Amanahrakyat's Blog

Just another WordPress.com site

Beberapa tanggapan tentang Pemerintahan SBY

Krisis kepercayaan sudah terjadi di berbagai lini. Publik juga sudah hilang kepercayaan kepada elit pemerintah.

Karena itu, Ketua Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Twedy Noviady, mendesak pemerintah untuk segera menuntaskan berbagai persoalan hukum. Apalagi persoalan hukum ini sedang menjadi perhatian publik, terutama terkait kasus Nazaruddin.

“Ini momentum besar bagi pemerintahan SBY untuk menuntaskan kasus korupsi,” kata Twedy kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Selasa, 9/8).

Selain itu, kata Twedy, SBY juga harus segera mengendalikan harga sembako. Twedy juga heran bila Ramadhan dan lebaran dijadikan alasan untuk membiarkan kenaikan harga sembako.

“Puasa dan lebaran kan merupakan hal rutin. Masa untuk hal rutin saja pemerintah tak sanggup mengendalikan harga,” kata Twedy.

Twedy mengingatkan, bila  SBY tidak mampu menangani dua hal ini maka kekecewaan rakyat akan semakin besar. Hal ini juga akan berdampak pada kepemimpinan SBY.

“Langgeng tidaknya kepemimpinan SBY bergantung pada keseriusan menuntaskan kasus korupsi dan membuat kebijakan yang pro rakyat,” demikian Twedy

45 Tokoh Nasional Minta DPR Segera Akhiri Kekuasaan SBY-Boediono

45 tokoh nasional berkumpul di Hotel Four Season, Jakarta Senin malam (8/9). Dengan tegas mereka menyatakan sikap jika pemerintahan SBY-Boediono telah melenceng dari tujuan dan cita-cita kemerdekaan.

Diantaranya ke 45 tokoh yang hadir antara lain, Amir Daulay, Ali Yafie, Hariman Siregar, Sukardi Rinakit, Soeryadi Sudirja, Adnan Buyung Nasution, Soegeng Sarjadi, Mulyana W Kusuma dan Tyasno Sudarso.

Ke 45 tokoh tersebut sepakat saat ini sudah terjadi penyimpangan terhadap cita-cita dan semangat proklamasi kemerdekaan. Kehidupan bernegara dan berbangsa, kata mereka telah mengarah ke jurang kehancuran.

Cita-cita proklamasi 1945 dengan tegas menyatakan bahwa tujuan bernegara adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, meningkatkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta dalam pergaulan dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Namun pada kenyataannya, saat ini semakin benar-benar sudah jauh dari yang dicita-citakan para founding fathers.

Secara objektif kondisi bangsa saat ini semakin memburuk bahkan mengarah pada kehancuran. Kerusakan telah terjadi di semua aspek dan lini kehidupan.

Setidaknya ada 7 krisis nasional yang melanda. Yakni krisis kewibawaan kepala pemerintahan, krisis kewibawaan kepala negara, krisis kepercayaan terhadap parpol, krisis kepercayaan kepada parlemen, krisis efektifitas hukum, krisis kedaulatan sumber daya alam, krisis kedaulatan pangan, krisis pendidikan, krisis integrasi nasional.

Dalam hemat ke 45 tokoh, semua itu terjadi karena pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono(SBY) tidak efektif, lemah, dan hanya mengejar pencitraan diri ketimbang kerja nyata. Terjadi disorientasi dari SBY selaku presiden. Rakyat sekarang ini bertahan hidup karena usaha mereka sendiri dan bukan karena peran negara. Negara tidak hadir ketika rakyat membutuhkan.

Terlalu beresiko bagi bangsa jika situasi seperti ini terus berlangsung. Rakyat akan semakin pesimis dan terpuruk. Apabila presiden SBY tidak bisa menghentikan demoralisasi dan anomali kehidupan berbangsa dan bernegara maka keharusan konstitusional bahwa SBY harus diganti pada 2014 otomatis gugur. Bangsa dan negara harus diselamatkan saat ini juga.

Saat ini perubahan merupakan conditio qua non, semakin cepat semakin baik agar ongkos politik, biaya ekonomi, dan resiko sosial-budaya bisa berkurang.

“Kami menegaskan agar DPR mengambil langkah politik untuk segera mengakhiri kekuasaan yang hanya menyandera rakyat. Kepemimpinan SBY sudah terbukti tidak mampu dan secara moral sudah tidak patut untuk menyelenggarakan negara dan kekuasaan pemerintahan,” demikian salah satu poin desakan yang disampaikan ke 45 tokoh nasional

 

Rizal Ramli: Kasih Kesempatan SBY Berlebaran

Tokoh oposisi Rizal Ramli mengaku beberapa pekan terakhir melakukan road show ke beberapa daerah seperti Medan, Palembang, Jawa Timur, Jawa Tengah untuk membahas situasi kebangsaan dengan masyarakat daerah.”Dalam kesempatan itu, saya menyampaikan kondisi kebangsaan kita. Terutama kepada SBY dan Boediono agar rela muindur sebaik-baiknya,” kata mantan Menko Perekonomian itu di forum diskusi Rumah Perubahan 2.0, di komplek Duta Merlin, Jakarta, Selasa (9/8).Kemudian, sambil berkelakar Rizal melontarkan canda khasnya, “Saya akan mengontak Menlu AS Hillary Clinton untuk menyediakan pesawat khusus bagi SBY untuk kabur ke Hawaii sebagaimana Presiden Filipina Ferdinand Marcos dulu.”Mantan Komisaris Utama PT Semen Gresik ini menyatakan, dalam road show berpekan-pekan itu, kelompok pemuda mendapat pencerahan soal aksi kriminal penguasa dalam skandal Bank Century, kasus IT KPU, kriminalisasi Antasari Azhar, dan kasus Nazaruddin. Menurutnya, masyarakat tidak bisa lagi mengharapkan DPR untuk melengserkan SBY-Boediono.”Satu-satunya cara adalah people power. Tetapi kita sepakat memberikan tenggat waktu hingga usai Lebaran. Kasih kesempatan SBY untuk berlebaran dengan tetap mendorong perubahan, perubahan secara damai sehabis Lebaran,” kata Rizal.”Tokoh-tokoh agama sudah saya datangi untuk bergabung, dan mereka menunjukkan itikad baik melihat kondisi bangsa yang dinilai penuh kebohongan,” imbuhnya.Rizal Ramli sudah berkali-kali mengingatkan SBY-Boediono agar tidak melanjutkan gaya kepemimpinan yang pro asing, peragu, doyan pencitraan dan korup. Dalam kasus subsidi BBM, misalnya, dia mengatakan pemerintahan SBY dan Boediono menghadapi dilema yang tak mudah dipecahkan berkaitan dengan pasokan dan kebijakan harga BBM, terutama premium.Dia mengeritik pemerintahan SBY-Boediono yang selalu mengaitkan harga premium, juga harga minyak tanah, yang keduanya dibutuhkan lapisan masyarakat yang paling luas, dengan subsidi. Padahal bila ditelisik dari sudut pandang finansial, dari perbandingan antara biaya produksi dan harga jual kedua komoditas itu pemerintah sudah menangguk untung.Kemampuan pemerintahan SBY menyejahterakan rakyat pun patut dipertanyakan. Apa yang disebut sebagai tanda-tanda pembangunan hanya berada di atas kertas. Sementara fakta di lapangan memperlihatkan, kualitas hidup di Indonesia anjlok luar biasa selama pemerintahan SBY.

Menurutnya, walaupun indikator dan angka pertumbuhan ekonomi memperlihatkan kenaikan, namun perlu diingat, kurang dari 20 persen orang Indonesia yang hidup nyaman. Sementara mayoritas rakyat tetap harus berjuang keras dan mati-matian demi memenuhi kebutuhan hidup standar mereka setiap hari. Bahkan untuk menemukan pekerjaan kasar saja sudah sulit, sementara pendapatan rata-rata menjadi begitu rendah. Daya beli berkurang drastis, harga bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari naik, dan tentu saja itu semua diikuti pertambahan jumlah penduduk miskin.

Hal lain yang dapat dicermati, demikian Rizal Ramli, di bawah pemerintahan SBY publik juga menyaksikan kehadiran kembali model kekuasaan seperti yang ditemukan di zaman Soeharto

Mantan KSAD: Kalau DPR Tidak Bubarkan Pemerintah, Kita Bubarkan DPR

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal (purn) Tyasno Sudarto menyatakan, sudah saatnya bangsa Indonesia melakukan perubahan dan menyelamatkan negara dari kehancuran.

“Dengan kerendahan hati, sudah lama kita ingkar terhadap terhadap UUD, Pancasila, kebenaran, Bhineka Tunggal Ika. Apalagi bagi seorang tentara, ada Saptmarga,” ujar Tyasno dalam pertemuan 45 tokoh nasional di Hotel Four Seasons, Jakarta, malam ini (Senin 8/8).

Menurut Tyasno, para tokoh harus meyakini satu hal, bahwa Indonesia sekarang harus melakukan perubahan baik sistem maupun perubahan rezim. Sebab, kerusakan sekarang bukan hanya pada hukum dan mahalnya kebutuhan pokok rakyat tapi lebih jauh pada hulunya.

“Masa lima tahun presiden bukanlah cek kosong, tapi menadapat mandat dari rakyat. Ini suka diingkari padahal yang mempunyai negara dan bangsa ini adalah rakyat. Kalau mereka tidak bisa amanah maka bukan hal yang tidak mungkin untuk bisa dibubarkan oleh rakyat, termasuk DPR-nya. Kalau dalam waktu yang ditentukan mereka (DPR) tidak melakukan langkah konkrit maka kita juga bubarkan mereka,” terangnya

Dia tegaskan, solusi final dari kondisi kebangsaan ini adalah revolusi.

“Revolusi tidak bisa dijalankan sendirian tapi kita harus lakukan bersama-sama,” tegas Tyasno.

Bang Buyung: Saya Harap SBY Tahu Diri untuk Mundur

Advokat tiga zaman, Adnan Buyung Nasution, adalah salah seorang tokoh nasional yang hadir dalam pertemuan 45 tokoh di Hotel Four Seasons, Jakarta, malam ini (Senin 8/8).

Bang Buyung mengungkapkan bagaimana perjuangan menuju kemerdekaan telah dilakukan dengan susah payah. Tapi, kemerdekaan itu dikhianati oleh pemerintahan saat ini.

“Saya dukung sepenuhnya wacana ini (mengakhiri pemerintahan), pemerintah sudah tidak melihat dan mendengar,” ujarnya diikuti tepuk tangan dan gema takbir.

Bahkan lebih dari itu, menurut Buyung pemerintah SBY-Boediono tidak lagi mempunyai hati nurani.

“Saya sudah capek memperingati SBY ini dari dalam dan luar. Kita tidak bisa membiarkan rakyat seperti ini. Kita setuju harus segera melakukan aksi nyata,” tegasnya.

“Kita juga lakukan seruan kepada DPR untuk mengambil sikap tegas. Kalau tidak rakyat akan bubarkan mereka. Saya harap SBY tahu diri harus mundur,” pinta Buyung

Sebanyak 45 tokoh nasional mendesak DPR untuk segera mengambil langkah politik guna mengakhiri kekuasaan yang menyandera rakyat. Kepemimpinan Soesilo Bambang Yudhoyono terbukti gagal dan tidak patut menyelenggarakan negara dan kekuasaan pemerintah, sehingga semakin menjauh dari cita-cita para pendiri bangsa.Dari 45 tokoh yang hadir dalam pertemuan tersebut, di antaranya KH Ali Yafie, KH Cholil Badawi, Mulyana W Kusuma, Sri Palupi, Anwar Nasution, Jendral TNI (Purn) Tyasno Sudarso, Amir Daulay,  Hariman Siregar, Sukardi Rinakit, Letjen (Purn) Soerjadi Sudirja, Adnan Buyung Nasution, dan Soegeng Sarjadi.”Saat ini kita dilanda tujuh krisis nasional, yaitu, krisis kewibawaan kepala pemerintahan, krisis kewibawaan kepala negara, krisis kepercayaan terhadap parpol, krisis kepercayaan kepada parlemen, krisis efektifitas hukum, krisis kedaulatan sumber daya alam, krisis kedaulatan pangan, krisis pendidikan, krisis integrasi nasional,” seru ke-45 tokoh nasional tersebut.Menurut ke-45 tokoh, hal itu terjadi karena pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak efektif, lemah, dan hanya mengejar pencitraan diri ketimbang kerja nyata.

Sikap politik 45 tokoh nasional yang mendesak DPR untuk segera membubarkan pemerintahan SBY-Boediono telah sampai ke parlemen.Wakil Priyo Budi Santoso mengaku kaget dan terkejut dengan desakan ke-45 tokoh nasional tersebut. Priyo semakin terkejut ketika mendengar bahwa diantara ke-45 tokoh tersebut ada Adnan Buyung Nasution dan Prof. Dr. Alie Yafie yang selama ini dikenal kalem.”Kritik ini harus diperhatikan oleh pemerintah. Dengan kehadiran Pak Alie Yafie dan Bang Buyung berarti ini ada apa-apanya. Kemungkinan, kegusaran mereka sudah berada di ubun-ubun,” kata Priyo Budi Santoso di gedung DPR, Jakarta (Selasa, 9/8)

Priyo mengaku setuju dengan berbagai kritikan tokoh nasional kepada SBY-Boediono.

October 23, 2011 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: