesir dipimpin oleh rezim diktator, persis seperti Indonesia ketika dipimpin oleh rezim Soeharto. Sedangkan Indonesia kini, masih kata Ruhut, merupakan negara demokrasi terbesar di dunia. Selain itu, kedua negara di Afrika itu menjadikan kekuasaan sebagai panglima, sedangkan di Indonesia kekusaan berada di dalam payung hukum.

“Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya,” kata Ruhut.

Ruhut pun menantang Sultan dan Tanthowi untuk memprediksi politik masa depan Indonesia. Dia berani bertaruh bahwa SBY tidak akan goyah sebab didukung oleh 63 persen rakyat Indonesia.

“Kalau SBY jatuh, potong leher saya. Kalau SBY tidak goyang, saya tantang si Sultan dan si Tanthowi untuk potong leher mereka,” demikian Ruhut .

6. Ruhut: Jangan Dengar Permadi,

“Semua orang tahu Permadi itu dukun. Jadi jangan didengar omongannya. Permadi itu dukun yang berlagak politisi mabok,” kata Ruhut kepada okezone, Senin (21/3/2011).Di mata Ruhut, Permadi adalah loyalis Bung Karno yang didepak dari PDI Perjuangan dan kembali mencari peruntungan bersama Prabowo Subianto melalui Partai Gerindra. “Dia itu manusia labil,” tandasnya.”Saya harap masyarakat jangan mendengarkan pernyataan Permadi. Karena kodok saja akan tertawa mendengar celotehan dia,” sindir Ruhut.

Pernyataan politisi yang juga paranormal, Permadi, yang menyerukan agar rakyat melakukan revolusi dan menggulingkan pemerintahan SBY mendapat kecaman dari Partai Demokrat.

Juru Bicara Partai Demokrat, Ruhut Sitompul, mengatakan masyarakat tidak perlu menanggapi provokasi dari mantan politisi PDI Perjuangan yang kini aktif bersama Gerindra tersebut. Pasalnya, pernyataan Permadi dinilai ngawur.

“Semua orang tahu Permadi itu dukun. Jadi jangan didengar omongannya. Permadi itu dukun yang berlagak politisi mabok,” kata Ruhut kepada okezone, Senin (21/3/2011).

Di mata Ruhut, Permadi adalah loyalis Bung Karno yang didepak dari PDI Perjuangan dan kembali mencari peruntungan bersama Prabowo Subianto melalui Partai Gerindra. “Dia itu manusia labil,” tandasnya.

“Saya harap masyarakat jangan mendengarkan pernyataan Permadi. Karena kodok saja akan tertawa mendengar celotehan dia,” sindir Ruhut.

Sebagaimana diketahui, Mantan Anggota DPR yang juga seorang paranormal, Permadi, nampaknya sudah kesal dengan kebobrokan pemerintah. Bahkan, Permadi menyerukan agar rakyat menggelar revolusi.

“Jangan bunuh anak kita karena miskin. Mari kita bunuh orang yang sudah menyengsarakan rakyat,” kata Permadi saat berorasi di acara mimbar bebas yang digelar di Universitas Satya Negara Indonesia (USNI), Jakarta, pagi tadi.

Dia menyerukan juga kepada para mahasiswa untuk melakukan revolusi, salah satunya dengan menggulingkan pemerintahan SBY-Boediono. “Di sini ada intel SBY, tolong bilang sama SBY rakyat mau revolusi,” tandasnya

7- Ruhut Dianggap Menghina  UII dan UGM

“Coba tanya, Mahfud itu lulusan mana? Saya ini lulusan Unpad (Universitas Padjadjaran),” kata Ruhut saat itu.
Akibat kejadian ini, sejumlah mahasiswa UGM kemarin mendatangi Mahfud. Para mahasiswa ini menilai Ruhut telah melecehkan almamater UGM. Bahkan, kata Mahfud, ada beberapa mahasiswa yang berniat mengajukan tuntutan hukum kepada Ruhut.
“Masak UGM mau dibandingkan dengan universitas lain? Yang orang tahu universitas lain itu tidak lebih bagus juga kalau dibandingkan UGM. Jadi, saya anggap dia itu melecehkan UGM,” kata Mahfud kemarin.

 Ulah Juru Bicara Partai Demokrat (PD) Ruhut Sitompul kerap mendapat kecaman. Sekarang “Si Poltak” sedang ramai dikecam oleh almamater Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta karena dianggap melakukan penghinaan.
Pada  acara Jakarta Lawyer’s Club di tvOne, Selasa malam, Ruhut sempat mempertanyakan almamater Mahfud. Selama ini, Mahfud disebut sebagai Guru Besar Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Sejak menyatakan bahwa mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin menyuap Sekjen MK Janedri M Gaffar, Ruhut kerap bersikap sengit terhadap Mahfud.
“Coba tanya, Mahfud itu lulusan mana? Saya ini lulusan Unpad (Universitas Padjadjaran),” kata Ruhut saat itu.
Akibat kejadian ini, sejumlah mahasiswa UGM kemarin mendatangi Mahfud. Para mahasiswa ini menilai Ruhut telah melecehkan almamater UGM. Bahkan, kata Mahfud, ada beberapa mahasiswa yang berniat mengajukan tuntutan hukum kepada Ruhut.
“Masak UGM mau dibandingkan dengan universitas lain? Yang orang tahu universitas lain itu tidak lebih bagus juga kalau dibandingkan UGM. Jadi, saya anggap dia itu melecehkan UGM,” kata Mahfud kemarin.
Mahfud mengaku para mahasiswanya protes mengapa dirinya tak pernah menyebutkan secara terbuka bahwa dirinya lulusan UGM. Padahal, Mahfud menyelesaikan studi S-1, S-2, dan S3-nya di UGM. Tak hanya itu, Mahfud juga menjadi guru besar di salah satu kampus ternama di Indonesia tersebut.
Terkait protes ini, Mahfud hanya mengatakan bahwa medialah yang memberikan atribut Guru Besar UII. Akhirnya, nama Mahfud melekat dengan UII, dimana ia menjadi Guru Besar.
“Saya sendiri lebih suka menyebut lulusan ”Air Langgar”. Air yang di sampingnya banyak surau. Langgar itu pondok pesantren,” imbuh Mahfud.
Gelar sarjana Mahfud diperoleh mantan Menteri Pertahanan ini S1 di Fakultas Hukum UII dan Fakultas Sastra dan Budaya UGM. Untuk gelar S2, Mahfud lulusan Pascasarjana UGM, sementara gelar doktor juga lulusan Pasca Sarjana UGM dalam bidang hukum tata negara.
“Saya juga pernah menjadi visiting scholar di Columbia University (New York) dan menjadi academic researcher di Northern Illinois University (NIU) DeKalb. Saya pernah serumah dengan Andi Mallarangeng di NIU,” ceritanya.
Pria asal Madura ini juga saat ini masih aktif mengajar di program pasca sarjana/S3 UGM, Undip, UNS, Unila, Untan. Bahkan tercatat juga sebagai opponen ahli di program doktor Unpad. Beberapa nama terkenal juga pernah menjadi ‘murid’ Mahfud di UGM.
“Saldi Isra yang hebat itu saya ketua Tim Penilai disertasinya di UGM Zainal Arifin Muhtar ketua PuKat UGM yang galak itu sekarang sedang menulis disertasi di UGM dan saya seorang promotornya,” canda Mahfud.
Karena itu, Mahfud meminta pada para mahasiswa UGM dan alumninya. Dia mengaku tidak ingin membeda-bedakan asal almamater.
Sebelumnya Mahfud juga menyebut Ruhut sebagai sarjana ‘es kopyor’. “Dia (Ruhut) itu bukan ‘es satu’ tetapi lebih pantas ‘es kopyor’,” ujar Mahfud MD menyusul pernyataan Ruhut atas Mahfud MD yang mengkritik Mahfud MD yang bergelar S2 dan profesor.
Sebelumnya, Ruhut Sitompul seolah-olah mengajari Mahfud MD dan mengejek gelar S3 hukum Mahfud MD yang tidak melaporkan kasus gratifikasi ke MK oleh terduga Muhammad Nazaruddin ke KPK atau ke penyidik lainnya.
Ruhut mengatakan, bahwa Mahfud MD yang bergelar S3 hukum tak paham perkara hukum karena justru melaporkan kasus dugaan gratifikasi tersebut ke Ketua Dewa Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono dan bukan ke KPK.
Dan menanggapi hal ini, Mahfud mengatakan, Ruhut sebagai anggota Komisi III/Hukum DPR justru yang tidak paham hukum, hal itu terbukti sewaktu pembahasan masalah hukum di Komisi III, Ruhut justru tak mengerti istilah-istilah hukum yang sepatutnya diketahui mahasiswa semester II.
“Saat itu, hakim-hakim yang ikut rapat dengan Komisi III justru mempertanyakan, Ruhut itu sarjana hukum atau tidak, ya?” ujar Mahfud.

Kesimpulan:

Ulah dari Ruhut Sitompul SH, lulusan Universitas Pajajaran, tidak terlepas dari lemahnya pembinaan dari Ketua Dewan Pembina dari Partai Demokrat.Akibatnya akan berdampak negative  kepada komunikasi politik dari SBY.

Kegagalan lobi yang dilakukan elit partai Demokrat maupun elit partai koalisi pemerintah diperparah dengan ketidakjelasan sikap Presiden SBY atas persoalan ini. SBY terkesan lepas tangan dan membiarkan persoalan ini terus menjadi polemik di depan publik. Ketidaktegasan seorang SBY membuat semuanya menjadi bola liar dan membuat mitra koalisi yang kritis bisa semaunya bersikap dan bersuara tanpa takut ditegur oleh SBY. Padahal, dalam banyak kesempatan, elit partai koalisi yang kritis, Golkar dan PKS, berulang kali berani berbicara berseberangan dengan sikap Demokrat dengan berlindung di balik pernyataan SBY yang menginginkan Century diusut tuntas, hingga terang benderang.

SBY gagal menjadi juru tengah, menjadi perekat koalisi yang seharusnya ia  mainkan. Padahal, jika dari awal SBY bisa menunjukkan sikap atas persoalan ini, persoalan Century belum tentu menjadi ‘bola liar’ yang gampang dimanfaatkan partai-partai, baik mitra koalisinya apalagi oposisi. Persoalan Century, seolah membenarkan fakta yang selama ini melekat pada diri seorang SBY yang tidak berani, tidak tegas, cengeng, mau aman sendiri dan tidak berani mengambil reksiko.

Di saat semakin anjloknya citra SBY di mata mitra koalisinya, konstelasi bertambah buram dengan ikut campurnya para staf khusus SBY, Andi Arif dan Felix Wanggai yang bersafari menemui tokoh-tokoh nasional. Langkah para staf khusus itu ternyata tidak mampu mengubah sikap partai koalisi yang berseberangan, namun malah menjadi kontraproduktif karena semakin menunjukkan kepanikan dan ketidakmampuan SBY memenej timnya untuk membuat kesepahaman diantara mitra koalisi.

Anehnya, SBY baru berani bicara dan menunjukkan sikap sehari menjelang rapat paripurna DPR. Di depan para Bankir ternama, SBY secara jelas menyatakan siap bertanggungjawab atas kebijakan bailout dan menyatakan bahwa kebijakan tersebut dibenarkan untuk menyelamatkan Indonesia dari krisis global yang saat itu terjadi.

Namun, sikap SBY justru terlambat. Sikap tersebut tidak mampu meredam sikap kritis dari mitra koalisinya, karena disampaikan di saat semua fraksi justru tidak mungkin menjilat ludahnya sendiri. Ceritanya bisa jadi akan lain jika SBY mau bersikap demikian saat persoalan Pansus Century belum memasuki tahapan pandangan awal dari setiap fraksi.

Semoga paparan diatas dapat SBY menyadari rongrongan dari dalam yang sangat mengancam pamor beliau.

June 19, 2011 - Posted by | Uncategorized

3 Comments »

  1. apapun bentuk institusi & segala ragam kewenangannya tdklah patut bagi kita rakyat pd saat ini utk meneladani atau mempedomani, melainkan marilah kita rakyat menjadi manusia yg cerdas dlm menyikapi kebobrokan pd multidimensi di negri yg kita cintai ini.

    Comment by dareski | January 3, 2012 | Reply

  2. bagus

    Comment by Kaji Ji | February 13, 2012 | Reply

  3. ruhut itu memang batak yang pintar **pintar jilat pantat orang jawa (president). dasar ruhut TOLOL…hahahaha..

    Comment by maz | June 18, 2013 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: