Amanahrakyat's Blog

Just another WordPress.com site

Mahatma Gandhi (1869-1948) dan Konsepnya Tentang Manusia Ideal (2)

e. Asteya
Asteya diartikan sebagai tidak mencuri dan hal ini merupakan dasar bagi penentuan hak milik seseorang. Gandhi menyakatan bahwa mencuri merupakan tindakan yang salah dan buruk karena merugikan orang lain dan merupakan tindakan himsa, padahal manusia seharusnya melindungi semua realitas dan bukannya malah merugikannya.

f. Abhaya
Abhaya diartikan sebagai bebas dari semua rasa takut seperti takut akan mati, rasa lapar, penghinaan, penganiayaan, murka dan yang sejenisnya. Dalam hal ini manusia dituntut untuk memiliki keberanian, berani berkorban, bersabar, berbuat tanpa ketakutan pada semua realitas. Menurut Gandhi, manusia harus bebas dari rasa takut karena hal itu tidak pernah menjadi dasar moral.

3. Kosmologi-Metafisik Gandhi: Alam Sebagai Landasan
Konsep Gandhi tentang alam yang berjiwa material dan immaterial sebenarnya hanya mengikuti konsepnya tentang Tuhan, meski tidak terformulasi secara sistematis pada suatu tempat, hanya pada kesempatan secara kausal. Sebagai ciptaan Tuhan, keberadaan alam merupakan arena manusia mewujudkan dirinya dengan bimbingan moral. Bagi Gandhi, manusia hidup dalam arti yang sebesar-besarnya apabila ia bersatu dengan alam. Alam merupakan mitra yang senantiasa berhadapan dengan manusia. Menurut keyakinan Gandhi, alam merupakan jembatan bagi kehidupan yang abadi, sejauh hal itu di mengerti secara sadar. Oleh karena itu manusia perlu menyeleraskan diri dengan alam. Hal ini juga akan mendekatkan manusia pada peletak hukum alam yakni Tuhan.

Keprihatinan Gandhi terhadap alam diartikan sebagai kebijaksanaan untuk kembali ke alam (back to nature). Keyakinannya pada harmoni antara alam dan tubuh manusia di wujudkannya dalam kegemarannya pada naturopaty. Bagi Gandhi alam juga bukan merupakan manusia sehingga manusia tidak boleh menggunakan kekerasan terhadap alam yang justru akan merugikan manusia sendiri.

4. Teologi-Metafisik Gandhi: Tuhan Sebagai Pencapaian tertinggi
Dalam seluruh filsafatnya, Gandhi memang menjadikan Tuhan sebagai titik sentralnya sedang unsur lainnya menyesuaikan dengan Tuhan dan bersifat inferior. Beriman kepada Tuhan, menurut Gandhi, juga merupakan pangkal tolak semua agama. Dengan menyebut agama, Gandhi menunjuknya bukan secara formal dan adat, melainkan sesuatu yang mendasari semua agama yang akan membawa kita bertemu dengan Tuhan. Agama juga merupakan unsur permanen dalam watak manusia yang tidak memperhitungkan berapapun harganya untuk mengungkapkan sepenuh-penuhnya serta membuat jiwa gelisah sampai dapat menemukan dirinya, mengenal Tuhannya dan menghargai hubungan yang sebenarnya antara Tuhan dan dirinya sendiri.

Gandhi memandang agama dengan menekankan nilai kemanusiaannya. Jadi, Tuhan dihayati Gandhi melalui semangat pengabdian. Semangat ini tidak hanya mengantarkan pada sikap toleransi terhadap pluralitas (kemajemukan) agama tetapi juga pada persaudaraan antara yang teis dan ateis dengan syarat ateis itu berusaha menuju kebenaran. Makanya meski Gandhi menyatakan God is Truth dan Truth is God, Gandhi menekankan yang terakhir dengan alasan bahwa yang ateis mungkin menolak eksistensi Tuhan, tapi mereka tidak mungkin menangkis kekuatan kebenaran.

Penghormatan pada agama lain adalah sama dengan agama sendiri. Oleh karena itu seharusnya tidak mungkin ada gagasan untuk berpindah agama. Manusia yang beragama dalam bersikap dan bertingkah laku harus mencerminkan keagamaannya. Moralitas merupakan hal yang fundamental dalam kehidupan manusia. Agama dan moralitas adalah identik. Eksistensi dan kemajuan individu maupun masyarakat tergantung moralitasnya. Oleh karena itu pembersihan diri secara total, baik jiwa maupun raga sangat di anjurkan Gandhi. Orang harus membuang segala pikiran yang tidak baik dan jiwanya harus diisi dengan pikiran murni yang tinggi. Demikian juga tubuh harus bersih seperti jiwa. Dengan demikian orang akan insaf pada tujuan hidup yang paling murni yakni mengabdi pada Tuhan.

E. Gandhi dan Konsep Manusia Ideal
1. Manusia Ideal Yang Bersifat Antropokosmoteosentris
Secara garis besar, konsep manusia ideal menurut Gandhi bersifat antropokosmoteosentris. Manusia seperti ini adalah manusia dengan pengendalian diri yang baik, kedewasaan sosial dan mencintai alam serta penghayatan terhadap keberadaan Tuhan melalui agama yang dianutnya dalam kehidupannya yang dijalani secara damai dan tanpa kekerasan. Dengan konsep manusia ideal seperti ini, Gandhi mencoba menciptakan sebuah lingkup kemanusiaan universal di mana tiap-tiap kelompok, baik kaum penguasa maupun kaum tertindas, saling mengakui sebagai manusia yang sama derajat dan harkatnya sebagai manusia, bahkan menghidupkan kembali potensi kebaikan orang lain dalam kehidupan manusia

2. Manusia Dengan Kesadaran dan Pengendalian Diri
Dalam agama Hindu dikenal asumsi dasar bahwa manusia terdiri dari 4 lapisan yakni; lapisan tubuh jasmani, alam pikiran, pengalaman yang disadarinya dan sadar pribadi dimasa lampau. Agama Hindu juga mengajarkan bahwa jika manusia dapat memanfaatkan sedikit saja atman dalam tubuhnya, maka ia akan mengalami pemekaran kemampuan yang luar biasa.

Berdasarkan asumsi di atas, Gandhi sampai pada kesimpulan bahwa manusia harus berusaha mengungkap bagian yang hilang atau terpendam dalam tubuh manusia dengan mencapai kesadaran. Dalam hal ini Gandhi menambahkan bahwa mokhsa merupakan puncak dari kesadaran manusia karena ia berada dalam keadaan di mana badan, pikiran dan jiwanya selamat dari kelahiran kembali atau kematian. Kesadaran adalah menjadi ingat kepada jati diri manusia yang sesungguhnya sehingga mampu mengendalikan dirinya. Ketidakmampuan mengambil jarak dengan sesuatu yang berada di luar dirinya dan juga nafsu-nafsunya merupakan hambatan untuk menyadari atman dan hal ini akan mengakibatkan sesuatu terlahir kembali dan ini mungkin akan menjatuhkannya pada tingkat yang berada di bawahnya.

Menurut Gandhi, manusia perlu mengendalikan diri karena peradaban dalam makna kata yang sebenarnya bukanlah sesuatu yang menghendaki dilipatgandakannya kebutuhan, melainkan menghendaki pembatasan segala kebutuhan dengan sengaja dan sukarela. Hanya dengan cara demikian akan dapat diperoleh kebahagiaan dan kepuasan sejati yang akan meningkatkan kemampuan manusia dalam mengabdi kepada Tuhan. Hal ini bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh manusia modern yang menggunakan tolak ukur tingkat kesejahteraan manusia dengan mengukurnya berdasarkan tingkat besarnya konsumsi. Manusia modern justru berasumsi bahwa semakin tinggi tingkat konsumsi kebutuhan hidup, manusia berarti lebih kaya dan sejahtera.

Memang, Gandhi sendiri menegaskan bahwa manusia memerlukan keserasian dan kenyamanan fisik pada tingkat tertentu, namun jika melebihi tingkat itu ia akan menjadi hambatan bagi manusia. Oleh karena itu, cita-cita manusia menciptakan dan memenuhi kebutuhan hidup yang tidak terbatas, hanya merupakan khayalan dan jerat belaka. Pemuasan kebutuhan fisik dan intelektual manusia pada titik tertentu harus dihentikan sepenuhnya sebelum ia berubah menjadi nafsu keserakahan fisik dan intelektual. Manusia perlu mengatur keadaan fisik dan budayanya agar tidak menjadi hambatan dan ini seharusnya menjadi tujuan bagi pemusatan seluruh tenaga manusia.

3. Manusia Dengan Kedewasaan sosial dan mencintai alam
Selain sebagai makhluk individu dan makhluk Tuhan, manusia juga adalah makhluk sosial karena ia hanya dapat hidup dengan komunikasi bersama sesamanya. Sesama dalam filsafat Gandhi bermakna religius, dimana keterpautan sesorang dengan yang lainnya bersifat religius dan merupakan tanggung jawab yang bersifat religius pula. Sesama juga berarti dari asal mula yang sama, nasib keterlemparan yang sama dan memiliki Tuhan yang sama. Semua manusia menurut Gandhi merupakan ciptaan Tuhan yang sama sehingga semua manusia bersaudara.

Dengan asumsi seperti di atas, manusia menurut Gandhi harus memiliki tingkat kedewasaan sosial yang tinggi. Tidak ada satu kebajikan tunggalpun yang akan mengarah atau akan merasa puas dengan kesejahteraan seseorang saja. Sebaliknya tidak ada kejahatan yang secara langsung maupun tidak, pasti akan mempengaruhi orang lain. Yang dimaksud kedewasaan sosial oleh Gandhi adalah kesadaran bahwa seluruh umat manusia merupakan kesatuan manunggal, sebagai ciptaan Tuhan yang satu. Tentu saja terdapat perbedaan suku, bangsa dan harkat serta martabat namun demikian saling menghormati merupakan kewajiban seluruh umat manusia.

Manusia juga harus mencintai alam, tempat dimana ia hidup. Sekalipun dalam alam cukup terdapat daya tolak, tetapi alam itu hidup berkat daya tarik. Alam dapat menjadi lestari berkat adanya rasa sayang timbal balik. Manusia hidup bukan karena penghancuran. Rasa cita diri mendorongnya untuk mementingkan orang lain pula. Masyarakat dapat hidup rukun karena adanya rasa saling mengindahkan dikalangan warganya. Pada suatu saat, hukum masyarakat harus diperluas manusia agar mencakup seluruh alam semesta.

Gandhi menegaskan bahwa menurut keyakinannya krisis manusia modern sekarang diakibatkan oleh keranjingan produksi massal atau produksi secara besar-besaran. Alat-alat mesin mungkin dapat menyediakan seluruh barang keperluan manusia, namun produksi semacam itu jelas dipusatkan pada bidang tertentu. Sebaliknya, bila produksi dan penyalurannya dilaksanakan di daerah yang membutuhkan barang itu, segala sesuatu akan diatur itu sendiri, sehingga tidak ada peluang untuk kecurangan, dan sama sekali tertutup kemungkinan berspekulasi. Ketika disangka sebagai anti mesin, Gandhi menyangkalnya dan mengatkan bahwa ia menghindarkan pesona mesin yang merusak. Gandhi lebih menyukai alat-alat sederhana yang menyelamatkan kerja secara individual dan meringankan berjuta-juta desa serta bersifat padat karya.

4. Manusia Dengan Toleransi Beragama Dan Kesadaran Mengabdi Pada Tuhan
Menurut Gandhi, agama memang seharusnya meliputi setiap perbuatan manusia. Dalam filsafat Hindu saja dikatakan bahwa semua agama mengandung unsur kebenaran di dalamnya dan karenanya mengambil sikap hormat dan takzim terhadap sesama manusia. Tentu saja manusia harus hormat dan yakin pada agamanya sendiri dahulu. Dan mempelajari agama lain tidak perlu menyebabkan kurangnya kepercayaan pada agama sendiri. Seharusnya ini merupakan perluasan sikap hormat manusia atau toleransi kepada agama yang lainnya.

Selain itu, Gandhi melukiskan bahwa kehidupannya merupakan usaha keras untuk melihat Tuhan melalui pelayanan kepada sesama manusia. Hal ini karena Tuhan berada dalam diri setiap manusia maka pengabdian agama yang dianutnya diwujudkan sebagai pengabdian pada sesama manusia. Dalam hal ini cinta pada diri sendiri, cinta pada sesama dan cinta pada Tuhan berada pada satu perspektif.

Setiap manusia, menurut Gandhi, juga benar dalam agamanya bila dilihat dari sudut pandangnya, tetapi tidak mungkin bahwa setiap manusia keliru. Di sinilah letak perlu adanya toleransi kehidupan beragama, yang tidak lalu berarti acuh tak acuh terhadap keyakinan diri sendiri, tetapi anggaplah ini sebagai sikap lebih cerdas serta mencintai agama dengan lebih murni. Toleransi memberi manusia wawasan rohani, sesuatu yang berbeda sama sekali dengan fanatisme. Pengetahuan mendalam tentang agama akan menghilangkan hambatan antara keyakinan yang satu dengan yang lainnya. Keyakinan manusia terhadap Tuhannya seharusnya menjadi pusat sentrifugal dari seluruh aktivitas manusia, yang bermula dari keyakinan pada ke-esaan Tuhan, toleransi beragama dan menebarkan jaring pada kesatuan eksistensi manusia.

F. Manusia Antropokosmoteosentris Mengatasi Zaman Modern
Konsep manusia ideal yang bersifat antropokosmoteosentris dimaksudkan Gandhi sebagai salah satu upaya mencari kebenaran. Asumsinya, kehidupan manusia adalah proses untuk mencoba dan belajar dari kesalahan dengan mawas diri dan disiplin yang kuat, manusia bergerak maju selangkah demi selangkah menuju pada sifat antropokosmoteosentris. Manusia antropokosmoteosentris diyakini akan mampu mengantisipasi peradaban manusia yang senantiasa menuntut perubahan nilai-nilai sosial dan budaya. Terlebih bila dikaitkan dengan melaju kencangnya transformasi iptek. Manusia pada permulaan kehadirannya di bumi, tingkah lakunya tidak jauh berbeda dengan hewan yakni saling memangsa dan hingga kini kita masih bisa melihat kebuasan-kebuasan manusia. Dengan kemajuan ipteknya, dunia modern telah melahirkan manusia-manusia seperti kelompok nazi jerman, militer-fasis jepang, komunis cina, eropa timur dan soviet dan berbagai kekuasaan totaliter dibelahan benua lainnya yang telah menistai kemanusiaan mereka dengan kekejaman yang tidak berperi kemanusiaan.

Apabila diamati secara seksama, dewasa ini beberapa kawasan dibelahan dunia, dalam persoalan yang menyangkut hubungan antar individu dan masyarakat secara mikro, dan hubungan antar bangsa secara makro, selalu saja diwarnai dengan kekerasan, meski masing-masing bertumpu pada satu dalih untuk menjustifikasi tindakan kekerasan tersebut. Di samping itu, pencegahan persaingan senjata nuklir juga harus segera dilakukan jika manusia modern tidak ingin melihat dunianya porak-poranda. Untuk menghindari hal demikian, satu-satunya jalan yakni masing-masing pihak harus meredam hawa nafsu kekerasannya.

Manusia antropokosmoteosentris dengan kedewasaan sosial dan mencintai alamnya menyadari bahwa kepentingan menyelamatkan umat manusia dari kerusakan fisik bumi dan atmosfer akan lebih mendorong manusia untuk melakukan transformasi sosial dan budaya ke arah kemanusiaan yang semakin tinggi. Semakin jauh ke depan, akan semakin terasa keperluan untuk mengurangi kadar pemakaian kekuasaan dan kekerasan, dalam segala rupa untuk menyelesaikan beragam problem manusia di zaman modern ini. Dengan demikian, akan semakin besar pula kesadaran dan pengendalian diri kemanusiawian umat manusia.

G. Manusia Antropokosmoteosentris Yang Terkesan Utopis
Pada dasarnya, Gandhi adalah seorang yang beragama, tetapi rumusan mengenai agama yang disetujuinya dalam konsep manusia antropokosmoteosentris tidak lain adalah rumusannya sendiri. Dalam hal ini ia berpendapat bahwa kebutuhan rohani setiap manusia bersifat unik dan setiap orang mempunyai hak untuk mengatur hidupnya sendiri sesusuai dengan pandangan hidupnya, asalkan ia menjamin hak yang sama kepada orang lain. Oleh karena itu dalam praktek pencarian konsep manusia ideal yang bersifat antropokosmoteosentris ini, manusia tidak boleh memaksakan pandangannya mengenai kebenaran kepada sesamanya, apalagi dengan cara kekerasan.

Dari anggapan dasar bahwa manusia pada hakikatnya baik, dapat ditarik kesimpulan jika Gandhi ingin menunjukkan bahwa sesungguhnya manusia kehadirannya tidak merupakan ancaman terhadap eksistensi manusia yang lain. Oleh karena itu, manusia antropokosmoteosentris harus selalu menekankan aspek hubungan yang harmonis antara sesama manusia dan dengan alamnya.

Yang paling menarik dari konsep manusia seperti di atas adalah keluasan, keterpaduan dan kesatuannya. Inilah ajaran dan warisan bahwa kejahatan dari manusia tidak dapat dibinasakan. Kejahatan dari manusia adalah kejahatan bersama dan harus dipecahkan bersama-sama pula. Tetapi manusia terkadang tidak siap untuk tugas bersama karena ia tidak menyadari dirinya dan tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri. Kalau sudah begitu, tugas manusia adalah kembali kepada hati nuraninya sendiri agar kehidupan dunia menjadi damai.

Sayangnya, dalam konsep manusia ini Gandhi tidak mengidentifikasi lingkungan pribadi manusia dengan lingkungan suci. Gandhi juga tidak menjauhkan diri dari kegiatan masyarakat sekular. Ini menjadi kontradiktif karena pada kesempatan lain Gandhi terkadang memandang bahwa struktru sosial dan budaya manusia pada dasarnya adalah sekular, dalam arti bahwa praanggapan-pra-anggapannya yang paling mendasar adalah tidak religius, akan tetapi ia seringkali menggunakan klise religius sebagai dukungan.

Dalam konsep manusia ideal menurut Gandhi ini, konsep ahimsa juga paling sedikit dipahami karena konsep ini mengandung penolakan secara implisit terhadap gagasan dasar masyarakat industri yang makmur. Konsep satyagraha yang dianjurkan juga menjadi tidak berarti jika tidak didasarkan pada kesadaran akan keberadaan pertentangan-pertentangan intern dalam kelompok manusia yang berlandaskan kekuatan. Padahal, sesungguhnya satyagraha ini harus memulai dengan menempatkan diri menghadapi pengaduan-pengaduan ini agar dapat dikaji kesungguhan manusia tentang kesetiaannya terhadap kebenaran.

Hannah Arrendt pernah menegaskan bahwa dalam konsep manusia antropokosmoteosentris ini, Gandhi menggunakan logika yang agak sedikit berbeda. Arendt mengakui bahwa dosa manusia adalah kejadian sehari-hari yang sesuai dengan sifat yang sangat alamiah dari pembentukan secara konstan tindakan hubungan-hubungan baru dalam suatu jaringan hubungan-hubungan. Selain itu, manusia memang membutuhkan pengampunan, pelepasan, untuk memungkinkan kelanjutan hidupnya yang dilakukan secara konstan dan untuk membebaskan manusia dari hal-hal yang mereka perbuat tanpa mereka sadari. Dari penjelasan ini, kita bisa melihat bahwa ada hubungan yang tidak seimbang antara konsep manusia ideal yang bersifat antropokosmoteosentris dan kenyataan riil yang ada pada manusia dimasyarakat, dan untuk itulah Gandhi hidup dan meninggal dunia. Perubahan antara kenyataan riil manusia terhadap manusia antropokosmoteosentris tidak akan merupakan perubahan yang sungguh-sungguh terjadi.

Akhirnya seperti yang dibilang Gandhi, bahwa manusia berakhir menjadi seperti apa yang dipikirkannya, maka demikian juga dengan India, asalkan tetap memegang teguh kebenaran dengan menggunakan 6 kebajikan tertingginya. Akan tetapi disisi lain Gandhi sendiri mengakui bahwa secara politis pertempurannya sesungguhnya sudah kalah. Tanpa berpuas diri, kasihan pada diri sendiri, ia hadapi kebenaran bahwa hanya tinggal satu saja. Gandhi harus menyerahkan jiwanya bagi India, nyatanya ia dibunuh oleh seorang saudara-nya yang justru gagal diyakinkannya.
Dari paparan di atas, apakah konsep manusia ideal yang bersifat antropokosmoteosentris ini akan dapat direalisasikan ataukah akan sia-sia saja, Gandhi sendiri tidak pernah putus keyakinannya, hingga meninggalkan kesan pada sesamanya maupun musuhnya serta membangkitkan padanya suatu tanggapan cinta-kasih serta kebenaran yang ingin dicapai manusia. Sikap ini tidak dapat dimengerti dalam konteks pragmatisme sebab yang menjadi pokok masalah adalah kesetiaan manusia pada kebenaran, bukan dampak nyata pada sesamanya.

Sebagai penutup, konsep manusia ideal yang bersifat antropokosmoteosentris memang harus dilihat apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bukan sekedar idealisme yang sering dianggap utopis dan asketis, tetapi harus dipandang sebagai ajaran yang esensial, yang niscaya diperlukan jika manusia ingin memulihkan kembali hati nuraninya dalam menghadapi perubahan peradabannya yang sarat dengan problema. Habis.-

September 13, 2015 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: