Amanahrakyat's Blog

Just another WordPress.com site

Mahatma Gandhi (1869-1948) dan Konsepnya Tentang Manusia Ideal


This article aims at exploring Gandhi’s thought on the concept of perfect man and interpreting its historical dynamic in order to seek the relevance of such concept to overcome contemporary human problems. The concept of perfect many, for Gandhi, is characteristically antropocosmotheocentric, meaning that man who have good self awareness and self control, social maturity and care of their nature, and believe in God through religion as well as service for the others. Also they have a principle to live in peace and without any kinds of violence. By realizing these, man is expected to be able to anticipate the unended change of their civilization of life. The basic weakness of this concept is the imbalance relationship between such concept of perfect man and the man in real life. It means such perfect man is a kind of utopia to realize.

Key words: Perfect man, Gandhi

A. Manusia Modern Yang Mengalami Krisis
Secara umum diyakini bahwa manusia adalah makhluk individu, makhluk sosial dan makhluk Tuhan. Dalam posisi seperti ini, manusia akan selalu berada dalam jaringan struktur dan institusi yang diciptakannya untuk menunjang kehidupannya. Inilah yang kemudian melahirkan peradaban manusia.

Sekarang, manusia telah berada pada fase yang disebut peradaban modern. Fase ini ditandai dengan kemajuan rasionalitas manusia secara pesat. Akibatnya, ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) menjadi dimensi yang meliputi dan menjangkau seluruh kehidupan manusia. Manusia dapat memperpanjang tangannya, memperkuat ototnya, menyambung indera dan otaknya, dengan bantuan iptek. Bahkan, dengan iptek manusia mampu mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan terhadap adanya kehidupan lain bagi manusia di luar kehidupan planet bumi. Pendek kata, seperti dinyatakan Erich Fromm, manusia telah mencapai era sejarah baru, dimana perubahan yang cepat merupakan suatu konsekuensi yang dominan. Manusia berhadapan dengan perubahan yang fundamental karena ia terlibat dalam proses evolusioner, sehingga merupakan kewajiban bagi manusia juga untuk mengarahkan proses ini ke arah pemahaman diri dan bukan penghancurannya.

Memang benar, usaha pemahaman diri manusia sangat diperlukan dan bersifat ad-infinitum (terus-menerus, tiada henti). Hal ini karena kemajuan yang dicapai manusia dalam peradaban modern ternyata membawa keresahan dan kegelisahan. Van derWeij menyatakan bahwa zaman modern ini, selain ditandai oleh pesatnya kemajuan dibidang iptek, juga ditandai adanya keterancaman, keterasingan, kejenuhan dan tanpa arti, perang yang disertai badai kekerasan, kebencian dan ketidakmanusiawian serta terorisme. Namun, yang lebih luas dari semua itu adalah bukannya kekerasan fisik, melainkan pembusukkan kepribadian dan hati nurani manusia. Hal ini karena manusia telah memperoleh kemajuan pesat dibidang iptek, tetapi sering menggunakannya untuk maksud-maksud yang destruktif. Manusia memang telah memperluas jangkauan dan kuantitas pengetahuannya, tetapi belum dapat mendekati ideal individualitas dan realitas diri (self realization). Manusia telah menemukan cara-cara untuk memperoleh keamanan, kenyamanan dan kenikmatan hidup, tetapi pada saat yang sama mereka merasa tidak aman, tidak nyaman, dan tidak nikmat serta merasa risau dan gelisah karena mereka tidak yakin akan arti esensial kehidupan dan tidak tahu arah eksistensial yang mereka pilih dalam kehidupannya.

Balabanian mencatat beberapa krisis manusia dan kemanusiaan yang terjadi di era modern ini yakni: (1) Krisis spiritual, dengan semakinnya memudarnya peranan agama dalam kehidupan manusia, (2)Kritis lingkungan, dengan adanya polusi dan eksploitasi secara besar-besaran terhadap sumber daya alam, (3) Krisis emosional psikologis, dengan digantikannya nilai-nilai kemanusiaan menjadi nilai-nilai mesin (mekanik). Semua krisis tersebut sebenarnya disebabkan oleh manusia sendiri. Manusia menjadi dibelenggu oleh alat-alat teknik yang dibuatnya dan hidup secara mekanis mengikuti buatannya itu. Akibatnya, seperti dinyatakan oleh Jacques Ellul, muncul situasi sebagai bentuk ketegangan yang di alami oleh manusia modern akibat penyerapan-penyerepan mekanisme secara berlebihan. Rasionalitas melalui iptek akhirnya menjadi faktor mutlak yang menentukan perkembangan kehidupan manusia. Semua krisis yang sebabkan oleh manusia sendiri tadi, selain mengancam kehidupan manusia sekarang, juga mengancam kelangsungan hidup manusia yang akan datang.

Untuk menyelesaikan problem manusia modern seperti di atas, salah satu tokoh abad XX yakni Mahatma Gandhi (1869-1948) dari India telah menawarkan konsepnya tentang manusia ideal. Mengenai apa dan bagaimana konsep manusia ideal menurut Gandhi, hal-hal itulah yang akan dieksplorasi secara lebih jauh dan lebih mendalam dalam tulisan dibawah ini.

B. Riwayat Gandhi, Riwayat Sang Mahatma
Mahatma Gandhi sebenarnya memiliki nama lengkap Mohandas Karamchand Gandhi. Ia lahir pada 2 Oktober 1869 di Porbandar, daerah Kathiawad, Gujarat, dari kasta Mohd. Bania yang merupakan sub-kasta Vaisya dalam agama Hindu. Ayah Gandhi bernama Karamchand Gandhi, atau yang lebih dikenal dengan Kaba Gandhi adalah seorang diwan (menteri utama) di Porbandar yang bertugas menarik pajak rakyat. Ibu Gandhi bernama Putlibai, seorang wanita yang mengesankan Gandhi karena kesalehannya dan ia dalam pandangan Gandhi merupakan istri dan ibu yang setia bagi suami dan anak-anaknya.

Dari orang tua seperti diataslah Gandhi dilahirkan dan kemudian dibesarkan serta memperoleh pendidikan. Semasa pendidikan dasarnya, Gandhi kecil termasuk anak yang mengalami kesulitan belajar terutama dalam berhitung dan perkalian. Meski demikian, ia merupakan anak yang tekun. Ia juga sering mendengarkan diskusi-diskusi ayahnya dengan para pemuka agama lain seperti Jainisme, Islam dan Kristen yang datang kerumahnya untuk berdiskusi tentang agama-agama. Sementara, semasa pendidikan menengahnya, Gandhi remaja masih malu-malu sampai ia mengakui bahwa ia tidak punya banyak teman kecuali buku-buku pelajarannya.

Pada masa ini, ketika berusia 13 tahun, dengan tanpa persetujuannya Gandhi dinikahkan dengan gadis sebayanya yang bernama Kasturbai. Sebagai pasangan muda, kehidupan pernikahan Gandhi dengan Kasturbai tidaklah begitu stabil, terutama yang menyangkut seks. Suatu peristiwa yang selanjutnya mengubah cara hidup Gandhi adalah peristiwa yang terjadi menjelang ayahnya meninggal dunia. Waktu itu Gandhi sedang menunggui ayahnya yang terbaring lemah karena sakit, tetapi kemudian muncul keinginannya untuk berdekatan (berhubungan seks) dengan istrinya. Gandhi lalu meminta pamannya untuk menggantikannya menunggui sang ayah. Namun, ketika Gandhi sedang dikamar istrinya, ia diberitahu pelayannya bahwa ayahnya telah meninggal dunia. Seketika itu ia menyesali kecerobohannya (yang kurang bisa mengontrol hasrat seksualnya) dan dikemudian hari membuatnya mengucapkan kaul pengekangan diri (Tapas).

Gandhi menyelesaikan pendidikan menengahnya tahun1887 dan lulus ujian matrikulasi di Universitas Bombay serta berhasil masuk di Samaldas College di Bhavnagar. Karena merasa kurang puas, Gandhi mencari informasi agar bisa belajar di Inggris sesuai cita-citanya waktu kecil. Akan tetapi, muncul larangan keras terutama dari ibunya yang khawatir dengan kehidupan dan budaya masyarakat Inggris, sehingga kemudian Gandhi bersumpah tidak akan menyentuh wanita, tidak minum anggur dan tidak makan daging jika diterima belajar di Inggris. Pada tahun 1888, Gandhi akhirnya tiba di Inggris untuk belajar ilmu hukum, meski perhatiannya tidak hanya pada ilmu hukum saja. Di Inggris, Gandhi juga sudah mulai terbiasa membaca Alkitab terutama Perjanjian Baru dan juga membaca Bhagavadgita terjemahan Sir. Edwin Arnold.

Setelah 3 tahun di Inggris, Gandhi lulus ujian ilmu hukum dan diakui sebagai pengacara berijasah. Gandhi kembali ke India pada bulan Juni 1891 dan bekerja sebagai pengacara sambil nyambi bekerja paruh waktu sebagai guru di Bombay High School. Akan tetapi, Gandhi selanjutnya memilih meninggalkan pekerjaanya di India karena mendapat tawaran dari sebuah perusahaan India di Natal, Afrika Selatan untuk membela orang-orang India di sana yang mengalami penderitaan akibat adanya rasialisme dan gaji kerja yang tidak memadai. Gandhi akhirnya pergi ke Afrika Selatan dan dalam usaha mengembalikan hak-hak asasi orang India di Natal ini ia mendirikan Ashram di Phoenix .

Keberadaan dan aktivitas Gandhi dan yang lain di Ashram dianggap membahayakan oleh pemerintah setempat sehingga pada 1907 Gandhi ditahan serta diadili dengan tuduhan sebagai agitator (pemimpin gerombolan). Penahanan itu memang tidak berlangsung lama karena Gandhi tidak terbukti bersalah dan kemudian ia dibebaskan. Melajutkan aktivitasnya, pada 1912 Gandhi memobilisasi aksi protes massal kaum buruh secara besar-besaran, karena janji pemerintah untuk menghapus pajak 3 pounds setahun atas pekerjaan yang diadakan di luar kontrol resmi tidak ditepati. Kemudian pada tahun 1913 Gandhi juga memimpin demonstrasi untuk hal yang sama. Bedanya, dalam demonstrasi ini juga diadakan pelanggaran lintas batas dan ziarah menyeberangi batas-batas ke Transvaal di mana ribuan buruh tambang yang mogok kerja ikut menggabungkan diri.

Karena merasa panggilan hidupnya tidak hanya di Afrika Selatan saja, pada 1915 Gandhi kembali ke India. Pada awalnya Gandhi tidak banyak berkecimpung dalam aktivitas politik tetapi mengadakan perjalanan keliling India untuk mencari fakta-fakta tentang kondisi sosial, ekonomi dan agama rakyat India. Menyikapi buruknya kondisi rakyat India pada saat itu, pada tahun 1916 Gandhi memutuskan untuk terjun ke dunia politik dimulai dengan berpidato didepan mahasiswa Universitas Hindu di Benares. Di sini Gandhi mengemukakan pentingnya kebanggaan terhadap produk lokal India dan juga menyesalkan sistim Kasta yang telah menimbulkan kesenjangan sosial, ekonomi dan agama secara meluas. Pada 1917 Gandhi menyelenggarakan kampanye anti kekerasan (ahimsa) di Bihar (India utara) untuk membela kaum petani yang diperlakukan tidak adil dalam sistim perkebunan Indigo. Selanjutnya pada 1918 Gandhi dan pengikutnya melakukan mogok umum tanpa kekerasan di Ahmedabad untuk menuntut upah pekerja tekstil secara adil.

Gandhi mulai menggebrak pentas politik India dengan mengemukakan kelemahan Undang-Undang Rowlatt yang berisi aturan-aturan untuk menjaga keamanan tanpa mengindahkan hak-hak rakyat India. Gandhi menentang lahirnya UU ini dengan menjalankan gerakan berpegang teguh pada kebenaran (satyagraha) dan salah satu cara yang ditempuhnya adalah dengan gerakan tidak mau bekerja sama (non-cooperatioon movement). Rentang 1920 sampai 1922, Gandhi terpilih sebagai pemimpin Partai Konggres Nasional India. Pada periode ini Gandhi juga sempat memimpin kampanye massal melawan pembayaran pajak yang tidak adil. Karena kegiatan-kegiatannya itu, Gandhi dijebloskan ke penjara selama 2 tahun tetapi karena alasan kesehatan ia kemudian dibebaskan. Saat ia keluar dari penjara, iklim politik di India telah berubah dengan mulai berkobarnya perselisihan antara kaum Hindu dan Muslim.

Selama periode-periode selanjutnya, Gandhi sangat berjasa dalam mengubah ketimpangan sosial yang ada di India antara lain penghapusan gerakan untouchable yang merugikan kasta Paria, toleransi beragama bagi kaum Hindu dan Muslim, serta usaha swadeshi sebagai penolakan terhadap dominasi asing. Gandhi juga berjasa dalam penyelesaian pergolakan buruh dan majikan, penghapusan sistim perbudakan dan penghapusan pembunuhan lembu atas nama agama. Demikianlah, tahap demi tahap Gandhi memimpin India menuju kemerdekaannya yang sempat ia saksikan pada tahun 1947.

Pada 3 Juni 1947 berdasarkan kesepakatan Mounbatten Plan antara pemimpin Konggres Islam dan Inggris tercapai pembentukan negara India dan Pakistan pada Agustus 1947. Menanggapi pembentukan negara tanpa adanya persatuan seluruh India, Gandhi berusaha mendekati tokoh agama Hindu dan Islam untuk meredakan ketegangan antara keduanya. Akibatnya, seorang penganut Hindu fanatik, Nathuram Godse, yang khawatir nantinya akan ada dominasi Islam, melakukan penembakan terhadap Gandhi saat sesudah pertemuan doa pada 30 Januari 1948. Setengah jam kemudian Gandhi menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan mengucapkan He Rama (Ya Tuhan).

Demikian riwayat hidup Gandhi. Atas seluruh jasanya, Rabindranath Tagore, seorang sastrawan besar India, menyebut Gandhi sebagai Mahatma atau orang yang berjiwa besar (the great soul). Inilah yang kemudian membuat orang mengenalnya sebagai Mahatma Gandhi.

C. Gandhi : Seorang Aktivis Yang Produktif Menulis
Fischer menyatakan bahwa Mahatma Gandhi adalah juru bicara umat manusia. Ungkapan ini didasarkan pada aktivitas-aktivitas dan karya-karya Gandhi selama hidupnya. Gandhi meninggalkan tulisan yang cukup banyak dan kebanyakan dapat kita lihat corak humanismenya. Karya-karya tersebut antara lain: A Guide to Health (1932), Hind Swaraj (1938), Autobiograhpy: The Story of My Experiments with The Truth (1940), Non Violence in Peace and War (Vol. 1/1945 dan 2/1949), Towards Non Violence Socialism (1951), Sarvodaya (1951), Basic Education (1951), Bapu’s Letter to Mira, 1924-1948 (1949), Christian Missions (1941), Communal Unity (1949), Delhi Diary (1948), Diet and Diet Reform (1949), Economics of Khadi (1941), For Pacifists (1949), From Yerafde Mandir (1937), Harijan (1948), The History of Satyagraha (1951), Jail Experiences (1922), My Souls Agony (1932), Rebuilding Our Villages (1952), Self Restraint Versus Self Indulgence (1947), Songs From Prison (1934), Speeches and Writing (1933), Swadeshi, True and False (1939), Towards New Education (1951), To a Gandhian Capitalist (1951), To the Students (1949), Unto This Last (1951), Woman and Social Unjustice (1942) dan Young India (1932). Selain karya-karya ini, masih banyak lagi kumpulan-kumpulan tulisan Gandhi yang tersebar di berbagai surat kabar.

D. Gandhi dan Filsafat Metafisikanya
1.Filsafat Gandhi: Tuhan, Manusia dan Alam Sebagai Tri-Tunggal
Secara umum filsafat Gandhi bersumber pada tradisi pemikiran India dan agama Hindu. Dalam hal ini, filsafat Gandhi menunjuk Tuhan sebagai ide utama dan unsur lainnya bersifat inferior. Tuhan yang dimengerti Gandhi bukanlah Tuhan sebagai personal karena kata itu menurut Gandhi menunjuk pada orang sebagai wujud konkrit. Meski impersonal, namun Tuhan yang memuaskan kebutuhan intelektual juga bukan Tuhan yang sesungguhnya. Tuhan sesungguhnya adalah yang memerintah hati dan mengubahnya ke arah kebaikan. Menurut Gandhi Tuhan itu serentak sebagai kebenaran, pengetahuan dan cita-cita/tujuan (sat-cit-ananda).

Harus diingat juga bahwa Gandhi tidak berpretensi untuk menunjukan eksistensi Tuhan. Baginya, kehadiran Tuhan dapat dirasakan dan dilihat dari realitas dihadapan manusia, misalnya realitas alam yang teratur. Keteraturan alam bukanlah suatu hukum keteraturan yang buta sebab ia mempunyai arah. Hukum semacam ini oleh Gandhi dipahami sebagai Tuhan.

Selanjutnya, jalan menemukan Tuhan bagi Gandhi, adalah dengan melihat ciptaan-ciptaan-Nya. Bahkan Gandhi menyebut dirinya sedang berusaha keras melihat Tuhan melalui pelayanan kepada sesama manusia. Pendeknya, realitas manusia tidak semata-mata ordo alam tetapi juga ordo moral. Gandhi mengakui apa yang benar, yang berguna, dan yang menguntungkan bagi manusia itu tidak ada perbedaannya. Bagi Gandhi Tuhan itu tidak di surga ataupun neraka tetapi berada pada setiap orang dan inilah kebenaran. Pemikiran ini memuat gagasan bahwa meskipun manusia tidak mengakui adanya Tuhan, tetapi ia harus mengakui kebenaran. Menolak kebenaran berarti menolak realitas dan eksistensi manusia itu sendiri.

Kebenaran, dalam pemikiran Gandhi mencakup tida unsur yakni kebenaran pikiran, perkataan dan perbuatan. Sebagai norma tingkah laku, kebenaran merupakan cermin bagi manusia untuk berkomunikasi dan mempertimbangkan apa yang akan ia ikuti dan ia hindari. Adapun untuk mencapai kebenaran ini manusia harus bersatu dan berdamai dengan alam ciptaan Tuhan dengan cara Ahimsa. Ahimsa berarti bahwa manusia harus menghindari segala bentuk kekerasan dalam kehidupannya. Ahimsa juga merupakan kodrat manusia yang membedakannya dengan binatang. Manusia yang merupakan kesatuan jiwa dan raga harus membuat ahimsa sebagai suatu sikap hidup dan keyakinan yang harus dikembangkan sehingga ia benar-benar berpegang kepada kebenaran yang sesungguhnya (satyagraha).

Dari uraian di atas, kita bisa melihat bahwa dalam konteks tri-tunggal: Tuhan, manusia dan alamlah Gandhi meletakan kerangka filsafatnya, meski unsur Tuhan paling dominan, dalam arti bahwa alam sebagai landasan, manusia sebagai pelaku dan Tuhan sebagai pencapaian tertinggi dari tinggal landasnya manusia.

2. Antropologi-Metafisik Gandhi: Manusia Sebagai Pelaku
Mengenai keberadaan manusia, Gandhi menyatakan bahwa secara esensial manusia terdiri dari jasmani dan rohani. Selain itu manusia juga memiliki kesadaran, rasio, kehendak, emosi dan rasa keindahan. Dari keberadaannya itu, esensi aktivitas manusia di dunia menurut Gandhi adalah pembebasan. Pembebasan manusia merupakan satu langkah ke arah pembebasan seluruh umat manusia dari kedzaliman dan kekerasan dari orang lain dan dari diri mereka sendiri.

Gandhi juga menyatakan bahwa manusia tidak akan bebas jika ia tidak mengetahui bahwa dirinya dikuasai oleh kebutuhan, sebab kebebasannya selalu dimenangkan melalui upaya yang tidak pernah berhasil seluruhnya untuk melepaskan diri manusia dari kebutuhan hidup dan sampai penyatuan dengan hidup. Manusia memiliki kebebasan untuk mengarahkan dirinya menuju kepada penyatuan dengan hidup atau malah terjerumus dalam kejahatan. Setiap perbuatan memiliki karma-nya sendiri-sendiri. Dalam hal ini Gandhi menekankan pelaksanaan 6 kebajikan tertinggi yang dijiwai oleh Filsafat India yakni ahimsa, satyagraha, brachmacharya, asteya, aparigraha dan abhaya.

a. Ahimsa
Secara ekstrim, seperti dalam agama Jain, ahimsa dimaknai sebagai tidak membunuh atau melukai setiap bentuk kehidupan, tidak berpikir tentang pembunuhan atau melukai setiap bentuk kehidupan. Pemikiran ini juga menganjurkan orang awam untuk hanya memakan organisme yang tak bergerak seperti tumbuh-tumbuhan. Bagi Gandhi ahimsa memang tidak se-ekstrim itu, tetapi nilai-nilai untuk menahan diri dari setiap usaha membunuh dan melukai setiap bentuk kehidupannya sama.

Tindakan ahimsa menurut Gandhi tidak bersifat statis melainkan dinamis. Contohnya, jika ada anjing gila yang mengancam keselamatan masyarakat sedang berkeliaran, maka membunuh anjing gila tersebut juga dibolehkan karena bertujuan untuk menyelamatkan nyawa anggota masyarakat dan menghentikan siksaan yang dialami anjing gila itu sendiri. Ahimsa juga merupakan kebajikan tertinggi, sebab tanpanya kebenaran tidak akan dapat direalisasikan. 2 hal penting dari ahimsa yakni: kewajiban untuk memperlakukan realitas sebagaimana diri sendiri, dan ahimsa sebagai induk kebajikan yang lain.

b. Satyagraha
Satyagraha berarti kebenaran, dan kebenaran yang dapat direalisasikan dalam pikiran, perkataan dan perbuatanlah yang dapat disebut benar. Manusia dapat merealisasikan kebenaran hidup jika mampu mengendalikan 6 rintangan dalam etika India yakni, hawa nafsu, rasa marah, keserakahan, kebirahian, kesombongan dan kepalsuan. Ke-enam hal itu juga merupakan pengetahuan dasar bagi pecinta kebenaran.

Dalam arena politik, Gandhi menyatakan bahwa satyagraha mengambil 3 bentuk yakni; ketidakpatuhan sipil (civil disobedience), menolak kerja sama (non-cooperation) dan unjuk rasa (direct action). Dari berbagai bentuk tadi masih ada satyagraha dalam bentuk yang lain yakni puasa (mogok makan), yang diakui sebagai senjata pamungkas bagi seorang satyagrahi. Artinya, puasa baru dijalankan jika cara-cara di atas sudah tidak mempan lagi. Bagi Gandhi, puasa merupakan pendekatan yang efektif sebab puasa tidak hanya bertujuan untuk menyadarkan pihak lain agar bertobat dan kembali ke jalan yang benar, tetapi juga merupakan sarana pemurnian diri termasuk di dalamnya intensi-intensi pribadi.

c. Brachmacharya
Secara harafiah brachmacharya berarti tingkah laku yang menuntun manusia kepada Tuhan. Secara teknis berarti pengekangan diri terutama penguasaan dan pengendalian organ seks. Gandhi berpendapat bahwa Brachmachari (orang yang menjalankan brachmacharya) yang sempurna, sama sekali tidak memiliki dosa karena mereka dekat dengan Tuhan.

Brachmacharya mangandung beberapa ajaran antara lain: nafsu seks berakar dalam pikiran, praktek bracmacharya menghindari hal erotis, pembatasan aktivitas seks, diet, menghormati wanita, pengaturan kehidupan seks, perkawinan, keluarga serta mengontrol kelahiran.

d. Aparigraha
Secara ekstrim berarti memberikan harta milik pada orang lain. Tindakan ini merupakan pandangan tanpa milik. Meski demikian sebenarnya aparigraha bukan berarti orang tidak boleh memiliki harta duniawi, tetapi dalam kerangka pengabdian pada Tuhan dan pelayanan sesama manusia. Menurut Gandhi seluruh ordo sosial harus disusun kembali untuk membentuk masyarakat perwalian. Dalam masyarakat ini, kepemilikan dilihat sebagai titipan yakni apa yang aku miliki memungkinkan untuk kamu pergunakan; yakni alat produksi merupakan milik bersama. Implikasinya adalah tercukupinya kebutuhan dasar setiap manusia

Gandhi menyadari betul akibat fatal dari kemiskinan, tetapi ia juga menyadari akibat dari melimpahnya kekayaan. Keduanya memiliki dampak negatif yang sama. Pernyataan itu menunjukan bahwa bagi Gandhi manusia harus memiliki kesadaran terhadap dua dimensi hakikat manusia; yakni bahwa dimensi materialitas manusia tidak dapat dipisahkan dengan dimensi spiritualitasnya. Dalam aparigraha, Gandhi menegaskan bahwa kasih sayang yang sempurna hanya dapat direalisasikan melalui ajaran tanpa milik. Tubuh manusia adalah miliknya yang terakhir.

bersambung (2)

September 13, 2015 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: