Amanahrakyat's Blog

Just another WordPress.com site

Budaya Malu Dibutuhkan Bangsa ini

Pengantar BudayaMalu

 

Kini yang berkembang adalah budaya tebal muka seperti Budaya Korupsi, budaya tawuran, budaya demo, budaya arogan, budaya fitnah atau memutar balikkan fakta, budaya malas, dan banyak lagi  semuanya dekat dengan pelanggaran hukum dan sangat memprihatikan . Bagai mana kelanjutan Bangsa ini?

Namu sebelumnya kita coba mendefinisikan budaya sbb: arti budaya menurut

Koentjaraningrat, seorang pakar budaya Indonesia menyatakan bahwa budaya adalah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar. Jadi kebudayaan berhubungan sangat erat dengan masyarakat.

Karena budaya adalah sebuah karya, tindakan, gagasan dan hasil pemikiran manusia, maka budaya dapat menjadi karya yang negatif maupun positif. Contoh budaya yang positif dalam masyarakat Indonesia adalah budaya musyawarah, dapat kita lihat sampai pada tatanan struktur terendah dalam pemerintahan yaitu rapat rukun tetangga/rt. Ada budaya gotong- royong (rewangan dalam masyarakat pedesaan Jawa) dan masih banyak budaya positif lainnya yang seharusnya dapat kita kembangkan.


Menurut Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Budaya dapat diturunkan dari satu generasi kepada generasi lainnya dan menjadi ciri khas daripada masyarakat tersebut. Sangat mengerikan jika budaya yang negatif lebih banyak diwariskan kepada generasi yang berikutnya. Meskipun tidak dapat disangkal bahwa berbagai budaya negatif telah “ditularkan” kepada generasi muda saat ini.

Salah satu budaya yang perlu mendapat perhatian lebih yaitu budaya malu, bukan budaya malu-maluin. Budaya malu-maluin sudah terlanjur ada dan banyak dipertontonkan dan kita sudah terbiasa dengan hal itu. Tapi yang kita mau bahas adalah budaya malu, sebuah budaya yang harusnya dipertahankan kalau bisa dikembangkan dalam masyarakat kita yang sebenarnya memiliki dasar budaya bermoral .

Seharusnya kita harus malu menjadi pecundang, yang memutar balikkan fakta demi kepentingan diri dan kelompoknya, malu melihat diri dan anaknya menjadi sorotan media bahdianya melakukan tindakan amoral, malu bertindak arogan hanya mencari populeritas,

malu banyak bicara dengan segala macam janji hanya untuk mencari simpatik. Malu menjadi kaya hasil korupsi dan hasil keringat orang, sedangkan tetangganya yang selamaa ini membela dia dibiarkan makan tak makan, malu menjadi orang sosial bila  disepan media, malu mengagung-agungkan dan memuji-muji orang hanya untuk keuntungan pribadi dan kelompoknya/ penjilat. Malu sebagai generasi muda dan penerus tetapi tawuran dijalanan, dan malu juga sebagai mahasiswa, generasi penerus setiap ada  masalah dikampus selalu berdemo dan akhirnya tawuran dan merusak

saranan perkuliahannya / memberaki periuk sendiri. Dan yangsangat menonjol dalam budaya yang berkembang dalam Republik yang dibangun para Pejoang-pejoang bangsa ini adalah budaya Raja Tega, yakni budaya mampu berpesta didepan rakyat miskin dan menderita karena perbuatan mereka sendiri.

Dan juga Budaya Membenarkan yang salah dengan pembenaran Hukum dengan kata lain peraturan dan Hukum di interoretasuikan sesuai dengan kepentingan diri dan kelompoknya, juga buday mumpung berkuasa akan dipergunakan untuk kepentingan dan keuntungan pribadi dan kelompoknya dengan dalih demi rakyat namun diabaikan kepentingan Rakyat banyak

Dan masih banyak malu-malu lain yang sangat merugikan bangsa ini, yang penting mari kita introsprksi sendiri termasuk katagori malu mana kita !.


Lihat apa yang dilakukan pejabat kita setingkat Jaksa Agung beberapa waktu yang lalu yang mengangkat kembali Kemas Yahya dan M. Salim dengan kedudukan sebagai koordinator dan wakil koordinator Satuan Khusus Supervisi dan Bimbingan Teknis Penuntutan Perkara Tindak Pidana Korupsi. Padahal sebelumnya mereka baru saja dicopot dari jabatan mereka sebagai Jaksa Agung Muda Pidana Khusus dan Direktur Penyidikan berkaitan dengan kasus Artalita. Juru Bicara Kejagung tidak kuatir akan berdampak buruk dengan citra dari institusi penegak hukum ini. Tapi pada akhirnya tanpa merasa malu Jaksa Agung Hendarman mencopot kembali kedua rekannya atas desakan dari berbagai pihak. Seandainya budaya malu menjadi bagian dari budaya kerja di jajaran Gedung Bundar.


Belum habis rasa heran atas tindakan para pejabat kita, rekan-rekan pejabat di DPR tersandung dengan perbuatan mereka dan terjerat dalam kasus korupsi. Masih ingat Al Amin N dan masih banyak lagi sebelumnya dan sesudahnya para pejabat yang terimbas masalah korupsi ? Terbaru adalah kasus yang melanda Abdul Hadi Djamal yang berurusan dengan KPK.

Kita semua heran kenapa mereka tidak malu melakukan hal yang tercela dan menyakiti rakyat itu. Jawabannya mungkin bisa didengar dari apa yang dikatakan

oleh Peniliti The Habibie Center, Andrinof A. Chaniago. Ia mengatakan bahwa ada 2 (dua) penyebab dari maraknya korupsi yang dilakukan oleh oknum anggota DPR, pertama karena konsekuensi dari politik berbiaya tinggi. Penyebab kedua adalah karena terjebak nafsu menaikkan status sosial dengan ukuran materi. Memang akan sangat memalukan jika hanya ingin menjadi lebih kaya salah satu caranya adalah menjadi anggota parlemen negeri ini. Semoga itu hanya masalah oknumnya saja, bukan budaya negatif yang sedang tumbuh subur.

Tidak berhenti di situ, lihat bagaimana para caleg mempromosikan diri melalui baliho dan brosur yang ditebar di berbagai sudut jalan, tembok, pagar rumah orang, tanpa memikirkan kesantunan, estetika dan kepentingan orang lain. Hal tersebut justru menunjukkan sikap arogansi seorang calon pemimpin walau dengan dalih bebas berbuat pada masa kampanye. Bagaimana seandainya terpilih apa tidak menjadi lebih arogan lagi ? Ada yang memasang atribut partai di tiang lampu merah tanpa memperdulikan keselamatan banyak pihak. Ketika berorasi para caleg ini kadang mengumbar janji yang tidak mungkin diwujudkan, sebuah impian kosong bagi negeri mimpi

Budaya malu juga menjadi bagian penting dalam kehidupan bergereja. Ketika budaya malu menjadi bagian kehidupan bergereja maka gereja menjadi panutan dalam banyak hal penting. Ketika orang hanya mengejar kepentingan diri sendiri dan mengabaikan moral dan etika, mereka akan menoleh kepada gereja.

Begitu juga dalam Ulama-ulam menjadilah panutan ummat, jangan menjadi tameng dari para pejabat orang penting yang mencari dan mengamankan kepentingan diri dan kelompoknya tetapi berakibat merugikan ummat sendiri.Kembangkan lah budaya malu karena Islam mengajarkan etika dan moral yang sangat mulia.

Demikian juga pada tokoh-tokoh agama lain seperti Budha, Hindu da kong huchu, kembangkanlah budaya tidak menyogok untuk  menyenangkan pejabat, demi kepentingan diri sendiri atau kelompok.

Seandainya Republik dann Bangsa ini memiliki  budaya malu yang tinggi dengan tuntunan agama masing-masing , maka kesejahteraan masyarakat adil dan makmur yang didambagakan para pendiri Republik ini tidak sebatas impian . MARI KITA KEMBANGKAN BUDAYA MALU !

October 28, 2011 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: